14 September 2008

SILA PERTAMA PANCASILA

KETUHANAN YANG MAHA ESA ATAU
KEUANGAN YANG MAHA KUASA

Menurut Feuerbach. Inti kritik tersebut adalah bahwa bukan Tuhan yang menciptakan manusia, tetapi sebaliknya Tuhan adalah ciptaan angan-angan manusia. Agama hanyalah sebuah proyeksi manusia. Allah, malaikat, surga, neraka tidak mempunyai kenyataan pada dirinya sendiri, melainkan hanya merupakan gambar-gambar yang dibentuk oleh manusia tentang dirinya sendiri. Agama hanyalah sebuah epiphenomenon; ia tidak mempunyai realitas dan arti pada dirinya sendiri, melainkan menunjuk pada sebuah basis yaitu manusia. Menurut Karl Marx dengan ajaran Historical Materialismenya, seseorang menjalankan agama bukan karena ia mengimaninya, melainkan karena ia membutuhkannya dalam kehidupan sehari-hari, karena fungsinya. Niccolo Machiavelli, mengatakan bahwa pada zaman Romawi kuno, golongan bangsawan cepat sekali memanfaatkan agama untuk kepentingan sendiri
Banyak orang menyatakan diri beragama dan berTuhan. Nyatanya, garis-haluan politik yang menentukan nasib manusia secara langsung tidak berurusan dengan - atau apalagi mengacu pada - Tuhan. Acuannya yang nyata adalah Sang Kapital. Uang! "Tuhan" yang baru!
Sekularisme 
Keputusan-keputusan politik dengan acuan Sang Kapital merupakan akibat jelek sekularisme secara langsung, dampak buruk sekularisasi yang niscaya. Tapi, sekularisasi sendiri netral. Ia justru harus jadi pintu gerbang bagi peradaban, termasuk ilmu-ilmunya, semisal teologi, jika tak mau kehilangan peran. Dengan pintu gerbang ini, teologi akan bisa menjadi alat, ralat, atau penyeimbang peradaban. Dalam masyarakat yang makin sekularistik seperti semasa revolusi Industri dalam sejarah Barat itu, orang merasa dimerdekakan dari Yang Absolut. Merasa lega dan lepas dari aneka macam beban Yang Absolut.
Kelegaan yang justru keliru! Sebab, peradaban zaman kapanpun, tetap butuh "Yang Absolut" - sebagai pengikat. Penalarannya: di zaman kapanpun tak ada orang bisa hidup di pulau tersendiri. Masyarakat yang nyata selalu terbingkai dalam negara dan pemerintahan tertentu. Dan tiap negara selalu menciptakan "ideologi" atau apapun, agar dipatuhi masyarakatnya. Di negara-negara tertentu - sejatinya amat sedikit - agama dipandang cocok untuk ideologi negara. Tapi kebanyakan negara di bumi, tidak! "Ideologi" mereka adalah "agama" yang lain. Nah, itulah asal-usul "Agama" Ekonomi dengan Uang sebagai "Tuhan".
          Tempat ibadat "Agama" Ekonomi adalah pasar - pasar bebas - dan ini menjadi mutlak. Dogma dan ajaran-ajaran ekonomis menjadi tak bisa diganggu gugat. Pasar mewartakan keselamatan bagi yang percaya. "Agama" Ekonomi menjanjikan pangan, sandang, papan, pekerjaan, kesejahteraan, kebebasan dan keadilan bagi para pemeluknya. Iman pada pasar dan ekonomi adalah jalan keselamatan.

Mengisi kekosongan 
Jadi, yang terjadi selama ini - secara kasar sejak revolusi Industri di Eropa sampai zaman internet dewasa ini - apa yang disebut mekanisme ekonomi dunia dengan ujung "kejayaan" globalisasi itu, adalah ketepatan waktu dan cara jitu yang dilakukan ekonomi dalam mengantisipasi zaman. "Agama" Ekonomi telah mengisi kekosongan yang dibutuhkan zamannya. 

