<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-1886692434588734437</id><updated>2012-02-16T01:49:39.153-08:00</updated><title type='text'>Mata Hati</title><subtitle type='html'>Mata yang berhati dan hati yang bermata</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://matahati-hatibermata.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1886692434588734437/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://matahati-hatibermata.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Ahmad Junaidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00999491777416961806</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/_QuLB7CyCzAw/TGeKqw22b2I/AAAAAAAAAJk/z6-mhpqIZ8U/S220/IMG000020.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>52</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1886692434588734437.post-2800770984362740535</id><published>2012-01-23T22:15:00.001-08:00</published><updated>2012-01-28T20:10:04.236-08:00</updated><title type='text'>POLA KEHIDUPAN</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-SP0g8-gcRLo/Tx5M5TOy3BI/AAAAAAAAANs/5d1GNBVPSgA/s1600/emptiness.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 225px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-SP0g8-gcRLo/Tx5M5TOy3BI/AAAAAAAAANs/5d1GNBVPSgA/s320/emptiness.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5701078725596208146" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CXPMINI%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face  {font-family:Calibri;  panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4;  mso-font-charset:0;  mso-generic-font-family:swiss;  mso-font-pitch:variable;  mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal  {mso-style-parent:"";  margin:0cm;  margin-bottom:.0001pt;  text-align:justify;  text-indent:36.0pt;  line-height:150%;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:11.0pt;  font-family:Calibri;  mso-fareast-font-family:Calibri;  mso-bidi-font-family:Arial;} @page Section1  {size:612.0pt 792.0pt;  margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt;  mso-header-margin:36.0pt;  mso-footer-margin:36.0pt;  mso-paper-source:0;} div.Section1  {page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable  {mso-style-name:"Table Normal";  mso-tstyle-rowband-size:0;  mso-tstyle-colband-size:0;  mso-style-noshow:yes;  mso-style-parent:"";  mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;  mso-para-margin:0cm;  mso-para-margin-bottom:.0001pt;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:10.0pt;  font-family:"Times New Roman";  mso-ansi-language:#0400;  mso-fareast-language:#0400;  mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27.5pt;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12;"   lang="FI"&gt;Dalam kehidupan individu terdapat kemungkinan adanya pola-pola partikular yang akan memberi dampak lain. Pola-pola partikular tersebut, misalnya, hal-hal yang kita pilih dan kita lakukan atau hal-hal yang tidak kita pilih namun tetap saja terjadi. Saya yakin, sebagian besar orang mengira bahwa mereka harus memilih satu pola tertentu dan menerapkannya ke dalam kehidupan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27.5pt;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12;"   lang="FI"&gt;”Karier” sering dipandang sebagai salah satu bentuk pola tersebut, walaupun sukses atau tidaknya karier adalah masalah lain. Kesuksesan barangkali terjadi akibat kematangan rencana, kelihaian mengambil kesempatan –pendek kata, kesuksesan sepenuhnya adalah persoalan kesempatan. Seseorang merasa sukses dalam hal keduniaan (harta melimpah, jabatan terhormat, rumah bagus, kendaraan mahal, gelar, popularitas, hasil karya, monumen diri, kehormatan, atau beristeri lebih dari satu) berarti selama hidupnya atau bisa dikatakan, dia menghabiskan umurnya, tenaganya bahkan kesehatannya hanya untuk merencanakan, meraih kesempatan tersebut. Bahkan melakukan ibadah dan berdoa kepada Tuhan supaya dia diberi kesuksesan dunia itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27.5pt;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12;"   lang="FI"&gt;Dalam setiap peristiwa, pola-pola tadi selalu dianggap sebagai ”sumber pujian”. Seorang dikatakan sukses jika mencapai hal-hal di atas, meskipun pada kenyataannya moralnya harus dipertanyakan. Sebaliknya, selamanya tidak ada orang baik yang bisa dikatakan sukses kalau dia miskin atau bodoh.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27.5pt;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12;"   lang="FI"&gt;Tapi bukan itu yang penting, hidup bukanlah sekedar pencapaian ”sukses” dan ”tidak sukses”, apalagi tolok ukurnya adalah hal-hal yang bersifat duniawi. Pendirian yang ingin saya tekankan dalam tulisan ini adalah bahwa kehidupan ini dibatasi oleh kesempatan baik dan kesempatan buruk –sesuatu yang tidak kita rencanakan, perhatikan atau pahami.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27.5pt;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12;"   lang="FI"&gt;Tujuan saya mengatakan adanya kemungkinan sebuah pola dalam kehidupan individual adalah untuk melibatkan aspek-aspek yang tidak dapat dipilih ini –aspek-aspek yang bersifat &lt;i&gt;given&lt;/i&gt; (diberikan). Ketika pola-pola tertentu telah ditemukan, itu berarti pola tersebut sebetulnya dapat dijadikan sebagai tuntunan dan bagian dari ”makna kehidupan”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27.5pt;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12;"   lang="FI"&gt;Pola semacam ini, dilihat dari sudut pandang logika, mengandaikan bahwa manusia bisa bermakna hanya bagi dirinya sendiri dan orang lain memiliki nilai bagi orang lain dalam konteks hidup bersama. Akan tetapi, kita juga bisa membayangkan kehidupan ini tanpa pola dan sebagian kita tentu pernah mengalami tahap hidup seperti ini. Tahapan di mana warna dan konfigurasi hidup sama sekali mengalami perubahan dan mulai terlihat berbeda dari sebelumnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27.5pt;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12;"   lang="FI"&gt;Saya mengemukakan keterangan di atas sebagai salah satu kenyataan hidup, bahwa kita bisa terus dan terus mencari pola tertentu hingga menemukan sebuah pola yang sesuai. Pola yang sesuai ini adalah pola yang akan memainkan peran penting dalam tataran praktis.  Sampai pada titik tertentu, pola tersebut akan mampu menjawab pertanyaan, Bagaimana saya harus menjalani hidup ini? Apa yang harus saya lakukan dengan hidup saya ini?&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27.5pt;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12;"   lang="FI"&gt;”Mencari sebuah pola” dan ”menerima sebuah pola” harus dipahami dengan cara dan konteksnya masing-masing. Dengan ungkapan yang pertama, saya tidak melibatkan pengertian ”pilihan secara total”, yang ingin saya ketengahkan adalah pengertian tentang menerima kenyataan-kenyataan hidup ini apa adanya (&lt;i&gt;given&lt;/i&gt;). Namun tentu saja ada situasi-situasi yang mengharuskan kita melakukan pilihan, meskipun dalam ruang gerak yang sangat sempit.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27.5pt;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12;"   lang="FI"&gt;Saya telah mencoba menjelaskan pendapat bahwa kehidupan ini tidak hanya ”melakukan” (&lt;i&gt;doing&lt;/i&gt;) tapi juga ”memahami” (&lt;i&gt;understanding&lt;/i&gt;). Menentukan pola-pola tertentu menyiratkan aspek &lt;i&gt;quite &lt;/i&gt;(kepastian) di dalamnya, yang bersifat sangat tidak idealistik. Saya berharap bisa menemukan satu pola kehidupan yang sesuai sehingga saya bisa menyesuaikan diri dengannya bukan karena ingin mendapatkan pujian atau imbalan.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27.5pt;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12;"   lang="FI"&gt;Dalam melaksanakan pola pilihan, tidak berarti saya menyepelekan pola-pola lain, hanya saja saya memandang pola lain tidak sebaik pola yang saya yakini. Berarti dalam hal ini saya telah membuat putusan praktis yang hanya terasa sempurna bagi diri saya sendiri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27.5pt;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12;"   lang="FI"&gt;Saya sedang membicarakan kemungkinan kehidupan individual yang memiliki polanya sendiri. Tapi untuk menyetujui pendapat ini kita harus memiliki prinsip-prinsip umum evaluasi. Kita bisa saja berharap orang lain mau menerima prinsip-prinsip tertentu, namun kita tidak bisa memaksa atau mengarahkan orang lain menerima pola-pola tertentu untuk kehidupan mereka. Sebabnya adalah karena pola-pola individual ini melibatkan unsur-unsur yang &lt;i&gt;given&lt;/i&gt;, yang tidak bisa dipilih. Sama halnya dengan dua orang yang memiliki penilaian sama tentang sebuah benda, tapi dalam hidup mereka masing-masing, benda tersebut pasti menempati tempat berbeda.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27.5pt;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12;"   lang="FI"&gt;Saat saya bicara tentang ”menerima pola-pola tertentu”, yang dimaksud bukanlah memiliki sebuah pola, bahwa segala sesuatu harus saya lakukan berdasarkan pola tersebut. Ini terjadi karena pola-pola tersebut mencakup unsur-unsur ”yang &lt;i&gt;given&lt;/i&gt;” yang tidak bisa saya pilih dan pola-pola tersebut bisa saja berubah tanpa keinginan saya. Misalnya, saya tentu akan bertambah tua, dengan begitu waktu yang dihabiskan akan makin banyak dan pilihan-pilihan yang harus dihadapi juga semakin bertambah. Sekarang setelah memiliki hubungan dengan orang lain, mereka mungkin akan mati, pindah atau tidak termasuk lagi ke dalam masyarakat tempat saya tinggal. Sementara kehidupan terus berjalan, pola yang saya pakai membuat saya kebal terhadap hal-hal yang tak terduga dalam kehidupan, baik hal yang baik maupun yang buruk. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27.5pt;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12;"   lang="FI"&gt;Pola-pola inilah yang saya pahami ketika beberapa waktu lalu membaca kitab suci: &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 1cm 0.0001pt 27.5pt; text-indent: 0cm;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12;"   lang="FI"&gt;”Dia (Musa) menjawab, ”Tuhan kami ialah (Tuhan) yang memberikan bentuk kejadian kepada segala sesuatu kemudian memberinya petunjuk”. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0cm;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12;"   lang="FI"&gt;Dalam arti Tuhan memberikan akal, insting (naluri) dan kodrat alamiah untuk kelanjutan hidup masing-masing makhluk. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27.5pt;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12;"   lang="FI"&gt;Pada tingkatan selanjutnya saya juga membaca: &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 1cm 0.0001pt 27.5pt; text-indent: 0cm;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;”Katakanlah (Muhammad), ”Setiap orang berbuat sesuai dengan pembawaannya masing-masing”. &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12;"   lang="FI"&gt;Maka Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya”. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1886692434588734437-2800770984362740535?l=matahati-hatibermata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://matahati-hatibermata.blogspot.com/feeds/2800770984362740535/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://matahati-hatibermata.blogspot.com/2012/01/pola-kehidupan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1886692434588734437/posts/default/2800770984362740535'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1886692434588734437/posts/default/2800770984362740535'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://matahati-hatibermata.blogspot.com/2012/01/pola-kehidupan.html' title='POLA KEHIDUPAN'/><author><name>Ahmad Junaidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00999491777416961806</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/_QuLB7CyCzAw/TGeKqw22b2I/AAAAAAAAAJk/z6-mhpqIZ8U/S220/IMG000020.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-SP0g8-gcRLo/Tx5M5TOy3BI/AAAAAAAAANs/5d1GNBVPSgA/s72-c/emptiness.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1886692434588734437.post-4696620604078993615</id><published>2012-01-23T22:12:00.000-08:00</published><updated>2012-01-24T00:23:16.765-08:00</updated><title type='text'>TAMAN JIWA</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-u9IyAVT7CII/Tx5MOixxDFI/AAAAAAAAANg/9kcNSrCvy0k/s1600/alo.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 202px; height: 320px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-u9IyAVT7CII/Tx5MOixxDFI/AAAAAAAAANg/9kcNSrCvy0k/s320/alo.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5701077991035046994" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CXPMINI%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face  {font-family:Calibri;  panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4;  mso-font-charset:0;  mso-generic-font-family:swiss;  mso-font-pitch:variable;  mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal  {mso-style-parent:"";  margin:0cm;  margin-bottom:.0001pt;  text-align:justify;  text-indent:36.0pt;  line-height:150%;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:11.0pt;  font-family:Calibri;  mso-fareast-font-family:Calibri;  mso-bidi-font-family:Arial;} @page Section1  {size:21.0cm 841.95pt;  margin:36.0pt 36.0pt 36.0pt 36.0pt;  mso-header-margin:36.0pt;  mso-footer-margin:36.0pt;  mso-paper-source:0;} div.Section1  {page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable  {mso-style-name:"Table Normal";  mso-tstyle-rowband-size:0;  mso-tstyle-colband-size:0;  mso-style-noshow:yes;  mso-style-parent:"";  mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;  mso-para-margin:0cm;  mso-para-margin-bottom:.0001pt;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:10.0pt;  font-family:"Times New Roman";  mso-ansi-language:#0400;  mso-fareast-language:#0400;  mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27.5pt;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12;"   lang="FI"&gt;Selain kesenangan yang muncul dari nafsu-nafsu yang melekat dengan penggunaan tubuh (&lt;i&gt;epithumia&lt;/i&gt;) seperti makan, minum dan seks. Ada juga ”kesenangan-kesenangan lain”, yaitu kesenangan murni jiwa. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Ada perbedaan antara kesenangan murni jiwa dengan kesenangan saat menggunakan tubuh sebagai instrumen.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27.5pt;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12;"   lang="FI"&gt;Bila orang hidup melulu mengikuti nafsu tubuh, maka kenikmatan baginya adalah menumpuk harta benda, mendapatkan keuntungan material, mendapat kepuasan seksual dan semacamnya. Mengapa? Karena dengan harta benda ia bisa memenuhi hasratnya akan makan, minum, seks (menikah lagi) dan apa saja yang sejenis dengan itu.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27.5pt;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12;"   lang="FI"&gt;Orang yang hidup mengikuti hasrat harga diri ( &lt;i&gt;thumos&lt;/i&gt;), kenikmatan tertinggi adalah ketika ambisi-ambisinya tercapai dan mendapatkan penghargaan serta nama besar. Sementara orang yang mencintai kebijaksanaan dan kebenaran-kebenaran sejati, kenikmatan baginya tidak ditemukan dalam keuntungan material, bukan juga pada soal harga diri dan reputasi. Kenikmatan pencinta kebijaksanaan adalah pengetahuan akan hal-hal yang dalam dirinya sendiri benar, baik dan indah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27.5pt;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12;"   lang="FI"&gt;Dari berbagai macam kenikmatan yang ada, ada kenikmatan yang stabil dan murni yang hanya muncul dari aktifitas berpikir –yaitu saat intelek mengkontemplasikan yang &lt;i&gt;intelligible&lt;/i&gt; atau &lt;i&gt;idea&lt;/i&gt;. Kenikmatan ini berbeda dengan kenikmatan yang diperoleh binatang yang hanya melihat ke bawah, menunduk dan sekedar lekat pada hal-hal yang selalu berubah. Tunduk pada nafsu-nafsu makan, minum atau seks yang tak pernah puas, padahal semua itu semu, sehingga orang seperti kehausan untuk selalu mencari yang sejati dalam kesemuan, dengan akibat tak pernah puas, semakin terbenam dalam lingkaran tanpa pernah bisa melongok ke atas (terjebak dalam fatamorgana).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27.5pt;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12;"   lang="FI"&gt;Hidup yang baik dan membahagiakan selalu diiringi kenikmatan. Namun bukan sembarang kenikmatan yang bersifat tak terbatas dan selalu meminta lagi dan lagi. Melainkan sebuah kenikmatan  yang sudah diberi batas oleh rasio.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27.5pt;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12;"   lang="FI"&gt;Ketika menganalisis  sebuah fenomena muncullah rasa nikmat (kesenangan, &lt;i&gt;pleasure&lt;/i&gt;, &lt;i&gt;hedone&lt;/i&gt;). Ada dua macam kenikmatan sebagai efek terpenuhinya suatu kebutuhan yang berkenaan dengan tubuh. Saat perut terisi, hal yang bersifat fisik ini ditemani oleh sebuah efek, rasa nikmat. Sebaliknya, rasa sakit juga bukan karena kosongnya perut, melainkan suatu efek yang menyertai perut yang kosong. Namun, kedua, ada jenis kenikmatan lain yang tidak tergantung pada perubahan-perubahan fisiologis, yaitu rasa nikmat dan rasa sakit yang berkenaan dengan jiwa. Terlepas dari soal-soal fisiologis, saat jiwa cenderung pada sesuatu, orang bisa membayangkan dan merasakan nikmat atau sakit disitu. Jadi, tanpa adanya hal-hal yang bersifat fisis, kita bisa pula merasakan sakit atau nikmat. Dengan demikian, kenikmatan sebenarnya lebih berkaitan dengan penilaian jiwa manusia daripada fenomenon yang melulu fisik.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27.5pt;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12;"   lang="FI"&gt;Dari situ, kenikmatan yang murni adalah semacam efek yang menyertai saat kita mempersepsi objek yang sejati (&lt;i&gt;intelligible&lt;/i&gt;). Artinya, aktifitas rasional yang mengkontemplasikan objek sejati dengan sendirinya membawa kenikmatan.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27.5pt;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12;"   lang="FI"&gt;Di titik ini, munculnya kenikmatan sebenarnya tidak lagi tergantung pada apa yang dirasakan jiwa, melainkan dari hal yang dikontemplasikan itu sendiri. Hal yang sejati (&lt;i&gt;idea&lt;/i&gt;, keadilan, keindahan) dengan sendirinya membuat manusia senang, nikmat, puas. Sebaliknya, hal yang jelek dapat membuat jiwa sakit.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27.5pt;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12;"   lang="FI"&gt;Sejauh jiwa menjadi dorongan yang hadir di tiap tataran diri manusia, pemuasan atas dorongan itu menyertakan kenikmatan pada tiap tingkatan manifestasinya. Namun secara keseluruhan, kenikmatan sejati akan dirasakan manakala ada harmoni dalam ”bagian” jiwa manusia, manakala rasio menjadi &lt;i&gt;guide&lt;/i&gt; bagi kenikmatan-kenikmatan terukur di tiap bagiannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27.5pt;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12;"   lang="FI"&gt;Jiwa yang sudah tercerahkan akan mudah untuk mencerap atau mencandra sesuatu di balik kenyataan, fenomena di balik yang &lt;i&gt;maujud&lt;/i&gt;. Mencari substansi atau memaknai hakekat dari setiap kejadian dan peristiwa. Di samping memfungsikan mata fisik, seseorang juga dapat memfungsikan mata hatinya (&lt;i&gt;Al-Bashiroh&lt;/i&gt;) dengan baik. Dunia makna adalah tempat yang paling disukainya, lebih dari dunia nyata tempat di mana dia hanya sekedar menjalankan kehidupannya sebagai manusia bersama manusia-manusia yang lain. Dia sibuk dengan permasalahan sebab akibat, kontinuitas, keabadian atau tata tertib alam semesta dan segala yang berjalan di dalamnya. Menciptakan sebuah taman jiwa dalam dirinya, bergembira dalam dunia ruhaniah. Semua aktifitas itu dia jaga dengan baik sampai dia bertemu dengan orang-orang bisa diajaknya berbincang-bincang. Karena bincang-bincang yang menyenangkan juga memberikan kebahagiaan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1886692434588734437-4696620604078993615?l=matahati-hatibermata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://matahati-hatibermata.blogspot.com/feeds/4696620604078993615/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://matahati-hatibermata.blogspot.com/2012/01/taman-jiwa.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1886692434588734437/posts/default/4696620604078993615'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1886692434588734437/posts/default/4696620604078993615'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://matahati-hatibermata.blogspot.com/2012/01/taman-jiwa.html' title='TAMAN JIWA'/><author><name>Ahmad Junaidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00999491777416961806</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/_QuLB7CyCzAw/TGeKqw22b2I/AAAAAAAAAJk/z6-mhpqIZ8U/S220/IMG000020.