Begitu Tuhan dalam agama konvensional tak membawa dampak nyata, padahal masyarakat selalu butuh Yang Absolut untuk sarana pengikat, ia masuk! Kebutuhan itu dengan lihai disuplai pasar bebas kapitalisme global. Ia mewartakan keselamatan berupa pangan, sandang dan seterusnya. Dinamika "Agama Ekonomi" itu mencipta akumulasi laba dan modal - ujungnya uang. Ini akhirnya menjadi dogma dasar yang mutlak menentukan sifat dan perilaku manusia secara meluas.

Dengan tidak menafikan kekecualian di sana sini, pengaruh ini diwakili tiga gejala-dasar. Pertama, makin besar kelompok saudagar mereka menjadi kaum yang makin tamak. Kedua, oknum-oknum birokrasi negara makin kasar main serong dengan para cukong. Ketiga, frustrasi rakyat makin besar tanpa daya sebab tak bisa ikut beribadah dalam liturgi "Agama" Ekonomi.

Dinamika di atas terjadi akibat tuntutan pasar. Nah, itulah Sang Sabda! Ia jadi kekuatan mutlak yang baru (Sang Sabda lalu menjadi Sang Pasar). Faham "Agama" Ekonomi" itu bukan sekadar mimpi, wacana, proyeksi atau gagasan tetapi sudah langsung mewujud nyata dalam produksi-distribusi-konsumsi sebagai hasil perilaku manusia sendiri.

Rumusan di atas tidak sepenuhnya baru. Feuerbach dan Karl Marx pernah mewariskan hal senada. Menurut Feuerbach, manusia menciptakan Tuhannya dengan daya khayalnya sendiri. Dan menurut Karl Marx, agama masyarakat modern yang telah kehilangan Tuhan adalah Kapital. Memang dua acuan itu hanya dua dari jutaan jurus dalam rimba persilatan ekonomi yang telah, sedang dan masih bergulir. Namun dengan tidak meninggalkan dua acuan tsb, peta ekonomi yang terkembang di dunia dewasa ini - kini bergulir jadi mekanisme ekonomi (globalisasi) atau "Agama" Ekonomi - bisa kita baca dengan jernih.

Sosok abstrak 
Kejernihan itu mengantar kita pada degradasi kemanusiaan, pendangkalan martabat manusia, akibat kiprah dalam "agama" Ekonomi yang tak terkendali! Sebab, target mekanismenya adalah keuntungan - akumulasi uang dan modal - yang gilirannya akan menguasai mayoritas manusia secara niscaya. 

Target itu menuntut persembahan-persembahan non manusiawi, dalam arti, tuntutan akumulasi uang akan jadi norma yang mengalahkan nilai-nilai kemanusiaan sendiri. "Agama" Ekonomi telah menggiring manusia, sebagai SDM, menjadi sosok-sosok abstrak. Ini amat mencolok dalam proses produksi. Sebagai berikut:

Pertama, dalam proses produksi, manusia (pekerja yang nyata) diubah menjadi angka-angka laba, atau uang, yang abstrak. Pemerasan, pemanfaatan dan pemerasan terhadap manusia yang nyata, pada gilirannya menghasilkan keuntungan yang abstrak, terwujud dalam akumulasi uang dalam rekening-rekening bank. Ini terjadi akibat politik ekonomi rekayasa sejumlah raksasa bisnis, yang meski mungkin punya nama hebat, tapi hakikatnya mengabdi akumulasi uang dalam bentuk angka-angka yang abstrak di pasar bursa. Manipulasi nyata terhadap manusia nyata itu, dalam politik ekonomi, berubah bentuk menjadi aneka pelipur lara (yang nyata) seperti petuah, seminar, pidato-pidato dan sejenisnya yang bagus-bagus (tetapi hakikatnya adalah abstrak belaka).

Kedua, akumulasi laba alias uang telah jadi azas dan bertahta mengatasi martabat manusia. Jika atas nama laba sebuah pabrik harus tutup, tutuplah dia, tak peduli nasib para buruh. Sebaliknya jika arah dan sabda laba menyusun dogma perluasan proyek, diperluaslah dia, meski harus menggusur tanah sawah rumah rakyat. Itu semua terjadi karena permintaan atau tuntutan pasar. Dalam bahasa "Agama" Ekonomi, sebab mematuhi Sang Sabda!

Ketiga, pengabstrakan manusia terjadi akibat dialektika abstraksi dan konkretisasi dalam "Agama" Ekonomi. Uang adalah bentuk lain pekerja (nyata) yang diabstrakkan. Buruh adalah uang (abstrak, angka-angka) yang dikonkretkan. Dan, keuntungan (abstrak) adalah pemerasan (nyata) yang telah diabstrakkan.

Abstraksi dan konkretisasi itu makin dahsyat sebab politik ekonomi (abstrak) masih acapkali culas. Padahal, tanpa keculasan dan saat politik berjalan lurus atau "biasa", abstraksi dan konkretisasi tetap berlangsung. Tingkat kedahsyatan itu makin canggih seiring dengan kecanggihan zaman. Makin modern-canggih zaman, makin kompleks politik ekonomi, makin kabur dan makin bertopeng praktek homo homini lopus.

Pencipta Abstrak
Di era purba, segalanya lebih jelas dan lebih terbuka. Gejala atau wajah pemeras dan yang diperas, penindas dan sang tertindas, mewujud jelas dalam artikulasi dan pemaknaan. Sebab, dikotominya jelas. Yakni tuan tanah lawan petani, majikan-budak, ningrat-jelata. Pendeknya, lingkaran atas berhadapan dengan ligkaran bawah, si kuat berhadapan dengan si lemah. Seluruh kaum atas apapun sebutannya - tentu ada kekecualian - berdiri di satu kubu ialah kubu penindas, dan lingkaran rakyat jelata melata tersaruk-saruk di kubu lain sebagai alas kaki yang diperas-ditindas-dilecehkan.

Dalam dunia modern, keterbukaan artikulasi dan kejelasan makna itu memudar. Mutu pemerasan dan penindasan makin canggih, kabur, sampai pada gilirannya seolah-olah sudah bukan penindasan dan pemerasan. Sialnya di pihak tertindas, atau untungnya di pihak penindas, penindasan itu justru seolah-olah menjadi keniscayaan, bahkan kebutuhan di pihak si tertindas. Itulah yang terjadi dalam "Agama" Ekonomi tempat Sang Maharaja Uang bertahta.

Jadi, dalam rangka di atas, uang juga menjadi Pencipta Abstrak. Ia menyulap ketidakadilan yang nyata menjadi kebutuhan yang abstrak. Kebutuhan yang abstrak itu menjadi kenyataan yang hidup! Mengapa? Sebab dalam proses produksi-distribusi-konsumsi dalam "agama" Ekonomi, pemerasan dan ketidakadilan yang niscaya itu, tak bisa dicegah para kurban. Manipulasi dan ketidakadilan itu menjadi keniscayaan. Dan bahkan seolah-olah menjadi perwujudan kehendak bebas para kurban!
Alhasil, iman atas "Agama" Ekonomi adalah peradaban insan yang kesasar. Menuju ke mana?



2 komentar:

  1. Assalamualaikum...
    Salam kenal juga dari saya. Terima kasih telah berkunkung ke blog saya http://lilisindrawati.blogspot.com
    Saya menunggu kunjungan Anda berikutnya, barangkali ada manfaat yang bisa kita petik.

    BalasHapus
  2. sugeng rahayu,
    sila 1,. percaya dan yakin Ia hadir. walau tak tahu di mana keberadaan pasti, karena itu bukankah akhirnya menjadi kepercayaan dan keyakinan. suatu agama. a-gama tiada aturan, krama.salam

    BalasHapus