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-u9IyAVT7CII/Tx5MOixxDFI/AAAAAAAAANg/9kcNSrCvy0k/s72-c/alo.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1886692434588734437.post-3122548365256594595</id><published>2012-01-02T19:27:00.000-08:00</published><updated>2012-01-15T01:38:38.241-08:00</updated><title type='text'>MENULIS MEMANG MENYEMBUHKAN</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-Sh2HqmicImc/TwJ2bNswosI/AAAAAAAAANU/hmV1UHFKdJw/s1600/menulis.jpeg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 259px; height: 194px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-Sh2HqmicImc/TwJ2bNswosI/AAAAAAAAANU/hmV1UHFKdJw/s320/menulis.jpeg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5693243088855671490" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CXPMINI%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face  {font-family:Calibri;  panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4;  mso-font-charset:0;  mso-generic-font-family:swiss;  mso-font-pitch:variable;  mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal  {mso-style-parent:"";  margin:0cm;  margin-bottom:.0001pt;  text-align:justify;  text-indent:36.0pt;  line-height:150%;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:11.0pt;  font-family:Calibri;  mso-fareast-font-family:Calibri;  mso-bidi-font-family:Arial;} @page Section1  {size:612.0pt 792.0pt;  margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt;  mso-header-margin:36.0pt;  mso-footer-margin:36.0pt;  mso-paper-source:0;} div.Section1  {page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable  {mso-style-name:"Table Normal";  mso-tstyle-rowband-size:0;  mso-tstyle-colband-size:0;  mso-style-noshow:yes;  mso-style-parent:"";  mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;  mso-para-margin:0cm;  mso-para-margin-bottom:.0001pt;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:10.0pt;  font-family:"Times New Roman";  mso-ansi-language:#0400;  mso-fareast-language:#0400;  mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27.5pt;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12;"   lang="FI"&gt;Kadang kita mengalami kebosanan dalam hidup. Kebosanan itu mungkin muncul ketika kita berada dalam lingkungan yang membosankan atau bertemu dengan orang-orang yang membosankan. Bisa juga karena terjebak dalam rutinitas pekerjaan yang kering dari sentuhan-sentuhan spiritual. Kita tiba-tiba terjebak dalam kebosanan yang akut tanpa tahu dari mana datangnya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27.5pt;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12;"   lang="FI"&gt;Untuk menghilangkan kebosanan dalam hidup (bukan bosan hidup) kita bisa memaknai hidup dengan cara berbeda dari yang selama ini kita lakukan. Cara pemaknaan kita selama ini banyak dibentuk oleh orang dan lingkungan sekitar. Tugas hidup kitalah untuk melepaskan diri dari penjara pemaknaan seperti itu. Bisa dengan cara ’membaca’ kisah orang lain dalam memaknai hidupnya atau banyak membaca kalimat-kalimat dan ungkapan-ungkapan yang dapat mengantarkan kita pada penemuan makna baru dalam kehidupan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27.5pt;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12;"   lang="FI"&gt;Menulis itu menyembuhkan, begitu kata orang. Kebosanan dan kegalauan hidup bisa kita tuangkan dalam tulisan untuk kemudian kita baca kembali. Menulis seperti ini akan memaksa kita berpikir dan mencari cara untuk menemukan jalan keluarnya. Menulis dapat membantu kita melampiaskan emosi-emosi ini di atas kertas ketimbang menahannya. Menulis merupakan cara aman melampiaskan perasaan, menelaahnya dan mulai mengatasinya. Mengubah sesuatu yang penting dan berarti bagi kita ke dalam kata-kata, kemudian membacanya akan sangat mengasyikkan, menggairahkan dan memberikan perasaan kreatif. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27.5pt;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12;"   lang="FI"&gt;Menulis dapat memungkinkan kita mengungkapkan aspek-aspek diri yang tidak selalu muncul dalam komunikasi langsung. Dibandingkan kita yang bicara, diri kita yang menulis memiliki lebih banyak waktu untuk mencerminkan hal yang kita yakini, hal yang ingin kita katakan dan alasan kita berpikir. Mungkin dari situ kita dapat mengetahui mimpi terbesar kita (bukan mimpi besar menurut orang lain atau yang kita sangka sebagai mimpi besar, melainkan mimpi yang sungguh-sungguh menggugah jiwa kita) yang bisa kita ketahui cara mencapainya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27.5pt;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12;"   lang="FI"&gt;Kamar baca sayapun, di samping buku-buku, rak-raknya berisi juga catatan-catatan harian. Saya menulis apa saja ketika hati dihinggapi rasa bosan. Buku-buku yang saya baca pinggirnya tidak lepas dari coretan-coretan sebagai usaha untuk berdialog dengan penulisnya. Kesibukan apapun tidak bisa menghentikan saya untuk melakukan hal-hal seperti itu. Karena sekarang, menulis telah menjadi penghibur saya. Menyelamatkan diri dari penyakit kebosanan dalam hidup. Bagaimana dengan Anda?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1886692434588734437-3122548365256594595?l=matahati-hatibermata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://matahati-hatibermata.blogspot.com/feeds/3122548365256594595/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://matahati-hatibermata.blogspot.com/2012/01/menulis-memang-menyembuhkan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1886692434588734437/posts/default/3122548365256594595'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1886692434588734437/posts/default/3122548365256594595'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://matahati-hatibermata.blogspot.com/2012/01/menulis-memang-menyembuhkan.html' title='MENULIS MEMANG MENYEMBUHKAN'/><author><name>Ahmad Junaidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00999491777416961806</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/_QuLB7CyCzAw/TGeKqw22b2I/AAAAAAAAAJk/z6-mhpqIZ8U/S220/IMG000020.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-Sh2HqmicImc/TwJ2bNswosI/AAAAAAAAANU/hmV1UHFKdJw/s72-c/menulis.jpeg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1886692434588734437.post-3566466513274882992</id><published>2012-01-02T16:13:00.000-08:00</published><updated>2012-01-02T16:35:37.905-08:00</updated><title type='text'>MASYARAKAT: LABORATORIUM SOSIOLOG</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-CLev-HuPD50/TwJKRIQ4jYI/AAAAAAAAANI/RWSpZsJRrmw/s1600/IMG_7971.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 240px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-CLev-HuPD50/TwJKRIQ4jYI/AAAAAAAAANI/RWSpZsJRrmw/s320/IMG_7971.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5693194537086258562" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CXPMINI%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face  {font-family:Calibri;  panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4;  mso-font-charset:0;  mso-generic-font-family:swiss;  mso-font-pitch:variable;  mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal  {mso-style-parent:"";  margin:0cm;  margin-bottom:.0001pt;  text-align:justify;  text-indent:36.0pt;  line-height:150%;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:11.0pt;  font-family:Calibri;  mso-fareast-font-family:Calibri;  mso-bidi-font-family:Arial;} @page Section1  {size:612.0pt 792.0pt;  margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt;  mso-header-margin:36.0pt;  mso-footer-margin:36.0pt;  mso-paper-source:0;} div.Section1  {page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable  {mso-style-name:"Table Normal";  mso-tstyle-rowband-size:0;  mso-tstyle-colband-size:0;  mso-style-noshow:yes;  mso-style-parent:"";  mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;  mso-para-margin:0cm;  mso-para-margin-bottom:.0001pt;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:10.0pt;  font-family:"Times New Roman";  mso-ansi-language:#0400;  mso-fareast-language:#0400;  mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27.5pt;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;Sebagai sosiolog, di samping berteori (belajar dan mengajar di dalam ruang 6 x 6 meter) seseorang harus banyak menelorkan berbagai karya ilmiah dalam bentuk makalah, artikel di jurnal, buku, tesis ataupun disertasi. Update keilmuan dengan cara membaca buku-buku terbaru dan mengikuti perkembangan teori-teori lewat jurnal-jurnal ilmiah baik secara online maupun offline harus selalu dilakukan. Namun ada satu hal yang juga tidak kalah penting bagi seorang sosiolog, yaitu terjun dan hidup dalam sebuah komunitas masyarakat untuk menguji teori-teori yang sudah dipelajarinya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27.5pt;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;Dengan begitu, seseorang di samping memahami teori-teori sosial secara teoretis, dapat mengetahui cara berinteraksi dengan masyarakat, baik dalam kelompok kecil maupun kelompok besar atau memahami pranata-pranata sosial sehingga memudahkannya untuk hidup dalam sebuah komunitas. Dalam kaitannya dengan pengalaman nilai-nilai agama, pemahaman terhadap ilmu sosial membantu seorang sosiolog untuk memperkuat nilai-nilai agama dalam pranata sosial keagamaan, bagaimana memahami nilai-nilai agama dalam menjalani hidup dan kehidupan sehari-hari warga masyarakat. Pemahaman terhadap ilmu sosial juga bisa digunakan sebagai perangkat untuk melakukan perubahan sosial dari praktik-praktik sosial yang bertentangan dengan nilai-nilai agama atau tradisi luhur mengarah pada kesesuaian terhadap nilai-nilai agama dan etika yang baik.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27.5pt;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;Perubahan sosial sebagaimana di atas, tidak bisa dijalankan sebagai suatu prakarsa yang murni ‘eksternal’, yakni terasing dari sejarah, kebudayaan atau praktik sosial sebuah komunitas masyarakat. Sebaliknya, perubahan sosial dan transformasi budaya harus berakar dan berdasar pada budaya komunitas masyarakat itu sendiri agar perubahan berlangsung absah, koheren dan berkelanjutan. Pada gilirannya, hal ini menunjukkan peran yang dimainkan oleh komunitas-komunitas dan anggota-anggotanya sebagai partisipan, subjek dan aktor perubahan sosial, atau dengan kata lain, keterlibatan yang intens peran sosiolog sebagai &lt;i&gt;agent of change&lt;/i&gt; dalam proses itu. Pengoptimalan pranata-pranata sosial yang sudah ada, fungsi tempat-tempat ibadah, pengembangan lembaga pendidikan baik formal, non formal maupun informal disertai interaksi sosial yang baik dan rendah hati oleh &lt;i&gt;agent of change&lt;/i&gt; diharapkan dapat memuluskan perubahan sosial yang sudah terkonsep dengan baik sesuai dengan visi, misi, target, tujuan dan program-program yang realistis dan logis.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1886692434588734437-3566466513274882992?l=matahati-hatibermata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://matahati-hatibermata.blogspot.com/feeds/3566466513274882992/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://matahati-hatibermata.blogspot.com/2012/01/masyarakat-laboratorium-sosiolog.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1886692434588734437/posts/default/3566466513274882992'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1886692434588734437/posts/default/3566466513274882992'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://matahati-hatibermata.blogspot.com/2012/01/masyarakat-laboratorium-sosiolog.html' title='MASYARAKAT: LABORATORIUM SOSIOLOG'/><author><name>Ahmad Junaidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00999491777416961806</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/_QuLB7CyCzAw/TGeKqw22b2I/AAAAAAAAAJk/z6-mhpqIZ8U/S220/IMG000020.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-CLev-HuPD50/TwJKRIQ4jYI/AAAAAAAAANI/RWSpZsJRrmw/s72-c/IMG_7971.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1886692434588734437.post-6870778178263943661</id><published>2011-12-25T05:49:00.000-08:00</published><updated>2011-12-25T05:51:54.559-08:00</updated><title type='text'>JIKA KAMU MERASA…</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-9kxPN8UPOnw/TvcqZtBerxI/AAAAAAAAAM8/WOBeeaQ0KN0/s1600/merenung.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 214px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-9kxPN8UPOnw/TvcqZtBerxI/AAAAAAAAAM8/WOBeeaQ0KN0/s320/merenung.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5690063275276807954" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CXPMINI%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face  {font-family:Calibri;  panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4;  mso-font-charset:0;  mso-generic-font-family:swiss;  mso-font-pitch:variable;  mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal  {mso-style-parent:"";  margin:0cm;  margin-bottom:.0001pt;  text-align:justify;  text-indent:36.0pt;  line-height:150%;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:11.0pt;  font-family:Calibri;  mso-fareast-font-family:Calibri;  mso-bidi-font-family:Arial;} @page Section1  {size:612.0pt 792.0pt;  margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt;  mso-header-margin:36.0pt;  mso-footer-margin:36.0pt;  mso-paper-source:0;} div.Section1  {page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable  {mso-style-name:"Table Normal";  mso-tstyle-rowband-size:0;  mso-tstyle-colband-size:0;  mso-style-noshow:yes;  mso-style-parent:"";  mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;  mso-para-margin:0cm;  mso-para-margin-bottom:.0001pt;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:10.0pt;  font-family:"Times New Roman";  mso-ansi-language:#0400;  mso-fareast-language:#0400;  mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27.5pt;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;Jika kamu merasa bodoh maka berbahagialah karena hal itu akan menghindarkan dirimu dari kesombongan intelektual dan akan mendorongmu untuk semakin tekun mencari ke dalam untuk menemukan pencerahan spiritual yang sulit dicapai oleh seseorang yang hanya mengutamakan intelektualitas permukaan demi popularitas.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27.5pt;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;Jika kamu merasa miskin maka berbahagialah karena dalam kondisi seperti itu berarti Allah menghendakimu dalam kebaikan. Karena Allah lebih tahu jika kamu menjadi orang kaya kamu akan menjadi orang yang sombong, pelit, kikir dan suka menghardik fakir miskin dan anak yatim. Hal ini juga akan menuntunmu untuk merenung bahwa kekayaan atau kehidupan dunia bukanlah hak milik manusia, akan tetapi titipan dan sesuatu yang tidak seharusnya dibanggakan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27.5pt;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;Jika kamu merasa menderita maka berbahagialah karena hal itu akan membawamu pada sesuatu yang terdalam tentang diri manusia dan kemanusiaan. Rasa empati pada penderitaan sesama akan muncul di hatimu, karena tidak ada seorangpun yang akan mengerti penderitaan orang lain kecuali dia pernah menderita.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1886692434588734437-6870778178263943661?l=matahati-hatibermata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://matahati-hatibermata.blogspot.com/feeds/6870778178263943661/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://matahati-hatibermata.blogspot.com/2011/12/jika-kamu-merasa.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1886692434588734437/posts/default/6870778178263943661'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1886692434588734437/posts/default/6870778178263943661'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://matahati-hatibermata.blogspot.com/2011/12/jika-kamu-merasa.html' title='JIKA KAMU MERASA…'/><author><name>Ahmad Junaidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00999491777416961806</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/_QuLB7CyCzAw/TGeKqw22b2I/AAAAAAAAAJk/z6-mhpqIZ8U/S220/IMG000020.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-9kxPN8UPOnw/TvcqZtBerxI/AAAAAAAAAM8/WOBeeaQ0KN0/s72-c/merenung.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1886692434588734437.post-2669236117398824080</id><published>2011-12-25T05:46:00.000-08:00</published><updated>2011-12-25T05:48:51.002-08:00</updated><title type='text'>SEBAB, MAKSUD DAN TUJUAN AKHIR</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-rWoAQ8Twzg4/TvcpsLcnPPI/AAAAAAAAAMw/44FAJEOLhEI/s1600/merenung2.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 238px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-rWoAQ8Twzg4/TvcpsLcnPPI/AAAAAAAAAMw/44FAJEOLhEI/s320/merenung2.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5690062493169695986" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CXPMINI%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="place"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="City"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !mso]&gt;&lt;object classid="clsid:38481807-CA0E-42D2-BF39-B33AF135CC4D" id="ieooui"&gt;&lt;/object&gt; &lt;style&gt; st1\:*{behavior:url(#ieooui) } &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face  {font-family:Calibri;  panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4;  mso-font-charset:0;  mso-generic-font-family:swiss;  mso-font-pitch:variable;  mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal  {mso-style-parent:"";  margin:0cm;  margin-bottom:.0001pt;  text-align:justify;  text-indent:36.0pt;  line-height:150%;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:11.0pt;  font-family:Calibri;  mso-fareast-font-family:Calibri;  mso-bidi-font-family:Arial;} @page Section1  {size:21.0cm 841.95pt;  margin:36.0pt 36.0pt 36.0pt 36.0pt;  mso-header-margin:36.0pt;  mso-footer-margin:36.0pt;  mso-paper-source:0;} div.Section1  {page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable  {mso-style-name:"Table Normal";  mso-tstyle-rowband-size:0;  mso-tstyle-colband-size:0;  mso-style-noshow:yes;  mso-style-parent:"";  mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;  mso-para-margin:0cm;  mso-para-margin-bottom:.0001pt;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:10.0pt;  font-family:"Times New Roman";  mso-ansi-language:#0400;  mso-fareast-language:#0400;  mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27.5pt;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;Segala obyek bergerak sesuai sedemikian rupa karena memiliki keterarahan. Maksud atau tujuan dari berbagai realitas sedemikian penting daripada sekadar melihat fakta-fakta fisik. Manusiapun selalu mengarah pada tujuan. Di dalam diri manusia terdapat maksud dan tujuan yang disadari.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27.5pt;"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;Ada&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt; suatu kepekaan tertentu pada saat berbagai tujuan kita dibelokkan ke suatu titik atau tujuan yang lebih rendah. Jika hidup tanpa ada tujuan tertinggi yang ada di dalam pikiran, maka hidup akan berputar-putar pada satu lingkaran. Sejauh semua tujuan hanya berhenti pada dirinya sendiri, seseorang sesungguhnya hanya akan mendapatkan kekosongan belaka. Meskipun sebuah kemajuan terjadi terus menerus jika tidak sampai pada tujuan akhir adalah tanpa arti.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27.5pt;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;Jadi, lakukanlah apa yang seharusnya Anda lakukan, dalam kondisi yang tepat, demi orang-orang yang selayaknya dibantu, dan demi tujuan akhir serta cara-cara yang seharusnya digunakan, atau berbuat apa yang seharusnya dibuat dalam situasi tertentu dan dengan cara yang semestinya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1886692434588734437-2669236117398824080?l=matahati-hatibermata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://matahati-hatibermata.blogspot.com/feeds/2669236117398824080/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://matahati-hatibermata.blogspot.com/2011/12/sebab-maksud-dan-tujuan-akhir.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1886692434588734437/posts/default/2669236117398824080'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1886692434588734437/posts/default/2669236117398824080'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://matahati-hatibermata.blogspot.com/2011/12/sebab-maksud-dan-tujuan-akhir.html' title='SEBAB, MAKSUD DAN TUJUAN AKHIR'/><author><name>Ahmad Junaidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00999491777416961806</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/_QuLB7CyCzAw/TGeKqw22b2I/AAAAAAAAAJk/z6-mhpqIZ8U/S220/IMG000020.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-rWoAQ8Twzg4/TvcpsLcnPPI/AAAAAAAAAMw/44FAJEOLhEI/s72-c/merenung2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1886692434588734437.post-5372709237275900591</id><published>2011-12-11T19:30:00.000-08:00</published><updated>2012-01-05T01:05:17.781-08:00</updated><title type='text'>Grand Scenario Tuhan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-TcBitKZCBZs/TuV16oLIUMI/AAAAAAAAAMk/pNfbjYgIUfM/s1600/galaksi-bima-sakti.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 240px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-TcBitKZCBZs/TuV16oLIUMI/AAAAAAAAAMk/pNfbjYgIUfM/s320/galaksi-bima-sakti.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5685079754702082242" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CXPMINI%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face  {font-family:Calibri;  panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4;  mso-font-charset:0;  mso-generic-font-family:swiss;  mso-font-pitch:variable;  mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal  {mso-style-parent:"";  margin:0cm;  margin-bottom:.0001pt;  text-align:justify;  text-indent:36.0pt;  line-height:150%;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:11.0pt;  font-family:Calibri;  mso-fareast-font-family:Calibri;  mso-bidi-font-family:Arial;} @page Section1  {size:21.0cm 841.95pt;  margin:36.0pt 36.0pt 36.0pt 36.0pt;  mso-header-margin:36.0pt;  mso-footer-margin:36.0pt;  mso-paper-source:0;} div.Section1  {page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable  {mso-style-name:"Table Normal";  mso-tstyle-rowband-size:0;  mso-tstyle-colband-size:0;  mso-style-noshow:yes;  mso-style-parent:"";  mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;  mso-para-margin:0cm;  mso-para-margin-bottom:.0001pt;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:10.0pt;  font-family:"Times New Roman";  mso-ansi-language:#0400;  mso-fareast-language:#0400;  mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27.5pt;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;Manusia lahir dengan membawa kodrat. Kodrat adalah suatu &lt;i&gt;substratum&lt;/i&gt; tetap yang ditentukan dari &lt;i&gt;sono&lt;/i&gt;nya oleh Tuhan. Sejak semula dalam diri Tuhan sudah terdapat semacam rencana dimana esensi benda-benda ciptaan – juga esensi manusia- telah ditentukan. Dengan begitu, seorang manusia tidak dapat berubah mencapai taraf lebih tinggi daripada yang ditentukan oleh Tuhan lewat kodratnya sebagai sesuatu yang tidak bisa dilawan oleh manusia. Jika kemudian ada pertanyaan, “Apakah Anda bermaksud mengatakan bahwa saya tidak mampu memutuskan nasib diri sendiri?” Bisa saya katakana ya dan tidak, Anda mungkin mempunyai hak untuk menggerakkan ibu jari Anda ke arah manapun yang Anda sukai. Tapi ibu jari Anda hanya dapat bergerak sesuai dengan kodrat alamnya. Ia tidak dapat lepas dari tangan Anda dan bergoyang-goyang di sekeliling Anda. Anda mungkin bisa mengangkat satu kaki dan berdiri dengan satu kaki yang lain. Tetapi lain ceritanya jika Anda mengangkat kedua kaki secara bersamaan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27.5pt;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;Tuhan bukanlah dalang yang menggerakkan semua wayang, mengontrol segala sesuatu yang terjadi. Seorang dalang mengontrol wayang-wayang itu dari luar dan karena itu dia merupakan penyebab lahiriah gerakan-gerakan wayang. Tapi bukan begitu cara Tuhan mengontrol dunia. Tuhan mengontrol dunia melalui hukum alam. Ini berarti bahwa segala sesuatu di dunia material ini terjadi karena harus terjadi. Hanya kalau kita bebas untuk&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;mengembangkan kemampuan bawaan kitalah, kita akan dapat hidup sebagai makhluk bebas. Manusia dapat berjuang untuk mendapatkan kebebasan agar bisa hidup tanpa kendala lahiriah, tapi dia tidak akan pernah meraih ‘kehendak bebas’. Kita tidak mengontrol segala sesuatu yang terjadi dalam tubuh kita –yang merupakan mode atribut perluasan. Kita juga tidak dapat memilih pemikiran kita. Oleh karena itu, manusia tidak mempunyai ‘jiwa bebas’, jiwa itu kurang-lebih terpenjara di dalam badan mekanis.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27.5pt;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;Hasrat kitalah –seperti ambisi dan nafsu syahwat- yang menghalangi kita meraih kebahagiaan dan keselarasan sejati, tapi jika kita mengakui bahwa segala sesuatu terjadi karena memang harus terjadi, kita akan mendapatkan pemahaman intuitif tentang alam secara menyeluruh. Kita dapat sampai pada kesadaran yang benar-benar jernih bahwa segala sesuatu itu saling terkait, bahkan segala sesuatu itu adalah Satu. Perbedaan kelamin, tingkat kecerdasan, kekayaan, profesi, karakter sifat manusia dan sebagainya adalah supaya kehidupan bisa berjalan dengan semestinya. Jika tidak demikian, maka alam akan berjalan tidak dengan teratur, seperti seorang petani yang berdoa minta hujan agar tanamannya dapat tumbuh dengan baik dan segar sedangkan tetangganya yang sedang menjemur gabah berdoa pada Tuhan supaya hari itu panas dan tidak hujan. Tidak mungkin kemudian akan terjadi hujan sekaligus panas. Tujuannya adalah secara komprehensif memahami semua yang ada dalam suatu persepsi yang mencakup keseluruhan. Dengan begitu, barulah kita dapat meraih kebahagiaan dan kepuasan sejati.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27.5pt;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;Kita jangan terjebak ke dalam sikap yang &lt;i&gt;fatalistik-deterministik&lt;/i&gt;, misalnya dengan menerima takdir buta sebagai penentuan Ilahi, dan hidup manusia ibarat wayang di tangan Tuhan Sang Dalang. Tipe orang beriman ini mungkin akan beranggapan bahwa manusia itu tak ada. Akan tetapi bukankah di dalam riwayat hidup orang-orang beragama (para nabi, wali dan ulama) bisa dilihat bukti sebaliknya, bahwa justru di dalam kepercayaan pada Tuhan, mereka mampu bersikap lepas bebas, misalnya terhadap segala pamrih atau keinginan serta nafsu tak teratur yang membutakan dan memperbudak. Bukankah banyak juga dari mereka bahkan rela (sikap bebas) kehilangan nyawanya daripada dipaksa untuk menyangkal imannya?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27.5pt;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;Maka, apakah Tuhan membatasi kebebasan manusia? Kebalikannya yang benar: hanya dalam relasi intensif dengan Yang Tak Terbatas, manusia mendapatkan kemerdekaan terhadap segala sesuatu yang hanya terbatas dan fana sifatnya. Apakah Tuhan memperbudak manusia? Sebaliknya: hanya dengan mengikatkan diri pada Tuhan dan kehendak-Nya, manusia tidak menjadi budak kekuasaan dan pesona duniawi. Justru berdasarkan hubungannya dengan Yang Mutlak, manusia beriman sanggup merelatitivir pelbagai kekuasaan manusiawi manapun, dan bahkan berani menentangnya dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab. Sebagaimana dimaksudkan Louis Leahy, kebebasan tidak terjadi pada sebab-sebab kodrati (misal keadaan fisik kita), melainkan pada tingkat alasan-alasan atau motif-motif. Di sini manusia mampu mengorganisir sebab-sebab yang ada pada kodrat dan mengarahkannya sesuai dengan maksud dan keinginannya (atau bagaimana kita memaknai kodrat). Ini berarti bahwa pelaksanaan kebebasan hanya mungkin dengan menaati pembatasan kodrat atas kita.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27.5pt;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;Seorang Sartre menyadari keterbatasan fisiknya, badannya pendek (dia sendiri mengatakan fisiknya mirip kodok) dengan mata &lt;i&gt;strabismus&lt;/i&gt; (juling). Di satu sisi, Sartre tahu bahwa sejak awal dirinya adalah perayu ulung dan membutuhkan cinta dari para wanita untuk kehidupan dan intelektualitasnya. Dia berusaha melampaui keterbatasan atau kodrat yang menimpa dirinya. Dengan kecerdasan filosofisnya (bukan keterbatasan fisiknya) akhirnya dia mampu ‘melahap banyak wanita’. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27.5pt;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;Kisah lain, pada pertengahan tahun 1974 ada sebuah &lt;i&gt;prognosis&lt;/i&gt; tentang diri saya dari seseorang yang misterius. Selang beberapa puluh tahun kemudian, tepatnya bulan September 2011 kemarin &lt;i&gt;prognosis&lt;/i&gt; itu mewujud menjadi sebuah &lt;i&gt;reality&lt;/i&gt;. Hal ini semakin memberikan pengertian pada saya bahwa kehidupan ini berjalan di atas kodrat atau&lt;i&gt; Grand Scenario&lt;/i&gt; Tuhan. Namun apakah saya berpangku tangan mensikapi realitas tersebut? Tidak, meskipun mensikapi dengan rasa penasaran yang penuh misteri saya berusaha supaya hal tersebut berjalan dengan bahagia dan menyenangkan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1886692434588734437-5372709237275900591?l=matahati-hatibermata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://matahati-hatibermata.blogspot.com/feeds/5372709237275900591/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://matahati-hatibermata.blogspot.com/2011/12/grand-scenario-tuhan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1886692434588734437/posts/default/5372709237275900591'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1886692434588734437/posts/default/5372709237275900591'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://matahati-hatibermata.blogspot.com/2011/12/grand-scenario-tuhan.html' title='Grand Scenario Tuhan'/><author><name>Ahmad Junaidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00999491777416961806</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/_QuLB7CyCzAw/TGeKqw22b2I/AAAAAAAAAJk/z6-mhpqIZ8U/S220/IMG000020.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-TcBitKZCBZs/TuV16oLIUMI/AAAAAAAAAMk/pNfbjYgIUfM/s72-c/galaksi-bima-sakti.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1886692434588734437.post-2553932271349009516</id><published>2011-11-15T03:35:00.000-08:00</published><updated>2011-11-15T03:41:21.423-08:00</updated><title type='text'>KEKELIRUAN EPISTEMOLOGIS</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-LbL5yOSq1cw/TsJPuPhJwCI/AAAAAAAAAMY/qQHyGxTLOCE/s1600/philosophy_brain.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="text-align: justify;display: block; margin-top: 0px; margin-right: auto; margin-bottom: 10px; margin-left: auto; cursor: pointer; width: 266px; height: 320px; " src="http://2.bp.blogspot.com/-LbL5yOSq1cw/TsJPuPhJwCI/AAAAAAAAAMY/qQHyGxTLOCE/s320/philosophy_brain.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5675186136298405922" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;text-indent: 27.5pt; "&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-size:12.0pt;line-height:150%;font-family:&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;"&gt;Filosof Universitas Cambridge, Inggris, yang dianggap sebagai perintis aliran Filsafat Bahasa, George Edward Moore (1873-1958), mengatakan bahwa kekeliruan epistemologis adalah kekeliruan naturalistik. Ia memberi contoh, ternyata kita tidak pernah mengetahui makna kata “baik” sekalipun kata itu merupakan kata kunci dalam perbincangan moral. Kata “baik” dengan demikian seolah-olah sudah jelas dengan sendirinya, padahal begitu banyak definisi tentang kata “baik”. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;text-indent: 27.5pt; "&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-size:12.0pt;line-height:150%;font-family:&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;"&gt;Kaum Hedonis, misalnya, mengatakan bahwa “baik” bermakna “senang”, sementara itu Spencer berpendapat bahwa “baik” artinya “apa yang bermanfaat”. Moore menegaskan, definisi semacam itu belum menjawab makna kata “baik” karena segala usaha untuk menyamakan “baik” dengan salah satu sifat, misalnya dengan “senang” atau “apa yang bermanfaat”, dengan sendirinya sudah keliru. Kekeliruan naturalistik ini dipicu oleh penyamaan antara sesuatu yang primer (“baik”) dan sesuatu yang bersifat faktual (“senang” atau “apa yang bermanfaat”). Oleh karena itu, &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Moore&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; menegaskan bahwa kata “baik” merupakan kata dasar yang tidak dapat direduksi pada sesuatu yang lebih mendasar lagi. Sifatnya yang primer pun membuat kata “baik” tidak memiliki bagian-bagian sehingga tidak dapat dianalisis (Magnis Suseno, 2006). Dengan demikian, boleh dipertanyakan apakah yang “senang” atau apakah “yang bermanfaat” dapat dikatakan “baik”? &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;text-indent: 27.5pt; "&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-size:12.0pt;line-height:150%;font-family:&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;"&gt;Kekeliruan-kekeliruan ini kita produksi dalam berbagai macam kesempatan bahkan setiap hari, seperti waktu mengajar di kelas, dalam kehidupan beragama, debat politik di parlemen, penyampaian berita di TV, menulis buku, menulis status di Facebook atau bahkan dalam kehidupan sehari-hari. Berbagai macam kosa kata yang setiap hari kita gunakan seperti cinta, tanggung jawab, komitmen dan sebagainya hampir semuanya tidak kita ketahui makna substansinya. Hal inilah yang kemudian akan berkembang menjadi kesalahpahaman, beda penafsiran, &lt;i&gt;salah &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;tampa&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/i&gt;, atau bahkan bisa menjadi konflik. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;text-indent: 27.5pt; "&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-size:12.0pt;line-height:150%;font-family:&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;"&gt;Kekeliruan epistemologis yang menjangkiti kita memang sulit dianalisis hanya melalui pendekatan psikologi, apalagi melalui pendekatan politik dan ekonomi. Pasalnya, hemat saya, kekeliruan tersebut adalah habitus kita yang jika ditinjau melalui perspektif etika ditengarai berasal dari proses pembentukan “kacamata” di ruang kepala akibat persepsi dan kategori dalam memahami kehidupan yang tanpa refleksi atau menurut John Locke tanpa sumber kesadaran tentang eksistensi dan keadaan-keadaan mental yang ada. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1886692434588734437-2553932271349009516?l=matahati-hatibermata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://matahati-hatibermata.blogspot.com/feeds/2553932271349009516/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://matahati-hatibermata.blogspot.com/2011/11/kekeliruan-epistemologis.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1886692434588734437/posts/default/2553932271349009516'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1886692434588734437/posts/default/2553932271349009516'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://matahati-hatibermata.blogspot.com/2011/11/kekeliruan-epistemologis.html' title='KEKELIRUAN EPISTEMOLOGIS'/><author><name>Ahmad Junaidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00999491777416961806</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/_QuLB7CyCzAw/TGeKqw22b2I/AAAAAAAAAJk/z6-mhpqIZ8U/S220/IMG000020.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-LbL5yOSq1cw/TsJPuPhJwCI/AAAAAAAAAMY/qQHyGxTLOCE/s72-c/philosophy_brain.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1886692434588734437.post-4848863482155507276</id><published>2011-11-12T14:22:00.000-08:00</published><updated>2011-11-12T14:46:13.681-08:00</updated><title type='text'>AGAMA DAN KEBUTUHAN PERUT</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-XiTBUu5hNMI/Tr726F6IFTI/AAAAAAAAAMA/AeJ0IHB_cFg/s1600/Greedy2.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 264px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-XiTBUu5hNMI/Tr726F6IFTI/AAAAAAAAAMA/AeJ0IHB_cFg/s320/Greedy2.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5674244058412225842" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CXPMINI%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face  {font-family:Calibri;  panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4;  mso-font-charset:0;  mso-generic-font-family:swiss;  mso-font-pitch:variable;  mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal  {mso-style-parent:"";  margin:0cm;  margin-bottom:.0001pt;  text-align:justify;  text-indent:36.0pt;  line-height:150%;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:11.0pt;  font-family:Calibri;  mso-fareast-font-family:Calibri;  mso-bidi-font-family:Arial;} @page Section1  {size:612.0pt 792.0pt;  margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt;  mso-header-margin:36.0pt;  mso-footer-margin:36.0pt;  mso-paper-source:0;} div.Section1  {page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable  {mso-style-name:"Table Normal";  mso-tstyle-rowband-size:0;  mso-tstyle-colband-size:0;  mso-style-noshow:yes;  mso-style-parent:"";  mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;  mso-para-margin:0cm;  mso-para-margin-bottom:.0001pt;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:10.0pt;  font-family:"Times New Roman";  mso-ansi-language:#0400;  mso-fareast-language:#0400;  mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0cm;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;Menurut &lt;b&gt;Feuerbach&lt;/b&gt;, bukan Tuhan yang menciptakan manusia, tetapi sebaliknya Tuhan adalah ciptaan angan-angan manusia. Agama hanyalah sebuah proyeksi manusia. Allah, malaikat, surga, neraka tidak mempunyai kenyataan pada dirinya sendiri, melainkan hanya merupakan gambar-gambar yang dibentuk oleh manusia tentang dirinya sendiri. Agama hanyalah sebuah epiphenomenon; ia tidak mempunyai realitas dan arti pada dirinya sendiri, melainkan menunjuk pada sebuah basis yaitu manusia. Menurut &lt;b&gt;Karl Marx&lt;/b&gt; dengan ajaran Historical Materialismenya, seseorang menjalankan agama bukan karena ia mengimaninya, melainkan karena ia membutuhkannya dalam kehidupan sehari-hari, karena fungsinya. &lt;b&gt;Niccolo Machiavelli&lt;/b&gt;, mengatakan bahwa pada zaman Romawi kuno, golongan bangsawan cepat sekali memanfaatkan agama untuk kepentingan sendiri. &lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;Bisa jadi seseorang berbicara masalah A, akan tetapi pada saat yang sama dia melakukan tindakan B yang berlawanan dengan apa yang dibicarakannya. &lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;Tingkah laku manusia seperti ini kalau menurut tiga orang di atas ternyata dibentuk oleh kebutuhan untuk memenuhi kebutuhan perut dan yang di bawah perut. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1886692434588734437-4848863482155507276?l=matahati-hatibermata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://matahati-hatibermata.blogspot.com/feeds/4848863482155507276/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://matahati-hatibermata.blogspot.com/2011/11/agama-dan-kebutuhan-perut.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1886692434588734437/posts/default/4848863482155507276'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1886692434588734437/posts/default/4848863482155507276'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://matahati-hatibermata.blogspot.com/2011/11/agama-dan-kebutuhan-perut.html' title='AGAMA DAN KEBUTUHAN PERUT'/><author><name>Ahmad Junaidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00999491777416961806</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/_QuLB7CyCzAw/TGeKqw22b2I/AAAAAAAAAJk/z6-mhpqIZ8U/S220/IMG000020.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-XiTBUu5hNMI/Tr726F6IFTI/AAAAAAAAAMA/AeJ0IHB_cFg/s72-c/Greedy2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1886692434588734437.post-8630502332655845993</id><published>2011-06-22T02:30:00.000-07:00</published><updated>2011-11-11T02:03:34.479-08:00</updated><title type='text'>Al-Abdāl: Para Penggenggam Rahasia</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-HaQsW7QOMiM/TgG4tVN6fII/AAAAAAAAALw/J6y7toVNfVY/s1600/sufi%2B-%2Bkitab%2Bdan%2Bcermin.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; text-align: justify; display: block; cursor: pointer; width: 276px; height: 320px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-HaQsW7QOMiM/TgG4tVN6fII/AAAAAAAAALw/J6y7toVNfVY/s320/sufi%2B-%2Bkitab%2Bdan%2Bcermin.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5620976898864217218" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 35.45pt;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-size:12;" &gt;Dalam tradisi Islam atau khususnya tasawuf dikenal adanya sosok yang misterius, yang dikenal dengan sebutan &lt;i&gt;al-Abdāl&lt;/i&gt; (Para Pengganti). Disebut demikian karena setiap di antara mereka meninggalkan posisinya maka akan diganti dengan yang lain. Posisi tersebut adalah keberadaan untuk selalu memberikan kemaslahatan kepada umat dan ajakan untuk mendekat kepada Tuhan. Di seluruh alam para penggenggam rahasia ini selalu berjumlah tujuh, tidak kurang dan tidak lebih. Ketika salah seorang meninggalkan posisinya maka akan segera diganti oleh yang lain. Tidak diragukan lagi bagi seseorang yang mengetahui sosok misterius ini bahwa dialah calon penggantinya. Jadi tidak akan ada seseorang yang mengetahui keberadaannya di dunia ini kecuali calon pengganti tersebut. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 35.45pt;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-size:12;" &gt;Mereka selalu diselimuti sifat-sifat dan karakter yang akan selalu menjaga kerahasiaan keberadaannya, di antaranya adalah berlapar-lapar (&lt;i&gt;al-jū’&lt;/i&gt;), terjaga di malam hari (&lt;i&gt;al-sahar&lt;/i&gt;), pendiam (&lt;i&gt;al-sumt&lt;/i&gt;) dan suka menyendiri (&lt;i&gt;al-‘uzlah&lt;/i&gt;). Sifat-sifat yang menunjukkan kesederhanaan dan kesunyian hidup.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Jauh dari popularitas, keinginan untuk bermewah-mewah dalam hal makanan, pakaian, tempat tinggal dan kendaraan. Jauh dari keinginan untuk dihormati dan dipuja-puji. Enggan untuk mencari pengakuan dan penghormatan dari keawaman manusia. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 35.45pt;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-size:12;" &gt;Mereka tidak menampakkan diri karena bertujuan menjaga dan tidak mau pengetahuan mereka yang merupakan amanat diolok-olok oleh manusia. Meskipun  terhijab dari pandangan dunia sesungguhnya mereka akrab dengan para penghuni alam malakut. Karena penghuni alam malakut lebih memahami alusi-alusi yang paling tersembunyi dan paling halus sekalipun. Ketika berbicara dengan penghuni dunia, di tengah keterbatasan bahasa dunia yang terikat tempat dan waktu, mereka menggunakan simbol-simbol demi keamanan dan keselamatan dirinya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 35.45pt;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-size:12;" &gt;Bagi para al-Abdal, lebih suka diam dan menyendiri daripada banyak berbicara dan melarutkan diri dalam riuhnya keramaian adalah tindakan untuk berjalan ke pusat diri, mencari hakekat demi mencari kesembuhan. Menghindari pembicaraan, yang hanya akan menghambur-hamburkan pikiran ke luar, sehingga jati dirinya terabaikan. Itulah akhirnya yang mendorongnya untuk beraktifitas pada pekerjan-pekerjaan yang sunyi dan mempelajari ilmu-ilmu yang bersifat sunyi dan permenungan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 35.45pt;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-size:12;" &gt;Sifat-sifat ini sangat bertolak belakang dengan para penghuni dunia yang sudah renta ini. Dengan sifat-sifat tersebut sosok seperti ini, di tengah-tengah kerumunan manusia yang memilih kebenaran sebagai bagian tak terpisahkan dari popularitas dan banyaknya jumlah pengikut, tentu saja sangat sulit ditemukan dan seandainya ditemukanpun akan segera dilupakan oleh sejarah. Meskipun begitu, ketiadaannya inilah yang akan menjadi inspirasi bagi umat dan selalu meninggalkan jejak unik yang menginspirasi generasi sesudahnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0in;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-size:12;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1886692434588734437-8630502332655845993?l=matahati-hatibermata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://matahati-hatibermata.blogspot.com/feeds/8630502332655845993/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://matahati-hatibermata.blogspot.com/2011/06/al-abdal-para-penggenggam-rahasia.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1886692434588734437/posts/default/8630502332655845993'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1886692434588734437/posts/default/8630502332655845993'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://matahati-hatibermata.blogspot.com/2011/06/al-abdal-para-penggenggam-rahasia.html' title='Al-Abdāl: Para Penggenggam Rahasia'/><author><name>Ahmad Junaidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00999491777416961806</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/_QuLB7CyCzAw/TGeKqw22b2I/AAAAAAAAAJk/z6-mhpqIZ8U/S220/IMG000020.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-HaQsW7QOMiM/TgG4tVN6fII/AAAAAAAAALw/J6y7toVNfVY/s72-c/sufi%2B-%2Bkitab%2Bdan%2Bcermin.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1886692434588734437.post-6288691204790889976</id><published>2011-04-10T20:12:00.000-07:00</published><updated>2011-04-10T20:16:15.573-07:00</updated><title type='text'>MENULIS</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-xVtx9M1i8Gw/TaJycdEomqI/AAAAAAAAALU/Cwp8VWZHpoY/s1600/26-hmi_belajar_menulis.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 212px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-xVtx9M1i8Gw/TaJycdEomqI/AAAAAAAAALU/Cwp8VWZHpoY/s320/26-hmi_belajar_menulis.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5594159520313547426" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable  {mso-style-name:"Table Normal";  mso-tstyle-rowband-size:0;  mso-tstyle-colband-size:0;  mso-style-noshow:yes;  mso-style-parent:"";  mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;  mso-para-margin:0in;  mso-para-margin-bottom:.0001pt;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:10.0pt;  font-family:"Times New Roman";  mso-ansi-language:#0400;  mso-fareast-language:#0400;  mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27.5pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Dengan menulis aku menciptakan dunia yang sangat personal. Dunia yang aku tempati sendiri, bukan dunia yang ditempati bersama. Di situ aku bisa melakukan apa yang aku ingin lakukan tanpa khawatir ada yang mengganggu, melarang dan memerintah. Dengan menulis aku dapat secara perlahan menemukan makna dan tujuan hidup pribadiku. Dengan menulis apa yang ada dalam diriku, baik itu berupa keluh kesah, pengalaman spiritual yang sangat pribadi maupun gagasan-gagasan yang remeh temeh dan tidak penting, aku dapat melengkapi kehidupan yang tidak pernah merasa tercukupi dengan harta benda. Menulis dapat melebursatukan antara perenungan dengan pengalaman hidup di masa lalu untuk dijadikan bahan refleksi ke masa depan. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27.5pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Menulispun bagiku tidak selalu identik dengan menulis makalah, artikel, tesis atau disertasi tapi menulis bagiku adalah menumpahkan yang ada di pikiran tanpa terbebani oleh masalah bermutu atau tidak, sesuai dengan kaidah penulisan ilmiah atau tidak, atau juga tidak takut untuk dinilai orang. Menulis menurutku adalah untuk melakukan pelepasan bukan untuk mencari pengakuan. Dengan memulai menekan tuts keyboard sesuatu yang sebelumnya tidak terpikirkan tiba-tiba muncul di layar monitor. Pikiran-pikiran yang samar bisa menjadi kongkrit dengan menulis, atau hasil membaca dari beberapa buku bisa disatukan menjadi satu halaman karena adanya kesatuan ide. Buku, lembaran kertas bahkan fasilitas note di hp pun bisa jadi pelampiasan untuk menulis. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27.5pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Dengan menulis aku bisa berpendapat yang mungkin berbeda bahkan bertentangan dengan pendapat banyak orang, tradisi masyarakat, kemapanan, atau bahkan menulis tentang sesuatu yang tidak lazim tapi yang benar-benar menarik perhatianku. Di mana hal itu tidak bisa dilakukan atau akan banyak mendatangkan kesulitan jika dilakukan dengan selain menulis.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1886692434588734437-6288691204790889976?l=matahati-hatibermata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://matahati-hatibermata.blogspot.com/feeds/6288691204790889976/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://matahati-hatibermata.blogspot.com/2011/04/menulis.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1886692434588734437/posts/default/6288691204790889976'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1886692434588734437/posts/default/6288691204790889976'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://matahati-hatibermata.blogspot.com/2011/04/menulis.html' title='MENULIS'/><author><name>Ahmad Junaidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00999491777416961806</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/_QuLB7CyCzAw/TGeKqw22b2I/AAAAAAAAAJk/z6-mhpqIZ8U/S220/IMG000020.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-xVtx9M1i8Gw/TaJycdEomqI/AAAAAAAAALU/Cwp8VWZHpoY/s72-c/26-hmi_belajar_menulis.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1886692434588734437.post-3905110971693076111</id><published>2011-04-10T20:05:00.000-07:00</published><updated>2011-04-19T00:14:57.443-07:00</updated><title type='text'>MEMBACA</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-NT_6IR7gyaE/TaJxb3yGOEI/AAAAAAAAALM/YkYJRxhoslA/s1600/buku.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 274px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-NT_6IR7gyaE/TaJxb3yGOEI/AAAAAAAAALM/YkYJRxhoslA/s320/buku.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5594158410792056898" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable  {mso-style-name:"Table Normal";  mso-tstyle-rowband-size:0;  mso-tstyle-colband-size:0;  mso-style-noshow:yes;  mso-style-parent:"";  mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;  mso-para-margin:0in;  mso-para-margin-bottom:.0001pt;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:10.0pt;  font-family:"Times New Roman";  mso-ansi-language:#0400;  mso-fareast-language:#0400;  mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27.5pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Bagiku membaca buku bukanlah untuk gagah-gagahan, untuk menunjukkan bahwa seseorang itu kutu buku atau seorang intelektual. Akan tetapi buku bagiku merupakan sahabat sejati, yang dapat menghibur ketika aku dalam keadaan yang paling buruk sekalipun. Bisa membangkitkan semangat hidup, memunculkan rasa senang dan gembira.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27.5pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Ibarat memilih sahabat, maka akupun lebih suka memilih sebuah buku yang dapat menyenangkan hatiku. Buku dalam bidang apapun yang penting dia dapat mengajakku ngobrol santai dengan cara yang betul-betul menyenangkan, yang kadang dapat membuatku lupa waktu. Kemana-mana aku selipkan sebuah atau dua buah buku yang selalu aku ajak bergurau, saling curhat tentang berbagai macam tema yang aku inginkan pada waktu itu. Bahkan dalam jeda waktu dalam mengajar yang tidak seberapa banyak aku sempatkan menarik buku&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dari tas dan kubaca, sehingga kepenatan dan kejenuhan pun segera sirna. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27.5pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Dalam menghadapi permasalahan yang rumit dan menegangkan akupun tidak lupa memegang atau membuka buku untuk mencari ketenangan, fokus dan inspirasi pemecahan masalah. Jadi bagiku tidak ada kata tidak sempat membaca buku karena tidak ada waktu, atau berada pada waktu dan tempat yang tidak tepat untuk membaca. Karena justru dengan membaca buku, berdasarkan pengalaman, ketepatan putusan-putusan penting dalam hidup aku dapatkan. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27.5pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Hal-hal, orang-orang, kejadian atau peristiwa yang tidak terkait dengan jalur kehidupan yang aku tempuh yang berpotensi mengganggu kesenangan dan kegembiraan dapat aku singkirkan dengan segera dan tanpa efek samping. Aku dapat memilih variasi kehidupan dan menyingkirkan kemonotonan karena menemukan sahabat yang bisa diajak ngobrol tentang berbagai macam hal tanpa gagap dan canggung.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27.5pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Aku sangat bahagia dengan hal ini. Dalam membaca buku aku tidak punya target tertentu. Aku tidak butuh diakui oleh orang lain sebagai seorang intelektual yang banyak membaca buku, tidak juga supaya dipandang sebagai seorang yang berpandangan luas. Juga tidak ada target tertentu demi jabatan, gelar atau kenaikan pangkat. Aku membaca buku karena aku bahagia melakukannya..itu saja.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1886692434588734437-3905110971693076111?l=matahati-hatibermata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://matahati-hatibermata.blogspot.com/feeds/3905110971693076111/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://matahati-hatibermata.blogspot.com/2011/04/membaca.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1886692434588734437/posts/default/3905110971693076111'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1886692434588734437/posts/default/3905110971693076111'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://matahati-hatibermata.blogspot.com/2011/04/membaca.html' title='MEMBACA'/><author><name>Ahmad Junaidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00999491777416961806</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/_QuLB7CyCzAw/TGeKqw22b2I/AAAAAAAAAJk/z6-mhpqIZ8U/S220/IMG000020.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-NT_6IR7gyaE/TaJxb3yGOEI/AAAAAAAAALM/YkYJRxhoslA/s72-c/buku.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1886692434588734437.post-3870054821010277960</id><published>2011-03-06T19:38:00.000-08:00</published><updated>2011-04-10T21:11:08.789-07:00</updated><title type='text'>KEGELISAHAN ABADI</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-Ak5KnW-36Go/TXRT2lEhDlI/AAAAAAAAAK8/IgvPg5x8rMo/s1600/doa_munajat.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 240px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-Ak5KnW-36Go/TXRT2lEhDlI/AAAAAAAAAK8/IgvPg5x8rMo/s320/doa_munajat.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5581178035347983954" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable  {mso-style-name:"Table Normal";  mso-tstyle-rowband-size:0;  mso-tstyle-colband-size:0;  mso-style-noshow:yes;  mso-style-parent:"";  mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;  mso-para-margin:0cm;  mso-para-margin-bottom:.0001pt;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:10.0pt;  font-family:"Times New Roman";  mso-ansi-language:#0400;  mso-fareast-language:#0400;  mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 35.45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  lang="EN-US" &gt;Bagi para sufi, kegelisahan merupakan penderitaan spiritual amat mendalam yang dirasakan karena tidak bisa cukup dekat dengan Allah, karena tidak dapat melakukan cukup banyak amalan demi Allah di dunia ini. Seorang pengikut sufi sejati tidak akan memperhatikan hal-hal duniawi seperti kematian, apalagi benda-benda atau harta kekayaan: dia menderita kegelisahan yang mendalam, kekosongan, dan ketidakcukupan karena dia tidak pernah merasa cukup dekat dengan Allah, karena ketakutannya akan Allah tidak cukup mendalam. Itulah yang disebut dalam literatur Sufi sebagai kegelisahan abadi (&lt;i&gt;al-huzn al-da’im&lt;/i&gt;). Dari kalangan filosof muslim, Al-Kindi, memandang kegelisahan sebagai keadaan mistis (yang ditimbulkan oleh perasaan frustasi karena gagal mencapai tujuan menyatu dengan Allah). Lebih jauh lagi, kegagalan merasakan kegelisahan di atas akhirnya juga memunculkan kegelisahan. Gelisah karena tidak merasakan kegelisahan karena Allah. Diriwayatkan bahwa Nabi Musa AS berkata, “ Ya Tuhanku, dimanakah aku dapat menemukanmu ketika aku mencarimu?” Maka Tuhan berkata, “ Kamu dapat menemukanku pada hati-hati yang gelisah karena Aku”. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 35.45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  lang="EN-US" &gt;Bagi penyair, pelukis dan penulis yang dilanda kegelisahan karya-karya mereka bertujuan untuk membangkitkan dalam diri orang yang melihat dan membaca karya mereka perasaan yang sama dengan yang ditimbulkan oleh perasaan tersebut dalam dirinya, sebagaimana gagasan ini terutama diterima luas pada pertengahan abad ke 19 di kalangan tokoh-tokoh romantisme. Kegelisahan atau &lt;i&gt;tristesse&lt;/i&gt; bagi Montaigne tahun 1580 sama sunyinya dengan perkabungan, menggerogoti pikiran seorang manusia yang hidup sendiri dengan buku-bukunya. Dalam bukunya The Anatomy of Melancholy, Richard Burton mempercayai bahwa kegelisahan akan membuka jalan menuju kesendirian yang membahagiakan dan memperkuat imajinasi. Tidak jadi soal apakah kegelisahan merupakan hasil dari kesendirian ataukah kesendirian sebagai inti, esensi dari kegelisahan. Jadi kegelisahan menjadi entitas yang tak terpisahkan dengan kesendirian dan kesepian. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 35.45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  lang="EN-US" &gt;Kesendirian dalam istilah tasawuf dikenal dengan istilah khalwat atau uzlah. Khalwat adalah menyendiri secara fisik atau jasmani sedangkan yang dimaksud dengan uzlah adalah uzlahnya hati. Sikap penyendiri ini juga merupakan sifat bagi orang yang dikasihi Allah. Dalam kitab Iqadzul Himam fi Syarh al-Hikam karangan al-Arif billah Ahmad ibn Muhammad ibn ‘Ajibah al-Hasani dituliskan bahwa orang-orang yang dikasihi oleh Allah adalah orang-orang yang baik menurut Allah dan menyendiri dari pergaulan makhluknya. Rasulullah juga pernah berkata kepada Abdullah ibnu Umar, “Jadilah engkau di dunia ini seperti orang asing atau seperti pengembara kesepian. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1886692434588734437-3870054821010277960?l=matahati-hatibermata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://matahati-hatibermata.blogspot.com/feeds/3870054821010277960/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://matahati-hatibermata.blogspot.com/2011/03/kegelisahan-abadi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1886692434588734437/posts/default/3870054821010277960'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1886692434588734437/posts/default/3870054821010277960'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://matahati-hatibermata.blogspot.com/2011/03/kegelisahan-abadi.html' title='KEGELISAHAN ABADI'/><author><name>Ahmad Junaidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00999491777416961806</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/_QuLB7CyCzAw/TGeKqw22b2I/AAAAAAAAAJk/z6-mhpqIZ8U/S220/IMG000020.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-Ak5KnW-36Go/TXRT2lEhDlI/AAAAAAAAAK8/IgvPg5x8rMo/s72-c/doa_munajat.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1886692434588734437.post-2607296084489191195</id><published>2010-09-07T20:58:00.000-07:00</published><updated>2011-01-30T23:40:48.856-08:00</updated><title type='text'>Pola Pikir II: Logika Spiritual dan Logika Material</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_QuLB7CyCzAw/TUZkwzb7QgI/AAAAAAAAAKw/kwv2-Xmgbcs/s1600/S7881.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 235px; height: 320px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_QuLB7CyCzAw/TUZkwzb7QgI/AAAAAAAAAKw/kwv2-Xmgbcs/s320/S7881.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5568248778894033410" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CASPIRE%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="place"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !mso]&gt;&lt;object classid="clsid:38481807-CA0E-42D2-BF39-B33AF135CC4D" id="ieooui"&gt;&lt;/object&gt; &lt;style&gt; st1\:*{behavior:url(#ieooui) } &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:Calibri; 	panose-1:0 0 0 0 0 0 0 0 0 0; 	mso-font-alt:"Arial Rounded MT Bold"; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:swiss; 	mso-font-format:other; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:3 0 0 0 1 0;} @font-face 	{font-family:TimesNewRomanPSMT; 	panose-1:0 0 0 0 0 0 0 0 0 0; 	mso-font-alt:"Times New Roman"; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-format:other; 	mso-font-pitch:auto; 	mso-font-signature:3 0 0 0 1 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	text-align:justify; 	text-indent:36.0pt; 	line-height:150%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:Calibri; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-font-family:Arial;} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 35.45pt;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:TimesNewRomanPSMT;font-size:12px;"  lang="IT" &gt;Berdasarkan pengamatan dan klasifikasi sederhana yang saya lakukan,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;manusia dari cara berpikirnya terpola menjadi dua macam. Yang pertama adalah pola pikir dengan menggunakan logika spiritual dan yang kedua adalah pola pikir dengan menggunakan logika material. Perbedaan ini bersifat essensial, artinya adalah perbedaan ini tidak didasarkan pada perbedaan secara lahiriah atau perbedaan berdasarkan status sosial, tetapi perbedaan yang berlaku pada seseorang tanpa membedakan kondisi fisiknya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0cm;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:TimesNewRomanPSMT;font-size:12px;"  lang="IT" &gt;Logika Spiritual&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 35.45pt;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:TimesNewRomanPSMT;font-size:12px;"  lang="IT" &gt;Seseorang yang menggunakan logika spiritual dalam hidupnya akan menjadikan ridho Allah sebagai tujuan utama. Dia akan selalu menyandarkan tingkah lakunya pada keridloaan Tuhannya. Karena kalau tidak seperti itu dia akan malas untuk menjalani hidup. &lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:TimesNewRomanPSMT;font-size:12px;"  &gt;Dengan hidup untuk menyenangkan Tuhan dia akan lebih bersemangat dalam beraktifitas sehari-hari.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 35.45pt;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:TimesNewRomanPSMT;font-size:12px;"  &gt;Lebih menghargai proses dalam bekerja. Usaha, kerja keras, bersabar atau berhasil mencapai rintangan merupakan hal yang menggairahkan dan menantang. Seperti main &lt;i&gt;extreme game&lt;/i&gt; yang dapat memacu adrenalin. Hasil bukanlah hal yang utama, sedangkan keberhasilan merupakan bonus kehidupan yang pantas diterima dengan senang hati. &lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:TimesNewRomanPSMT;font-size:12px;"  lang="IT" &gt;Orang yang berpola pikir seperti ini tidak suka mencari jalan pintas untuk mencapai tujuan. &lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:TimesNewRomanPSMT;font-size:12px;"  &gt;Menjalani proses merupakan kenikmatan yang diakhiri dengan hasil yang mantap dan berkualitas. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 35.45pt;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:TimesNewRomanPSMT;font-size:12px;"  &gt;Kepuasan batin selalu menjadi pertimbangan dalam menentukan pilihan hidup. Selalu mempelajari sesuatu dan bekerja sesuai dengan minat.Tidak menyesal dan tidak menggerutu merupakan konsekwensi logis dari sikap ini. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 35.45pt;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:TimesNewRomanPSMT;font-size:12px;"  &gt;Lebih menekankan pada makna. Kelanjutan dari kepuasan batin adalah menemukan makna. Seperti orang yang punya hobi minum teh, maka setiap seruputan merupakan kenikmatan yang tiada &lt;st1:place st="on"&gt;tara&lt;/st1:place&gt; yang selalu ingin dia ulangi berkali-kali. Atau seperti orang yang hobi membaca, menikmati huruf per huruf, kata per kata dan seterusnya merupakan sesuatu yang menggairahkan. Hatinya selalu riang gembira, jasmaninya sehat, awet muda dan insya Allah juga awet hidup.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 35.45pt;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:TimesNewRomanPSMT;font-size:12px;"  &gt;Menemukan rasa syukur. Orang yang bisa menemukan rasa syukur pada dirinya akan dapat merasakan bahwa setiap detik, menit, jam, hari dan seterusnya terdapat kelimpahan kenikmatan yang diberikan oleh Tuhan pada dirinya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 35.45pt;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:TimesNewRomanPSMT;font-size:12px;"  lang="IT" &gt;Tolok ukur dari perbuatannya adalah kualitas spiritual atau barakah. &lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:TimesNewRomanPSMT;font-size:12px;"  &gt;Sehingga hal ini akan mendorongnya untuk selalu menempuh jalan yang benar, terhormat dan pantas. Kaya terhormat, miskin bermartabat adalah adagium yang selalu dipegangnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 35.45pt;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:TimesNewRomanPSMT;font-size:12px;"  &gt;Mempunyai rasa rendah hati atau empati. Diri selalu merasa kurang, merasa masih miskin, belum pintar, belum banyak amal baik, takut kalau nggak masuk surga, takut amal ibadahnya tidak diterima oleh Allah SWT, merasa tidak tampan atau tidak cantik dan seterusnya, dimana semua itu akan mendorongnya untuk bersikap rendah hati. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 35.45pt;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:TimesNewRomanPSMT;font-size:12px;"  &gt;Mudah berbagi. Kebahagiaan dan kesenangan pada dirinya ingin juga dibagi dengan orang lain. Senang melihat orang lain senang, bukan malah sebaliknya, tidak senang melihat orang lain senang, akan mendorong dirinya untuk selalu menebar kebaikan dan kemanfaatan di tengah-tengah sesama.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 35.45pt;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:TimesNewRomanPSMT;font-size:12px;"  lang="IT" &gt;Menemukan jati diri karena selalu melihat diri sendiri. Pertanyaan mengapa, untuk apa dan bagaimana hidup dijalani merupakan pertanyaan yang selalu muncul dan harus segera dijawab setiap saat. Dengan sedini mungkin menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu akan membuat seseorang menjadi bijak dan arif dalam memandang kehidupan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 35.45pt;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:TimesNewRomanPSMT;font-size:12px;"  lang="IT" &gt;Menghayati setiap fase kehidupan. Setiap fase kehidupan mempunyai kenangan unik. Seseorang yang penuh dengan kualitas spiritual tidak akan membiarkan setiap fase kehidupannya berlalu dengan sia-sia. &lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:TimesNewRomanPSMT;font-size:12px;"  &gt;Setiap fase kehidupan harus diisi dengan jejak yang unik pula.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0cm;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:TimesNewRomanPSMT;font-size:12px;"  &gt;Logika Material&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 35.45pt;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:TimesNewRomanPSMT;font-size:12px;"  &gt;Sedangkan orang yang menggunakan logika material dalam hidupnya akan selalu mencari pengakuan manusia berupa pujian, simpati, kekaguman dan superioritas. Supaya dikatakan sebagai orang kaya, intelektual, alim, religius dan berpengaruh. Walaupun akhirnya malah kelihatan janggal dan lucu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 35.45pt;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:TimesNewRomanPSMT;font-size:12px;"  lang="IT" &gt;Lebih menghargai hasil daripada proses, dengan menghalalkan cara untuk mencapai tujuan. Korupsi, kolusi atau &lt;i&gt;kongkalikong&lt;/i&gt;, nepotisme atau &lt;i&gt;perkoncoan&lt;/i&gt;/&lt;i&gt;perduluran&lt;/i&gt;, menabrak prosedur baku yang sudah menjadi ketentuan merupakan hal yang biasa dan tidak menjadi soal.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 35.45pt;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:TimesNewRomanPSMT;font-size:12px;"  lang="IT" &gt;Tujuannya adalah pemenuhan kebutuhan atau kesejahteraan secara fisik. Makan enak, rumah nyaman, tidak mau sedikit sengsara, ingin hasil besar tapi tidak mau berusaha atau ingin bersenang-senang setiap hari tanpa bersusah payah. Orang seperti ini akan selalu memegang semboyan: muda foya-foya, tua bahagia, mati masuk surga.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 35.45pt;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:TimesNewRomanPSMT;font-size:12px;"  lang="IT" &gt;Mempunyai kehidupan yang hampa dan tidak menemukan ketenangan, karena selalu memandang bahwa kehidupan di dunia ini adalah persaingan dengan orang lain. Selalu memposisikan dirinya sebagai sosok yang paling unggul baik dalam lingkungan kecil maupun besar. Jika dalam lingkungan besar dia kalah, maka dia akan mencari lingkungan kecil di mana dia menjadi yang paling unggul. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 35.45pt;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:TimesNewRomanPSMT;font-size:12px;"  lang="IT" &gt;Sulit mendapatkan rasa syukur, walaupun setiap saat secara fisik lidahnya mengucap syukur Alhamdulillah tetapi hatinya berkata lain. Orang yang demikian tidak akan bisa melihat apalagi menghargai tambahan rizqi setiap hari yang diberikan oleh Tuhan pada dirinya. Selalu merasa kurang..kurang..kurang.. adalah sifat yang melekat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 35.45pt;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:TimesNewRomanPSMT;font-size:12px;"  lang="IT" &gt;Yang menjadi tolok ukur keberhasilan hidupnya adalah kelimpahan materi. Rumah bagus supaya tamu yang datang ke rumahnya berdecak kagum, mobil bagus supaya kehadirannya dalam sebuah acara diperhitungkan, isteri cantik atau suami ganteng supaya pantas diajak untuk menghadiri resepsi pernikahan, atau anak berprestasi agar bisa dipamerkan pada teman-temannya dalam arisan maupun pengajian. Semua itu merupakan hal yang harus dicapai dalam hidup. Kalau perlu dengan menempuh segala cara meskipun tidak pantas.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 35.45pt;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:TimesNewRomanPSMT;font-size:12px;"  &gt;Mempunyai sifat takabbur dan individualis. Semua orang dianggap berada dibawahnya dan secara otomatis harus melayani dirinya baik secara langsung maupun tidak langsung. Membentak dan memaki orang lain adalah kebiasaan rutin dari orang seperti ini. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 35.45pt;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:TimesNewRomanPSMT;font-size:12px;"  &gt;Tidak mau berbagi, kalaupun mau berbagi karena ada pamrih, yaitu untuk mencapai tujuan yang lebih tinggi. Tidak ubahnya seperti para politikus yang membeli suara rakyat dalam pemilu atau pilkada dengan cara membagi uang, sembako dan kaos supaya terpilih. Setelah tidak ada kesempatan untuk maju lagi, menjadi malas untuk berbagi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 35.45pt;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:TimesNewRomanPSMT;font-size:12px;"  lang="IT" &gt;Tidak mampu menemukan jati diri, karena sibuk melihat segala hal yang berada di luar dirinya. Kehidupannya hanya mondar-mandir di dunia tanpa tujuan pasti yang kemudian ditutup dengan kematian. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 35.45pt;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:TimesNewRomanPSMT;font-size:12px;"  lang="IT" &gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1886692434588734437-2607296084489191195?l=matahati-hatibermata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://matahati-hatibermata.blogspot.com/feeds/2607296084489191195/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://matahati-hatibermata.blogspot.com/2010/09/pola-pikir-ii-logika-spiritual-dan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1886692434588734437/posts/default/2607296084489191195'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1886692434588734437/posts/default/2607296084489191195'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://matahati-hatibermata.blogspot.com/2010/09/pola-pikir-ii-logika-spiritual-dan.html' title='Pola Pikir II: Logika Spiritual dan Logika Material'/><author><name>Ahmad Junaidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00999491777416961806</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/_QuLB7CyCzAw/TGeKqw22b2I/AAAAAAAAAJk/z6-mhpqIZ8U/S220/IMG000020.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_QuLB7CyCzAw/TUZkwzb7QgI/AAAAAAAAAKw/kwv2-Xmgbcs/s72-c/S7881.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1886692434588734437.post-3360954964962492832</id><published>2010-09-07T20:53:00.000-07:00</published><updated>2010-09-07T20:58:09.470-07:00</updated><title type='text'>Pola Pikir I: Realitas Non Inderawi</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_QuLB7CyCzAw/TIcJl-bu33I/AAAAAAAAAKU/kQ64xkMN_lY/s1600/pikiran.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 305px; height: 270px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_QuLB7CyCzAw/TIcJl-bu33I/AAAAAAAAAKU/kQ64xkMN_lY/s320/pikiran.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5514386816757587826" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;              Dalam beraktifitas sehari-hari tentu banyak hal menarik yang bisa kita amati dan amat sayang kalau hal itu dibiarkan berlalu begitu saja. Interaksi dengan warga di kampung, lingkungan kerja maupun keluarga tentunya merupakan tempat bagi kita untuk banyak mengambil pelajaran. Otak kita setiap hari menerima jutaan input dari lingkungan sekitar. Kita bisa memilah dan memilih dari jutaan input tersebut hal-hal yang berupa pelajaran dan hal-hal yang sangat menyenangkan dan menggairahkan bagi kehidupan.&lt;br /&gt;              Hal-hal yang berharga itu bisa kita dapatkan apabila kita menggunakan pengalaman empirik sehari-hari yang kemudian dipoles dengan intuisi. Panca indera sebagai alat untuk mendapatkan pengalaman empirik atau menemukan realitas yang obyektif, sedangkan mata hati merupakan alat untuk meraih realitas yang terdapat di balik kenyataan empirik.&lt;br /&gt;              Banyak hal yang telah ditemukan oleh panca indera manusia, tetapi realitasnya manusia telah tertipu, karena manusia lupa bahwa terdapat realitas lain di balik setiap yang terlihat oleh mata. Tidak kita ketahui bukan berarti sesuatu itu tidak ada, demikian kata filosof postmodern.&lt;br /&gt;      Sebagaimana warna-warni yang berada di tengah malam yang gelap, hanyalah warna yang terkena pantulan cahaya terang yang tertangkap penglihatan. Akan tetapi, ketika mata tak mampu menembusnya, semua warna hanyalah hitam pekat. Oleh karena itulah, manusia tidak mampu berjalan dalam kehidupan dengan baik.&lt;br /&gt;              Dengan demikian, realitas mana yang dicari manusia? Hati nurani adalah alat untuk melihat setiap realitas lain di samping realitas yang inderawi. Karena pada umumnya banyak orang yang melihat, tetapi senyatanya tidak memperhatikan.&lt;br /&gt;      Di antara banyak realitas non inderawi dan sering diabaikan manusia adalah pola pikir seseorang. Kehidupan seseorang ditentukan oleh pola berpikirnya. Dr. Ibrahim Elfiky yang berjudul Quwwat al-Tafkīr (diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul Terapi Berpikir Positif dan diterbitkan oleh penerbit Zaman).&lt;br /&gt;              Pikiran dapat melahirkan mindset, memengaruhi intelektualitas, fisik, perasaan, sikap, hasil, citra diri, harga diri, rasa percaya diri, kondisi jiwa, kondisi kesehatan, menambah atau mengurangi energi dan melahirkan kebiasaan. Tujuan hidup, kebahagiaan, kesengsaraan, kehampaan atau kebermaknaan bahkan kesehatan jasmani akan dikendalikan oleh apa yang ada di dalam pikiran. Pola atau cara berpikir seseorang sedemikian penting kedudukannya dalam kehidupan seseorang.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1886692434588734437-3360954964962492832?l=matahati-hatibermata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://matahati-hatibermata.blogspot.com/feeds/3360954964962492832/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://matahati-hatibermata.blogspot.com/2010/09/pola-pikir-i-realitas-non-inderawi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1886692434588734437/posts/default/3360954964962492832'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1886692434588734437/posts/default/3360954964962492832'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://matahati-hatibermata.blogspot.com/2010/09/pola-pikir-i-realitas-non-inderawi.html' title='Pola Pikir I: Realitas Non Inderawi'/><author><name>Ahmad Junaidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00999491777416961806</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/_QuLB7CyCzAw/TGeKqw22b2I/AAAAAAAAAJk/z6-mhpqIZ8U/S220/IMG000020.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_QuLB7CyCzAw/TIcJl-bu33I/AAAAAAAAAKU/kQ64xkMN_lY/s72-c/pikiran.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1886692434588734437.post-9014673737496020680</id><published>2010-08-01T19:41:00.000-07:00</published><updated>2010-08-01T19:48:03.459-07:00</updated><title type='text'>Indonesia: Demokrasi atau Kleptokrasi?</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_QuLB7CyCzAw/TFYxvo1SqLI/AAAAAAAAAJA/zIKbRnXHpeA/s1600/demokrasi.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 259px; height: 194px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_QuLB7CyCzAw/TFYxvo1SqLI/AAAAAAAAAJA/zIKbRnXHpeA/s320/demokrasi.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5500638689364191410" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CP4%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="State"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="country-region"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="City"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="place"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !mso]&gt;&lt;object classid="clsid:38481807-CA0E-42D2-BF39-B33AF135CC4D" id="ieooui"&gt;&lt;/object&gt; &lt;style&gt; st1\:*{behavior:url(#ieooui) } &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:Calibri; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:swiss; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0in; 	margin-bottom:.0001pt; 	text-align:justify; 	text-indent:.5in; 	line-height:150%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:Calibri; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-bidi-font-family:Arial;} @page Section1 	{size:595.35pt 841.95pt; 	margin:.5in .5in .5in .5in; 	mso-header-margin:.5in; 	mso-footer-margin:.5in; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; 	mso-para-margin:0in; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27.5pt;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Sudah beberapa dasawarsa &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt; berdemokrasi, tentunya dengan demokrasi muncul harapan supaya segala sendi kehidupan menjadi lebih baik dan lebih sejahtera. Kita berharap punya pemerintahan yang legitimate dan berwibawa. Tapi sampai sekarang rasanya masih jauh panggang daripada api, kesengsaraan rakyat dan berbagai ketimpangan ekonomi masih sering kita lihat di media &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;massa&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; baik cetak maupun elektronik. Berita korupsi para pejabat, penghamburan uang rakyat oleh anggota dewan, perbuatan amoral, kemiskinan dan banyaknya aparat hukum yang dihukum sudah cukup sebagai bukti.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27.5pt;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Demokrasi itu mahal, hal ini dapat dilihat dari anggaran Pilkada setingkat kabupaten yang berjumlah sampai ratusan milyar. Jika kita kalkulasi jumlah biaya pilkada yang digelar di seluruh &lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt; mungkin kita akan geleng-geleng kepala, apakah tidak sebaiknya kalau jumlah sebesar itu digunakan untuk program pengentasan kemiskinan di &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt;. Mungkin ada yang beralasan, semua itu dibutuhkan demi legitimasi pemerintahan. Tanpa pemerintahan yang sah dan legitimate rencana pembangunan tidak akan berjalan dengan baik dan tidak akan didukung oleh semua elemen bangsa. Hukum tidak akan bisa ditegakkan. Tetapi apa yang terjadi?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27.5pt;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Hukum ternyata dibuat oleh mereka yang punya kekuasaan, bukan oleh mereka yang punya kebenaran. Yang berbicara bukan lagi para pakar dengan teori-teorinya, tapi orang biasa –dengan kesalahan-kesalahannya, dengan nafsunya, dengan ketakutannya, dengan keinginan dan seleranya. Kita hidup bersama mereka atau bahkan kita diatur oleh mereka. Nilai-nilai berpolitik ditentukan oleh pasar dan jumlah suara yang terbesar. Yang ada hanya undang-undang, padahal kita tahu undang-undang lahir dari perundingan yang tak selamanya bersih. Pembentukan undang-undang selalu dilatarbelakangi kepentingan-kepentingan banyak pihak yang kadang dipaksakan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27.5pt;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Demokrasi di &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; adalah arena jual beli tempat partai bisa berniaga dengan berbagai komoditas yang dimilikinya. Jabatan publik atau posisi menteri adalah komoditas yang dapat ditukar dengan dukungan partai terhadap pemerintah melalui Dewan Perwakilan Rakyat. Kebijakan pajak yang diberlakukan oleh pemerintah lewat Menteri Keuangan ditukar dengan kestabilan koalisi mendukung pemerintah. Dalam konteks ini, faktor uang, kemampuan intimidasi, sepotong informasi rahasia dan rekam jejak personal bisa masuk kalkulasi pembuatan deal politik. Bersikap kritis dan berbalik arah (&lt;i&gt;plinthat-plinthut&lt;/i&gt;) adalah bagian dari proses negosiasi yang dilakukan partai-partai itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27.5pt;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Demokrasi pada akhirnya merupakan perkembangan yang merusak karena telah memberikan kontribusi bagi pembentukan patologis dalam sebuah masyarakat. Membiarkan masyarakat awam menentukan putusan-putusan politik, menjadi mayoritas di dalam negara dan kebudayaan, yang diduga akan mewujudkan tirani mayoritas yang bebal atas pengembangan selera minoritas.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27.5pt;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Kleptokrasi, itulah yang saya kira sesuai untuk menggambarkan &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt;, sebuah pemerintahan yang tersusun dari sosok dan sistem para maling, begundal dan koruptor. Bukankah dari sejak lahir, kita sering bertemu dengan kecurangan, di kelurahan, di kantor polisi, di kantor penghulu, di sekolah, di perguruan tinggi bahkan di pesantren. Lembaga pendidikanpun yang sebetulnya berfungsi untuk mempersiapkan generasi penerus bangsa yang kredibel dan berkompeten beralih fungsi menjadi tempat untuk mengasah kecanggihan trik-trik kecurangan sebagaimana yang kita lihat dalam ujian nasional setiap tahun.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27.5pt;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Jadi apakah kita membutuhkan demokrasi? Lee Kuan Yew mantan perdana menteri Singapura pernah mengatakan, untuk menjadi maju negara tidak membutuhkan demokrasi tapi membutuhkan kedisplinan. Itu sudah dibuktikan oleh Singapura. Tanpa demokrasi Singapura mampu menjadi negara yang maju dan berhasil mensejahterakan rakyatnya. Dia bahkan lebih suka ditakuti rakyat daripada dicintai rakyat. Buat apa demokrasi kalau rakyat masih terus hidup dalam kemiskinan ataukah demokrasi diartikan sebagai kesempatan bagi siapapun untuk mengeruk uang rakyat? Atau sebagaimana kata Fareed Zakaria, seorang editor Newsweek Internasional yang berkantor di &lt;st1:state st="on"&gt;New York&lt;/st1:state&gt;, “&lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt;… bukanlah sebuah calon ideal untuk demokrasi.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1886692434588734437-9014673737496020680?l=matahati-hatibermata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://matahati-hatibermata.blogspot.com/feeds/9014673737496020680/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://matahati-hatibermata.blogspot.com/2010/08/indonesia-demokrasi-atau-kleptokrasi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1886692434588734437/posts/default/9014673737496020680'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1886692434588734437/posts/default/9014673737496020680'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://matahati-hatibermata.blogspot.com/2010/08/indonesia-demokrasi-atau-kleptokrasi.html' title='Indonesia: Demokrasi atau Kleptokrasi?'/><author><name>Ahmad Junaidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00999491777416961806</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/_QuLB7CyCzAw/TGeKqw22b2I/AAAAAAAAAJk/z6-mhpqIZ8U/S220/IMG000020.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_QuLB7CyCzAw/TFYxvo1SqLI/AAAAAAAAAJA/zIKbRnXHpeA/s72-c/demokrasi.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1886692434588734437.post-937571482681743874</id><published>2010-07-20T22:46:00.000-07:00</published><updated>2010-07-20T22:50:46.785-07:00</updated><title type='text'>Khalwat</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_QuLB7CyCzAw/TEaKinGk_OI/AAAAAAAAAI4/sbN284pZsd8/s1600/semeru.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 300px; height: 239px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_QuLB7CyCzAw/TEaKinGk_OI/AAAAAAAAAI4/sbN284pZsd8/s320/semeru.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5496232722469027042" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5Cwarnet%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="City"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="place"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !mso]&gt;&lt;object classid="clsid:38481807-CA0E-42D2-BF39-B33AF135CC4D" id="ieooui"&gt;&lt;/object&gt; &lt;style&gt; st1\:*{behavior:url(#ieooui) } &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;Hembusan angin segar pagi hari, cericit burung-burung gereja, jalan yang lengang dengan lanskap gunung semeru di sebelah timur selalu memanggil jiwaku untuk selalu tinggal di &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;sana&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;. Masyarakatnya yang lugas, selalu menilai sesamanya dari amal perbuatan bukan dari casing yang mungkin memesona tapi menipu, membedakan Patokpicis dari dusun di sebelahnya yang hidup dalam bayang-bayang menjerat yang dilembagakan oleh para kapitalis agama. Beberapa orang pendatang berulangkali menggunakan arogansi intelektualnya untuk menangguk keuntungan ekonomi di dusun ini, tapi gagal. Kejujuran, apa adanya, kelakuan tanpa kepalsuan, itulah yang dihargai di tempat ini. Pemikiran yang rasionalis dan pragmatis merupakan ciri khas yang melekat.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;Letaknya yang di dataran tinggi mebuat udara di sini sangat sejuk bahkan terkesan dingin pada musim kemarau. Sangat menyenangkan ketika sore hari duduk di beranda rumah diliputi sinar matahari yang temaram sambil menyeruput kopi atau sesekali ke belakang rumah untuk menyongsong angin yang berhembus dari arah selatan, areal yang dipenuhi persawahan, segar..dan mendinginkan otak yang seharian dipenuhi kerepotan dan permasalahan. Malam hari setelah isya’ segera suasana menjadi sepi, sangat kondusif untuk merenung mengingat-ingat tentang makna hidup, membaca buku yang menyenangkan atau berdzikir menyebut keagungan Allah sampai subuh menjelang.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;Inilah yang menyebabkan aku selalu rindu pulang ke Patokpicis, sebuah dusun kecil dan tidak terkenal, untuk merehatkan jiwa yang penat setelah disibukkan oleh perburuan duniawi. Tempat yang nyaman untuk merasa sepi dan sendiri, tempat yang aman untuk menghindarkan diri dari ekses derasnya perubahan zaman. Wal hasil, setahap demi setahap berpacu dengan waktu aku persiapkan segalanya di sini. Untuk berkhalwat, mengurai segala wujud dan mendedah segala substansi.&lt;/p&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1886692434588734437-937571482681743874?l=matahati-hatibermata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://matahati-hatibermata.blogspot.com/feeds/937571482681743874/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://matahati-hatibermata.blogspot.com/2010/07/khalwat.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1886692434588734437/posts/default/937571482681743874'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1886692434588734437/posts/default/937571482681743874'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://matahati-hatibermata.blogspot.com/2010/07/khalwat.html' title='Khalwat'/><author><name>Ahmad Junaidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00999491777416961806</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/_QuLB7CyCzAw/TGeKqw22b2I/AAAAAAAAAJk/z6-mhpqIZ8U/S220/IMG000020.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_QuLB7CyCzAw/TEaKinGk_OI/AAAAAAAAAI4/sbN284pZsd8/s72-c/semeru.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1886692434588734437.post-5400992018790696566</id><published>2010-06-04T21:51:00.000-07:00</published><updated>2011-02-17T19:48:13.294-08:00</updated><title type='text'>Pencarian Makna melalui Persepsi</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_QuLB7CyCzAw/TAnZU5W9FUI/AAAAAAAAAIA/iqAjd5SIlOU/s1600/images.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 225px; height: 224px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_QuLB7CyCzAw/TAnZU5W9FUI/AAAAAAAAAIA/iqAjd5SIlOU/s320/images.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5479149374690628930" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CP4%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C06%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="place"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="City"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !mso]&gt;&lt;object classid="clsid:38481807-CA0E-42D2-BF39-B33AF135CC4D" id="ieooui"&gt;&lt;/object&gt; &lt;style&gt; st1\:*{behavior:url(#ieooui) } &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:Calibri; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:swiss; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0in; 	margin-bottom:.0001pt; 	text-align:justify; 	text-indent:.5in; 	line-height:150%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:Calibri; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-bidi-font-family:Arial;} @page Section1 	{size:8.5in 11.0in; 	margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.25in; 	mso-header-margin:.5in; 	mso-footer-margin:.5in; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; 	mso-para-margin:0in; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0in;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Makna &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 33pt;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;“&lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Ada&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; orang yang mendengar tetapi tidak memperhatikan, melihat tetapi tidak menangkap makna yang dilihat, dan merasakan tetapi tidak menghayati. Maka, aku menyadari bahwa orang yang buta adalah buta mata hatinya, bukan buta penglihatannya”. (Helen Keller).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 33pt;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Makna, sebuah kata yang sering kita dengar. Tetapi mungkin kita tidak mendefinisikannya dengan jelas. Menurut Elaine B. Johnson, Ph. D., dibukunya yang sangat saya sukai. Contextual Teaching and Learning. Elaine memaknai kata “makna” dengan merujuk ke Webster’s New World Dictionary: sesuatu itu memiliki makna jika sesuatu itu penting dan berarti bagi diri pribadi seseorang. Makna, dalam upaya memahaminya, sesungguhnya merupakan salah satu masalah filsafat yang tertua dalam umur manusia. Menurut De Vito, makna tidak terletak pada kata-kata, melainkan pada diri manusia. Wittgenstein menegaskan, arti kata bergantung pada penggunaannya dalam kalimat sedangkan arti kalimat bergantung pada penggunaannya dalam bahasa. Artinya, makna suatu kata tidak bisa dilepaskan dari konteks historisnya di mana kata itu diucapkan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0in;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Makna dalam Budaya&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 33pt;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Kebudayaan, adalah perkembangan penalaran imajinatif manusia melihatnya sebagai bagian dari evolusi strategi manusia dalam memahami siapa dirinya, komunitasnya, dunianya dan realitasnya yang begitu kompleks. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 33pt;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Kata budaya terdiri dari dua suku kata yaitu budi dan daya. Budi adalah makna akal, pikiran, pengertian, paham, pendapat, perasaan. Sedangkan daya mengandung kompleksitas makna dari yang tersurat dalam budi, juga sebagai himpunan kemampuan dan segala usaha yang dikerjakan dengan menggunakan hasil pendapat budi untuk memperbaiki sesuatu dengan tujuan mencapai kesempurnaan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 33pt;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Kebudayaan bukanlah “gambar” dan individu tinggal “mengamatinya”. Kebudayaan adalah aliran pertautan interaksi, kreasi, korelasi dan keterhubungan yang mengadopsi, membuang, mengkritisi, meredefinisi makna, demi menemukan makna baru yang lebih relevan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 33pt;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Kebudayaan adalah &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;medan&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; yang sarat dengan pertarungan makna. Kebudayaan adalah suatu proses dan hasil dari pemberian bentuk atau makna atas realitas yang kerap tak berbentuk. Transaksi kultural dan pembentukan makna, di mana segala hal menjadi mungkin.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 33pt;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Memahami, memetakan, dan menarikan realitas pergumulan manusia dalam memberi bentuk dan makna atas realitas yang tak berbentuk (&lt;i&gt;amorphous&lt;/i&gt;). Dengan kata lain, kita tak hanya menggumuli tataran refleksi filosofis, tetapi juga memahami kebudayaan melalui pergumulan dengan pelbagai bentuk pengalaman empiris.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0in;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Makna dalam Bahasa&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 33pt;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Kemampuan utama khas manusia adalah bahasa, maka makna-makna hubungan komunikasi itu umumnya diartikulasikan dalam konseptualisasi diskursif, alias dalam wacana. Dalam dan melalui wacana inilah kita merumuskan diri, mengevaluasi diri, dan mengubah cara melihat, merasa dan memahami. Melalui wacana kita membentuk dan memahami identitas diri. Wacana adalah layar di mana kita diimajinasikan dan direpresentasikan (diinterpretasikan) bagi diri sendiri. Masalahnya adalah bahwa dalam kenyataannya pelbagai pihak lain juga, yang diwarnai pelbagai kepentingan: kepentingan politis, komersial, filosofis, religius, artistik, atau gender, kelas sosial, pendapatan, dan orientasi politis. Pelbagai kepentingan itu mengakibatkan representasi tentang kita tidak selalu autentik dan fair.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 33pt;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Bahasa sebagai suatu sistem simbol ternyata tidak bisa mengungkap seluruh realitas yang ada di dunia ini. Simbol atau lambang memperoleh fungsi khususnya dari konsensus atau mufakat kelompok atau konvensi sosial, dan tidak mempuyai efek apapun bagi setiap orang yang tidak mengenal konsensus tersebut. Hal ini karena bahasa pada hakikatnya merupakan sistem simbol-simbol. Sedangkan tugas dari filsafat yang utama adalah mencari jawab atau makna dari seluruh simbol yang menampakkan diri di alam semesta ini. Bahasa juga adalah alat untuk membongkar seluruh rahasia simbol-simbol tersebut.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 33pt;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Kemampuan utama khas manusia adalah bahasa, maka makna-makna hubungan komunikasi itu umumnya diartikulasikan dalam konseptualisasi diskursif, alias dalam wacana. Dalam dan melalui wacana inilah kita merumuskan diri, mengevaluasi diri, dan mengubah cara melihat, merasa dan memahami. Melalui wacana kita membentuk dan memahami identitas diri. Wacana adalah layar di mana kita diimajinasikan dan direpresentasikan (diinterpretasikan) bagi diri sendiri. Masalahnya adalah bahwa dalam kenyataannya ada berbagai pihak lain yang ikut bermain, yang diwarnai berbagai kepentingan juga: kepentingan politis, komersial, filosofis, religius, artistic, atau gender, kelas social, pendapatan, dan orientasi politis. Berbagai kepentingan itu mengakibatkan representasi tentang kita tidak selalu autentik dan fair.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 33pt;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Dalam dunia filsafat, persoalan makna ini telah menjadi perhatian utama para tokoh filsafat dari aliran analisa atau yang lebih terkenal dengan sebutan aliran filsafat bahasa. Bagi Wittgenstein bahwa bahasa menggambarkan realitas dan makna yang terkandung di dalamnya tiada lain merupakan penggambaran suatu keadaan factual dalam dunia realitas melalui bahasa. Yang mengandung makna hanyalah hal-hal yang dapat diverifikasi secara empirik. Fakta ialah suatu &lt;i&gt;Sachverhalt&lt;/i&gt; (bahasa Jerman), yaitu hubungan-hubungan yang dipunyai oleh objek-objek. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 33pt;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Bahasa meliputi &lt;i&gt;tautology&lt;/i&gt; (seperti dalam matematika) atau fakta-fakta yang dapat dicek. Di dalam lingkungan bahasa yang bermakna, jadi di dalam lingkungan dunia ini, segala sesuatu seperti adanya. Nilai terletak di luar dunia dan tak pernah dapat diungkap oleh bahasa, karena bahasa tak dapat mengatasi lingkungan fakta (apa yang ada, das Sein), sedangkan nilai menyangkut apa yang seharusnya ada (das Solen). Karena itulah etika tak dapat dituturkan, alias dibahasakan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 33pt;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Pikiran adalah kalimat (proposisi) yang bermakna. Proposisi itu merupakan suatu gambaran realitas, Sebuah proposisi harus dapat menunjukkan pengertian tertentu tentang realitas, sehingga seseorang yang dihadapkan pada proposisi seperti itu hanya perlu mengatakan “ya” atau “tidak” untuk menyetujui realitas yang dikandung oleh proposisi tersebut. Hanya proposisi yang memiliki makna. Proposisi-proposisi atau kalimat-kalimat yang logis memperlihatkan struktur dunia. Logika bukan suatu ajaran, melainkan cerminan dunia. Penyelidikan logis merupakan penyelidikan mengenai segala bentuk keajegan. Namun, ketidakbermaknaannya itu bukan pada dirinya, sebab metafisika tidak bermakna atas nama bahasa logika.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0in;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Makna dalam Filsafat&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 33pt;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Fungsi filsafat adalah menunjukkan makna sesuatu yang tidak dapat dikatakan (atau dipikirkan) dengan menghadirkan secara jelas sesuatu yang dapat dikatakan. Hanya sebatas itu, Merleau Ponty, seorang filosof postmodern mengatakan, Makna realitas tentang dunia itu berliku-liku dan mempunyai banyak dimensi. Menurut Merleau Ponty, pengetahuan manusia selalu fragmenter dan tempat-tempat terang dipisahkan dari tempat-tempat gelap. Jika filsafat memfokuskan pada satu dimensi dari banyak dimensi tentang realitas, maka yang lainnya berada dalam kegelapan. Karena itu, Merleau Ponty merasa curiga terhadap filosof yang berbicara dengan terang dan jelas. Jalan filsafat itu selalu penuh dengan risiko. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0in;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Makna dalam Filsafat Modernisme&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 33pt;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Modernisme membawa erosi makna, konflik yang tak berkesudahan tentang nilai-nilai politis, dan ancaman tembok besi birokrasi. Rasionalitas yang dikembangkan modernisme, memang membuat dunia tertib dan dapat diandalkan, tetapi ia tak dapat membuat dunia menjadi bermakna. Robert Marcus (1898-1979) berpandangan bahwa masyarakat industri modern adalah masyarakat yang tidak sehat. Karena masyarakat tersebut merupakan masyarakat yang berdimensi satu (&lt;i&gt;one dimensional man&lt;/i&gt;). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 33pt;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Pada masyarakat semacam ini, segala segi kehidupannya diarahkan pada satu tujuan, yaitu keberlangsungan dan peningkatan sistem yang telah ada yang tidak lain adalah sistem kapitalisme. Masyarakat tersebut juga bersifat represif dan totaliter, karena pengarahan pada satu tujuan itu berarti menyingkirkan dan menindas dimensi-dimensi yang lain yang tidak menyetujui atau tidak sesuai dengan sistem tersebut. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 33pt;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Hal itu bisa dilaksanakan dengan lancar dan efektif karena teknologi modern, yang berkat kemampuannya untuk menciptakan kemakmuran bagi manusia dan pengaturan masyarakat yang nampak serba rasional, dapat memuaskan kebutuhan-kebutuhan hidup yang pada tahap-tahap masyarakat sebelumnya menimbulkan protes dan konflik sosial. Manusia yang tinggal dalam masyarakat tersebut dibuat pasif dan representatif, tidak lagi menghendaki adanya suatu perubahan. Semua ini, kata Marcus, merupakan akibat dari krisis ilmu pengetahuan modern.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0in;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Makna dalam Filsafat Postmodernisme&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 33pt;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Ernest Gellner, ia berpendapat bahwa gagasan utama posmodernisme terletak pada suatu keyakinan yang menyatakan bahwa semua yang ada adalah sebuah teks; bahwa bahan pokok semua teks; masyarakat dan hampir apapun adalah makna-makna yang perlu diurai atau didekonstruksi, dan bahwa pandangan mengenai realitas yang objektif harus dicurigai. Kebenaran bagi postmodernisme adalah sukar dipahami, multi bentuk, batiniah, dan subjektif. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 33pt;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Ini artinya, bahwa untuk menemukan postmodernisme, kata Akbar S. Ahmed, maka harus dicari kekayaan makna, bukan kejelasan makna, juga dihindari memilih antara hitam dan putih, memilih ini atau itu, dan terimalah keduanya. Selanjutnya buatlah tingkatan makna dan kombinasi fokus yang banyak dan berusaha menemukan sendiri dengan pengetahuan sendiri. Di mana tidak ada yang sakral, setiap keyakinan bisa direvisi. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 33pt;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Jacques Derrida, mengajukan logosentrisme, yaitu kehendak untuk sebuah pusat. Secara harfiah logosentrisme artinya keterpusatan pada logos (kata). Tradisi logosentris yang dimaksud Derrida adalah suatu tradisi pemikiran yang didasarkan pada anggapan tertentu mengenai “ada” . Logosentrisme berdasarkan anggapan bahwa “ada” adalah sama dengan kehadiran dan yang benar adalah yang riil atau yang hadir. Semua yang ada di dunia ini “ada” karena dihadirkan oleh “logos” (kata). Makna selalu tertenun dalam teks. Dengan kata lain, manusia tidak dapat berpikir atau menulis apa pun tanpa merujuk pada tradisi pemikiran tertentu yang mengendap dan dilestarikan dalam sekian banyak teks yang saling berkaitan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 33pt;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Adapun sisi positif dan menyegarkan dari gerakan ini, yang oleh Barthes disebut sebagai “&lt;i&gt;jouissance&lt;/i&gt;” adalah pandangannya mengenai perlunya toleransi, pentingnya pluralisme, kebebasan meneliti, perlunya memahami orang lain, kesalehan, kasih sayang, memberikan perhatian pada orang tua dan orang yang tak beruntung, serta mengetahui dan memahami satu sama lain. Gerakan ini hanyalah merupakan fase historis sejarah manusia yang menawarkan kemungkinan yang belum ada sebelumnya. Postmodernisme sebagaimana telah diuraikan di atas, adalah suatu gerakan yang memayungi berbagai aliran pemikiran yang mencoba menggugat dan mengkritisi kemapanan dan sekaligus keangkuhan yang ditampilkan modernisme.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0in;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Perluasan dan Pengembangan Persepsi untuk Mencari Makna&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 33pt;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Persepsi dibentuk oleh kehidupan, pengetahuan, nilai-nilai, dan keyakinan yang melahirkan sikap. Persepsi memiliki kekuatan luar biasa hingga menentukan perjalanan hidup manusia, baik dalam urusan rumah tangga, usaha, sosial, kesehatan dan spiritual. Jika Anda berpikir negatif terhadap pekerjaan dan pasangan Anda maka akal akan mengesampingkan sisi lain dari pasangan dan pekerjaan Anda.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 33pt;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Socrates mengatakan, kita tidak melihat segala sesuatu apa adanya, tetapi kita melihatnya sesuai dengan persepsi kita. Tetapi ketika akal manusia tidak terlatih berpersepsi dengan benar, maka ia tidak dapat membedakan antara sesuatu yang mengancam kehidupan dan sesuatu yang mendatangkan manfaat baginya. Segala sesuatu ada dalam persepsi. Jika saya tidak mengetahui saat ini, bukan berarti sesuatu itu tidak ada secara faktual, tapi ia tidak ada dalam persepsi saya saja. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 33pt;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Pada dasarnya kenyataan adalah persepsi yang telah diprogram oleh manusia. Setiap orang memiliki persepsi yang berbeda-beda tentang kenyataan hidup yang mereka jalani. Bahkan perbedaan itu terjadi antara satu suku dan suku yang lain, dan antara pemeluk satu agama dan pemeluk agama yang lain. Pemahaman Anda tentang sesuatu belum tentu sama dengan pemahaman orang lain. Dalam tataran intern sendiripun persepsi orang terhadap kebudayaan yang sama bisa beragam dan berubah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0in;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Persepsi dan Krisis Eksistensial Manusia&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 33pt;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Kehidupan manusia didominasi dengan sederet kisah tragis. Manusia terkondisi dengan persepsi untuk selalu mengejar kesenangan dan kebahagiaan yang semu, serba instant dan dangkal. Manusia terinfeksi penyakit nostalgia masa silam, sambil gamang menghadapi masa sekarang, dan gelisah akan masa depan. Selain itu, ia terus menerus hidup dalam aura panas persaingan produktifitas, prestasi, kepentingan politis dan ekonomi, yang memicu manusia mengambil jalan pintas, yang kerap brutal, illegal, immoral, dan berakibat fatal. Gempuran informasi yang mempesona serta tawaran pasar yang menjanjikan transformasi progresif kualitas hidup seringkali hanyalah ilusi dan simulasi. Karenanya manusia berhadapan dengan ambiguitas, dan ia sendiri akhirnya menjadi suatu yang ambigu. Itu sebabnya peradaban manusia pun rentan terjerembab ke dalam krisis eksistensial.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 33pt;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Krisis eksistensial peradaban muncul dalam &lt;i&gt;simtom&lt;/i&gt; hilangnya nilai-nilai luhur dan mendasar dalam hidupnya. Manusia tak lagi mempunyai prioritas hidup; tak lagi mempunyai kriteria nilai serta tujuan; tak mempunyai harapan; dan tak berani mencari makna terdalam. Fenomena di atas antara lain disebabkan oleh “pendewaan” terhadap kerja. Dunia manusia menjadi begitu riuh, bising dan glamour dengan urusan bisnis dan kerja sehingga manusia pun terbelenggu secara eksistensial. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 33pt;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Sebagai sandera, individu digempur oleh kedangkalan epistemik, karikatur para elite politik berupa kebobrokan moral, gempuran media massa yang &lt;i&gt;depthless&lt;/i&gt;, karnavalisasi praktik keagamaan, simulasi dan hipnotis televisi berupa peternakan artis, tontonan takhayul, infotainment kriminal, hiburan dangkal berupa gosip selebritis dan hiruk pikuk membunuh makna. Oleh karena itu individu terpojok ke kamar frigiditas empati dan terpasung oleh daya konsumen teatrikal.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 33pt;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Bahkan Josef Pieper seorang filosof dari Jerman, memakai mitos Sisifus, yaitu mitos yang mengilustrasikan realitas pergulatan eksistensial manusia dengan absurditas (Albert Camus), dengan kesia-siaan, sebagai analogi bahwa kerja merupakan rantai abadi yang mengikat manusia, tanpa manusia itu sendiri menkmati buah makna dari pekerjaannya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0in;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Persepsi melawan Absurditas (nir Makna)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 33pt;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Pemahaman atau persepsi kita (disadari atau tidak, dikehendaki atau tidak) tidak lepas dari bentukan tradisi, sejarah, gambaran tentang identitas, pelbagai asumsi dan kepentingan tersembunyi serta tujuan tertentu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 33pt;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Mencari esensi persepsi berarti menyatakan berarti menyatakan bahwa persepsi tidak diandaikan benar saja, tetapi merupakan jalan masuk kepada kebenaran. Berpersepsi atau mengamati sama dengan percaya pada dunia. Maksudnya, dunia adalah apa yang kita persepsi. Dunia, dalam pandangan Merleau Ponty, bukanlah dunia yang kita pikirkan, melainkan yang kita hayati. Kita senantiasa terbuka terhadap dunia, dan tidak dapat disangkal, kita berkomunikasi dengan dunia, tapi kita tidak memilikinya. Karena itu, dunia tidak dapat dikuasai sepenuhnya. &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Ada&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; ‘Suatu Dunia’ atau lebih baik lagi ‘Dunia Ada’, bagi tesis tetap dalam hidup saya ini tak pernah dapat saya berikan alasan terdalam, tegas Merleau Ponty. Pikiran atau makna, menurut Merleau Ponty, tidak mendahului perkataan, tetapi terjelma dalam perkataan itu sendiri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0in;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Peran Kesendirian dalam Pencarian Makna melalui Persepsi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 33pt;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Bahwa tak gampang memilah antara kenyataan dengan ilusi, kebenaran melebur dengan kenistaan, tirani menyatu dengan demokrasi, dan seterusnya. Waktu senggang adalah &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;medan&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; radikalisasi dan penajaman terhadap segala hal yang terpahami dan tak terpahami. Dalam waktu senggang, yang menjadi antenanya adalah sikap sunyi, sikap kontemplatif yang memungkinkan ketersingkapan Realitas (&lt;i&gt;Being&lt;/i&gt;) bagi kita. Ia adalah sikap menerima, sikap kontemplatif, sikap yang tak hanya membiarkan segala peristiwa berlalu begitu saja, keberanian merogoh kedalaman di balik seluruh ciptaan. Waktu senggang adalah ranah yang membiarkan segala kesubtilan dan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;keganjilan realitas merenangi imajinasi atau membiarkan imajinasi bertualang mengumpulkan ide-ide, merumuskan penalaran, mengasah daya abstraksi, menajamkan intuisi. &lt;i&gt;The Art of Silence&lt;/i&gt;. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 33pt;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Menurut Heidegger bahwa subjek membiarkan realitas &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Ada&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; menjadi dirinya sendiri, tanpa mereduksinya ke dalam rumusan dan penalaran yang positif, agresif, posesif dan seringkali naïf. Dengan kata lain, pola berpikir demikian memperlihatkan keluasan kesadaran menggauli realitas, membiarkan pemikiran menampilkan pikiran itu sendiri (kesadaran baru ini penting dicermati oleh anggapan yang melihat kontemplasi sekadar sebagai pembacaan subjektif). Dengan itu, segala fenomena dan subjek masing-masing membuka diri, dan memberi peluang agar peristiwa tampil sendiri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 33pt;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Individu mesti menyimak sekaligus bermain dengan tindakan, terhadap realitas yang biasanya merupakan riwayat kebencian, penderitaan, propaganda, tindakan licik, dan intrik politik yang keji dan serakah. Kesendirian yang mesti diisi dengan intuisi, imajinasi, emosi yang berbobot, kesunyian yang sarat makna dapat mengurai hal itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0in;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Pencarian Makna dalam Tradisi Islam&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 33pt;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Kebenaran yang diakui dalam tradisi Islam merupakan kebenaran eksternal yang tidak mampu dipersepsi dengan posisi kita sebagai manusia. Maka dari itu tradisi berpikir dalam Islam adalah tradisi berpikir yang berpusat pada teks (logosentrisme), yaitu pengakuan teks al-Quran sebagai sumber kebenaran. Walaupun mempunyai satu kitab suci yang merupakan satu-satunya sumber kebenaran ternyata banyak perbedaan di kalangan umat Islam dalam rangka mencari makna tentang kebenaran itu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 33pt;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Berkenaan dengan hal ini, Abid al-Jabiri mengklasifikasikannya menjadi tiga kelompok, yang masing-masing mengklaim metodenya sebagai yang paling benar dalam mencari makna kebenaran.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 33pt;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Kelompok pertama adalah kelompok yang berpola pikir model &lt;i&gt;al-Bayani&lt;/i&gt;, menggunakan pola berpikir deduktif interpretatif. Didominasi oleh para ulama fiqih, ahli nahwu dan ahli kalam (teologi). Kelompok kedua menggunakan model &lt;i&gt;al-Irfani&lt;/i&gt;, yaitu kelompok yang menggunakan asumsi bahwa yang ada (&lt;i&gt;al-wujud&lt;/i&gt;) tidak hanya ada di alam manusia, terdapat yang ada (&lt;i&gt;al-wujud&lt;/i&gt;) di luar tatanan rasional empirik. Untuk yang disebut terakhir ini hanya bisa ditempuh dengan epistemologi iman melalui latihan spiritual (&lt;i&gt;riyadah&lt;/i&gt;). Kalangan ini merupakan representasi dari para ulama tasawuf. Kelompok terakhir adalah kelompok dengan model berpikir &lt;i&gt;al-Burhani&lt;/i&gt; atau induktif empiris. Mereka adalah para filosof Muslim.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 33pt;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Nah, kalau kita ikuti paparan di atas ternyata ternyata untuk mencari hidup yang bermakna atau mencari kebenaran dalam hidup ternyata tidak sederhana. Dibutuhkan banyak cucuran keringat atau mungkin juga cucuran darah demi makna, sebagaimana yang bisa kita baca dalam literatur sejarah manusia. Tapi kita tidak boleh menyerah, karena walaupun singkat hidup adalah proses pencarian makna. &lt;i&gt;Wallahu a’lam&lt;/i&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 33pt;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1886692434588734437-5400992018790696566?l=matahati-hatibermata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://matahati-hatibermata.blogspot.com/feeds/5400992018790696566/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://matahati-hatibermata.blogspot.com/2010/06/pencarian-makna-melalui-persepsi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1886692434588734437/posts/default/5400992018790696566'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1886692434588734437/posts/default/5400992018790696566'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://matahati-hatibermata.blogspot.com/2010/06/pencarian-makna-melalui-persepsi.html' title='Pencarian Makna melalui Persepsi'/><author><name>Ahmad Junaidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00999491777416961806</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/_QuLB7CyCzAw/TGeKqw22b2I/AAAAAAAAAJk/z6-mhpqIZ8U/S220/IMG000020.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_QuLB7CyCzAw/TAnZU5W9FUI/AAAAAAAAAIA/iqAjd5SIlOU/s72-c/images.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1886692434588734437.post-776455500408234091</id><published>2010-06-04T21:47:00.000-07:00</published><updated>2010-06-04T21:50:52.891-07:00</updated><title type='text'>Kebebasan dan Kesadaran untuk “Hidup”</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_QuLB7CyCzAw/TAnXjmncPAI/AAAAAAAAAH4/9GylSHp2heo/s1600/110507sartrejeanpaul.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 254px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_QuLB7CyCzAw/TAnXjmncPAI/AAAAAAAAAH4/9GylSHp2heo/s320/110507sartrejeanpaul.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5479147428334287874" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CP4%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C04%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="place"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="City"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !mso]&gt;&lt;object classid="clsid:38481807-CA0E-42D2-BF39-B33AF135CC4D" id="ieooui"&gt;&lt;/object&gt; &lt;style&gt; st1\:*{behavior:url(#ieooui) } &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:Calibri; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:swiss; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0in; 	margin-bottom:.0001pt; 	text-align:justify; 	text-indent:.5in; 	line-height:150%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:Calibri; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-bidi-font-family:Arial;} p 	{mso-margin-top-alt:auto; 	margin-right:0in; 	mso-margin-bottom-alt:auto; 	margin-left:0in; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} @page Section1 	{size:8.5in 11.0in; 	margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.25in; 	mso-header-margin:.5in; 	mso-footer-margin:.5in; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; 	mso-para-margin:0in; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 33pt;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Claude Levi-Strauss (Filsuf Strukturalis) pernah melakukan perdebatan panas dengan Jean Paul Sartre (Filsuf Eksistensialis) seputar topik hakikat kebebasan dan kesadaran manusia. Berdasarkan teorinya, Levi-Strauss mengkritik filsafat eksistensialisme yang dibawa Sartre.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 33pt;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Dalam pandangan Sartre dan kaum eksistensialis lainnya, manusia dipandang sebagai subjek yang otonom, yang secara fundamental bebas berbuat dan menentukan pilihan. Manusia merupakan makhluk yang sadar akan dirinya sendiri. Dengan kata lain, ia sangat mengagungkan kebebasan dan pilihan individual.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 33pt;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Namun Levi-Strauss menegaskan bahwa manusia tidak sebebas dan seotonom seperti bayangan Sartre. Ia memang mengakui manusia sebagai individu yang sadar akan dirinya dan mampu membuat pilihan secara bebas. Tapi, dibalik itu, ada ‘struktur’ tertentu yang tanpa disadarinya menentukan pilihan tersebut.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 33pt;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Maka, menurut dia, tugas utama ilmu pengetahuan adalah menggali struktur terdalam di balik keputusan tersebut. Dengan demikian, Levi-Strauss seperti mau meniadakan posisi manusia sebagai subjek dan menempatkan ‘struktur terdalam’ sebagai sentral –pemikiran yang bertentangan sama sekali dengan Sartre. Menurut Levi-Strauss, dalam kehidupan pola pikir kita sebetulnya dikendalikan oleh sebuah struktur yang ada dalam diri kita. Kita beraktifitas dikendalikan oleh konsep agama, latarbelakang pendidikan, adat atau tradisi, atau mungkin identitas atau jabatan yang kita sandang. Kita hampir tidak pernah berpikir untuk melakukan apa yang sebetulnya ingin kita lakukan dan tidak melakukan apa yang sebetulnya tidak ingin kita lakukan. Takut dikatakan sebagai orang yang berdosa, khawatir dikatakan sebagai orang yang tidak berpendidikan, khawatir dikucilkan dari masyarakat, tidak berbudaya atau mungkin kita akan bertingkah laku sebagai sosok yang berkuasa, akan menderita kalau kekuasaan itu lepas dari diri kita. Kekaguman yang terpaksa pada seorang tokoh, karena kalau tidak, khawatir berdosa, kualat dan sebagainya. Hal-hal seperti itulah yang kemudian memberi bentuk pada kehidupan kita baik dalam tataran tingkah laku, pola pikir maupun perkataan. Atau kalau menurut istilah saya, orang yang tidak menemukan jati diri, belum mengetahui hakekat dirinya sendiri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 33pt; line-height: 150%;"&gt;Orang yang &lt;i&gt;sak karepe dewe&lt;/i&gt;, &lt;i&gt;emoh&lt;/i&gt; diatur, itulah mungkin pernyataan-pernyataan yang bisa dialamatkan pada kaum eksistensialis. Ingin melakukan apa yang memang ingin dia lakukan, dan tidak ingin melakukan sesuatu yang memang tidak ingin dia lakukan. Memberi warna yang pekat pada ke’aku’annya. Tidak ingin terbebani oleh norma-norma atau aturan-aturan, pemberontak, anti kemapanan atau mungkin anti sosial. Seseorang yang hidup tanpa pretensi apapun. &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 33pt; line-height: 150%;"&gt;Keinginan untuk bebas dan tidak diganggu atau terikat oleh orang lain pada akhirnya juga mencapai suatu titik ekstrem pada diri seorang Sartre ketika berusia 12 tahun. Dia secara sadar melepaskan diri dari adanya ‘&lt;i&gt;liyan&lt;/i&gt;’ teragung, Tuhan sendiri. Bagi Sartre ABG, Tuhan adalah figur yang suka menghukum, mahatahu, dan ada di mana-mana, sehingga mampu melongok ke setiap sudut-sudut relung hatinya yang diliputi rasa bersalah. Ini jelas memuakkan. “Aku membutuhkan seorang Pencipta Semesta, namun orang memberikan daku seorang bos nomor wahid.” Sartre menyebut &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;gaya&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; Tuhan ‘sang polisi’ ini sebagai ‘kekurangajaran yang keterlaluan’. Ia bercerita,&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 33pt; line-height: 150%;"&gt;Corak &lt;em&gt;resignation &lt;/em&gt;(&lt;em&gt;moving away from others&lt;/em&gt;) ini membuat Sartre menganggap Tuhan mengganggu kebebasan (&lt;em&gt;freedom&lt;/em&gt;) dan kedamaian sempurnanya (&lt;em&gt;perfect serenity&lt;/em&gt;). Tuhan adalah &lt;i&gt;liyan&lt;/i&gt; yang ikut campur urusan pribadi, mengungkit kesalahan-kesalahannya hingga ia tidak punya tempat untuk melarikan diri. Merasa muak, Sartre pun menolak Tuhan pada usia semuda itu. Kelak, pemikirannya ini akan ia kembangkan dan formulasikan dalam filsafat eksistensialis-ateistiknya: manusia sungguh-sungguh bebas dan, atas nama kebebasan, Tuhan harus tidak ada karena adanya Tuhan menghambat kebebasan manusia!&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 38.5pt;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Menyukai yang baik-baik dengan keadaan terpaksa kita akan terjerumus dalam strukturalisme. Jika bebas dan tak ada kendali kita akan memasuki pintu eksistensialisme. Pertarungan seperti di atas merupakan sesuatu yang jamak di kancah kajian filsafat. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 38.5pt;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Dalam realitas kehidupan, kita bertemu dengan banyak agama, ajaran filsafat maupun dengan ideologi yang ditujukan untuk memberikan tuntunan kepada kita dalam mengarungi kehidupan. Dalam pengarungan hidup itu kita tidak bisa melepaskan diri dari pertarungan nilai-nilai di atas. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 38.5pt;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Walaupun hal di atas menawarkan diri dan bertebaran, kita tetap tidak bisa mengetahui yang “sebenarnya” tentang diri kita dan dunia yang ada di sekeliling. Untuk itulah kita harus mengarusutamakan kesadaran dalam kehidupan, memahami sebanyak-banyaknya diri kita dan dunia. Agama, filsafat, ataupun ideologi tidak berperan banyak banyak dalam hidup tanpa adanya kesadaran. Karena pengetahuan atau eksistensi tidak dapat benar-benar hadir. Semua disaring, semua ditafsir: kita tidak dapat melangkah keluar dari persepsi indra dan bahasa manusiawi. Jadi kalau ingin “hidup” kita harus memperluas kesadaran, memperluas persepsi indera dan bahasa manusiawi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 38.5pt;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1886692434588734437-776455500408234091?l=matahati-hatibermata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://matahati-hatibermata.blogspot.com/feeds/776455500408234091/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://matahati-hatibermata.blogspot.com/2010/06/kebebasan-dan-kesadaran-untuk-hidup.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1886692434588734437/posts/default/776455500408234091'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1886692434588734437/posts/default/776455500408234091'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://matahati-hatibermata.blogspot.com/2010/06/kebebasan-dan-kesadaran-untuk-hidup.html' title='Kebebasan dan Kesadaran untuk “Hidup”'/><author><name>Ahmad Junaidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00999491777416961806</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/_QuLB7CyCzAw/TGeKqw22b2I/AAAAAAAAAJk/z6-mhpqIZ8U/S220/IMG000020.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_QuLB7CyCzAw/TAnXjmncPAI/AAAAAAAAAH4/9GylSHp2heo/s72-c/110507sartrejeanpaul.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1886692434588734437.post-8080722513276025586</id><published>2010-02-15T06:22:00.000-08:00</published><updated>2010-02-15T06:39:35.255-08:00</updated><title type='text'>Kebenaran Palsu</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_QuLB7CyCzAw/S3la312QwQI/AAAAAAAAAHM/CudZd2vsGa8/s1600-h/joker1.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 214px; height: 320px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_QuLB7CyCzAw/S3la312QwQI/AAAAAAAAAHM/CudZd2vsGa8/s320/joker1.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5438477940420559106" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Kita punya satu kebenaran mutlak: SEMUANYA PALSU..!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1886692434588734437-8080722513276025586?l=matahati-hatibermata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://matahati-hatibermata.blogspot.com/feeds/8080722513276025586/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://matahati-hatibermata.blogspot.com/2010/02/kebenaran-palsu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1886692434588734437/posts/default/8080722513276025586'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1886692434588734437/posts/default/8080722513276025586'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://matahati-hatibermata.blogspot.com/2010/02/kebenaran-palsu.html' title='Kebenaran Palsu'/><author><name>Ahmad Junaidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00999491777416961806</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/_QuLB7CyCzAw/TGeKqw22b2I/AAAAAAAAAJk/z6-mhpqIZ8U/S220/IMG000020.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_QuLB7CyCzAw/S3la312QwQI/AAAAAAAAAHM/CudZd2vsGa8/s72-c/joker1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1886692434588734437.post-9196855268627374446</id><published>2010-01-28T09:04:00.000-08:00</published><updated>2010-01-28T09:17:09.885-08:00</updated><title type='text'>Filsafat Hukum vis a vis Filsafat Hukum Islam</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_QuLB7CyCzAw/S2HFx8tJYwI/AAAAAAAAAHE/PnAOPPrFfig/s1600-h/dewikeadilan.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 216px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_QuLB7CyCzAw/S2HFx8tJYwI/AAAAAAAAAHE/PnAOPPrFfig/s320/dewikeadilan.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5431840087485276930" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CXPMINI%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="City"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="place"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !mso]&gt;&lt;object classid="clsid:38481807-CA0E-42D2-BF39-B33AF135CC4D" id="ieooui"&gt;&lt;/object&gt; &lt;style&gt; st1\:*{behavior:url(#ieooui) } &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:Calibri; 	panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:swiss; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	text-align:justify; 	text-indent:36.0pt; 	line-height:150%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:Calibri; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-bidi-font-family:Arial;} @page Section1 	{size:21.0cm 841.95pt; 	margin:36.0pt 36.0pt 36.0pt 36.0pt; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0cm;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;Avant-propos&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 33pt;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;Tulisan ini bermula dari seringnya saya diberi tugas oleh Jurusan Syari’ah Sekolah Tinggi Agama Islam (STAIN) JEMBER untuk mengajar Filsafat Hukum. Sebenarnya vak wajib saya adalah Filsafat Hukum Islam, mungkin pihak yang berwenang di jurusan Syari’ah memandang ada kemiripan antara vak wajib saya dengan filsafat hukum, yaitu sama-sama ada kata “filsafat hukum”nya. Padahal kalau diperhatikan lebih dalam lagi, kedua matakuliah tersebut dari sisi epistemologisnya sangat berbeda, bahkan bertolak belakang. Jadi yang lebih cocok untuk mengajar matakuliah tersebut sebetulnya adalah dosen yang berlatarbelakang ilmu hukum umum. Tapi tidak apalah, hal tersebut menjadi tantangan bagi saya untuk melakukan pengembaraan intelektual dalam bidang yang berada di luar vak wajib saya. Dan ternyata pekerjaan itu memang sangat mengasyikkan. Untuk lebih jelasnya, inilah hasil pengembaraan saya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0cm;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;Filsafat Hukum: Pola Berpikir Dari Bawah ke Atas (Induktif)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 33pt;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;Dalam menalar, Filsafat Hukum Beranjak untuk mempertontonkan tradisi berpikir dan bermetode yang berwatak “spekulatif-reflektif”, terhadap objek dalam kajian-kajiannya. Filsafat hukum tidak mungkin dilakukan tanpa melibatkan sejumlah argumentasi-argumentasi yuridis rasional yang dapat saja dipatahkan oleh paket argumentasi lainnya, dan jika tiba saatnya untuk itu, ia tidak lagi menerima pandangan yuridikal sebagai semata-mata yang mutlak benar, yang semata-mata didasarkan pada otoritas yang dimiliki orang-orang tertentu yang merumuskannya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 33pt;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;Tiap kepastian atau pun kemutlakan yang diperagakan dalam filsafat hukum secara substansial harus dinyatakan dan dibuktikan dalam cara-cara yang rasional. Filsafat hukum hanya akan menjadi semata-mata “dogmatis” (mengekspresikan pandangan-pandangan yang rigid atau kaku) dengan sendirinya, ketika ia tidak lagi terbuka terhadap argumentasi baru dan secara ngotot berpegangan pada pemahaman yang hanya diperoleh sekali saja. Dengan begitu, secara praktikal filsafat hukum justru akan mengimplikasikan kekakuan (ketiadaan toleransi). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 33pt;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;Hal itu akan mengganggu keterbukaan sebagai hal yang justru esensial dalam sejumlah situs komunikasi kemasyarakatan. Lebih jauh, filsafat hukum akan terdorong menjadi kegiatan yang tidak rasional, yang berarti bahwa faktor emosi akan mendominasi tanpa kendali atau secara tidak proporsional. Seringkali pemahaman dogmatis secara praktis sering berfungsi sebagai kepanjangan tangan kekuasaan. Jika argumentasi rasional yang terbuka tidak lagi berperan sebagai batu ujian terakhir bagi filsafat hukum, maka suatu diskusi kefilsafatan yang sesungguhnya akan sangat membahayakan.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 33pt;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;Oleh karena itulah berdasarkan hakikatnya, filsafat hukum akan selalu mengedepankan keterbukaan dan toleransi, sehingga dapat dikatakan filsafat hukum bukanlah pemahaman agama terhadap hukum atau dogma-dogma agama terhadap hukum, yang cenderung tertutup terhadap falsifikasi. Filsafat hukum justru berangkat dari keragu-raguan (ketidakpastian) yang darinya muncul berbagai produk hukum hukum yang dibuat manusia. Dalam hal ini, filsafat hukum akan mempertanyakan segala sesuatu yang ada hubungannya dengan hukum yang dibuat manusia, sambil mencurahkan justifikasi dan falsifikasi di atasnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 33pt;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;Filsafat hukum lebih terarah untuk pengevaluasian atau pengkritisian sensasi-sensasi tertentu dari hukum yang dikomposisikan manusia, sehingga berdasarkan hal itu dapat disimpulkan hukum yang mana sebagai hukum yang baik dan benar, atau hukum mana yang adil.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 33pt;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;Pada filsafat hukum, kebenaran masih harus ditemukan dan masih menuntut untuk secara berkesinambungan dikritisi, bila perlu diperbaharui (dengan mendasarkan diri pada perkembangan) atau dianulir dengan dalil yang datang kemudian, ini lantaran, bahwa problem-problem hukum yang diperhadapkan pada masyarakat manusia berbeda menurut waktu dan tempat. Itu berarti bahwa motivasi untuk berfilsafat di bidang hukum selalu berubah-ubah. Sudut motif, perspektif, waktu, warna dan &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;gaya&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; suatu filsafat hukum, semuanya berkait dan berkelindan dalam pembentukannya. Sebagaimana pemikiran Aristoteles, Immanuel Kant ataupun Hans Kelsen yang berbeda antar satu dengan lainnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0cm;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;Filsafat Hukum Islam: Pola Berpikir Dari Atas ke Bawah (Deduktif)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 38.5pt;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;Studi atas doktrin-doktrin keagamaan, cenderung bertitik tolak dari sesuatu yang pasti atau kepastian yang berwatak langsung. Kebenaran dogmatis akan diterima begitu saja, tanpa harus diargumentasikan dengan cara-cara yang rasional dan logis. Umumnya, orang menerima dengan begitu saja, tanpa harus mempermasalahkan, hal baik-buruknya, benar-salahnya atau rasional-tidaknya. Sekalipun demikian, dalam konteks ini dapat saja diajukan sejumlah argumen yang memenuhi kriteria rasional dari seorang ulama yang memiliki otoritas, artinya orang akan menerima begitu saja karena otoritas tersebut. Studi atas agama hadir sebagai suatu putusan spesifik yang dapat diberikan landasan rasional, namun keyakinan adalah sesuatu yang sama sekali berbeda dibanding yang diperagakan dalam filsafat hukum, yang cenderung bergerak dengan cara-cara yang spekulatif dan reflektif.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 33pt;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;Dalam wilayah filsafat hukum Islam, kebenaran sudah ada dan bersifat mutlak, di sini kita hanya memerlukan dalil-dalil yang menjustifikasi, tidak boleh dikritisi apalagi dianulir oleh dalil baru, karena hal ini merupakan sesuatu yang dinyatakan atau bersumber dari Dzat Yang Tidak Terbatas, Yang Melampaui segala sesuatu dan menciptakan semesta beserta segenap isinya. Jadi boleh dibilang tidak akan ada yang namanya Filsafat Hukum Islam dari perspektif manusia (makhluk), kita hanya akan mengenal “Ilmu Hukum Islam” atau “Dogmatika Hukum Islam”. Subjek-material dari Dogmatika Hukum Islam ini adalah teks-teks otoritatif yang diwahyukan Tuhan dalam kitab suci al-Quran, yang mengatur tentang bagaimana manusia sebagai makhluk Allah SWT seharusnya berperilaku. Disiplin ilmiah ini bertitik tolak untuk ruang penginterpretasian atas teks-teks itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 33pt;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;Sebenarnya filsafat hukum Islam merupakan istilah baru. Menurut para pakar, genealogisnya bisa ditelusuri dalam literatur klasik mulai &lt;i&gt;al-Mustasfa&lt;/i&gt; nya al-Ghazali sampai &lt;i&gt;al-Muwafaqat&lt;/i&gt; nya al-Syatibi. Dalam karya para ulama tersebut filsafat hukum Islam diistilahkan dengan &lt;i&gt;Maqasid al-Shari’ah&lt;/i&gt;. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 33pt;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;Pembahasan tentang maqasid al-shari’ah ini ditujukan untuk mencari maksud Allah dari hukum syari’ah yang diturunkan melalui ayat-ayat hukum maupun hadits-hadits hukum. Dengan asumsi bahwa tujuan Allah menurunkan syari’ahnya adalah kemaslahatan (kebaikan/kedamaian) bagi manusia, bukan sebaliknya. Karena bisa jadi syari’ah yang berada pada ruang waktu yang salah tidak akan mendatangkan &lt;i&gt;maslahah&lt;/i&gt;, bahkan sebaliknya mendatangkan &lt;i&gt;mudharat &lt;/i&gt;(kerugian/bahaya). Untuk itu filsafat hukum Islam atau maqasid al-shari’ah di sini bertujuan untuk menempatkan syari’ah atau hukum Islam pada ruang dan waktu yang tepat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0cm;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;Komentar&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 33pt;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;Kesamaan antara filsafat hukum dengan filsafat hukum Islam adalah &lt;i&gt;accept a law as true law&lt;/i&gt; (menerima hukum sebagai hukum yang benar). Hanya saja filsafat hukum akan lebih terarah untuk pengevaluasian atau pengkritisan sensasi-sensasi tertentu dari hukum yang dikomposisikan manusia, sehingga berdasarkan kenyataan itu dapat disimpulkan hukum mana yang berlaku sebagai hukum yang baik dan benar, atau mana hukum yang adil. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 33pt;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;Sementara dalam filsafat hokum Islam, hukum yang benar dan adil itu tidak perlu dicari, sebab ia sudah ada, di sini orang hanya perlu memahami dan menginterpretasikannya dengan cara-cara yang relevan dan akseptabel (bisa diterima).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 33pt;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1886692434588734437-9196855268627374446?l=matahati-hatibermata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://matahati-hatibermata.blogspot.com/feeds/9196855268627374446/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://matahati-hatibermata.blogspot.com/2010/01/filsafat-hukum-vis-vis-filsafat-hukum.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1886692434588734437/posts/default/9196855268627374446'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1886692434588734437/posts/default/9196855268627374446'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://matahati-hatibermata.blogspot.com/2010/01/filsafat-hukum-vis-vis-filsafat-hukum.html' title='Filsafat Hukum vis a vis Filsafat Hukum Islam'/><author><name>Ahmad Junaidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00999491777416961806</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/_QuLB7CyCzAw/TGeKqw22b2I/AAAAAAAAAJk/z6-mhpqIZ8U/S220/IMG000020.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_QuLB7CyCzAw/S2HFx8tJYwI/AAAAAAAAAHE/PnAOPPrFfig/s72-c/dewikeadilan.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1886692434588734437.post-3803884388707228396</id><published>2010-01-14T18:57:00.000-08:00</published><updated>2010-01-14T19:00:17.061-08:00</updated><title type='text'>Pembacaan al-Quran</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_QuLB7CyCzAw/S0_aCgo2_MI/AAAAAAAAAG8/gOiHU2ajZSU/s1600-h/al-quran.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 221px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_QuLB7CyCzAw/S0_aCgo2_MI/AAAAAAAAAG8/gOiHU2ajZSU/s320/al-quran.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5426795812660640962" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5Cuser%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:Calibri; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:swiss; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0in; 	margin-bottom:.0001pt; 	text-align:justify; 	text-indent:.5in; 	line-height:150%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:Calibri; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-bidi-font-family:Arial;} @page Section1 	{size:8.5in 11.0in; 	margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.25in; 	mso-header-margin:.5in; 	mso-footer-margin:.5in; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; 	mso-para-margin:0in; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;" &gt;Kebahagiaan dalam “Membaca” al-Quran&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 33pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:85%;"  &gt;Bagi umat Islam, al-Quran adalah inti sari dari semua pengetahuan. Pengetahuan ini terkandung di dalam al-Quran dalam bentuk benih dan prinsip. Al-Quran memuat prinsip dari segala pengetahuan, termasuk kosmologi dan pengetahuan tentang alam semesta. Al-Quran bukan hanya sumber pengetahuan metafisis dan religius, melainkan juga sumber segala pengetahuan. Al-Quran adalah pedoman dan sekaligus kerangka segala kegiatan intelektual Islam.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 33pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:85%;"  &gt;Al-Quran diturunkan bagi petani sederhana di pelosok dusun maupun ahli metafisika di universitas yang berdiri megah di tengah megapolitan. Al-Quran mengandung berbagai tingkat pengertian dan berlapis makna bagi semua jenis pembacanya. Karena&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;itu, orang harus mempersiapkan diri agar dapat memahami arti al-Quran. Mempersiapkan diri dalam pengertian seseorang harus mempunyai perangkat lunak (pengetahuan yang luas) yang dibutuhkan untuk memahami informasi-informasi yang disampaikan al-Quran. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 33pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:85%;"  &gt;Ketika al-Quran membahas tentang waktu (&lt;i&gt;wa al-‘asr&lt;/i&gt;), sebelum membacanya, ada baiknya kita juga sudah punya bekal yang cukup mengenai konsep waktu. Bisa dari sudut pandang filsafat, budaya, sastra atau yang lainnya. Ketika membahas tentang keberadaan Allah (&lt;i&gt;huwa al-awwalu wa al-akhiru&lt;/i&gt;) kita akan lebih punya wacana yang menarik jika sudah membaca kajian filsafat tentang asal muasal segala sesuatu atau membaca kajian tasawuf tentang Dzat Allah. Demikian juga ketika mencermati tema-tema lain dalam al-Quran seperti relatifitas, ekonomi, pendidikan, wanita, tanaman, logam, ombak, simetri, hujan, kabut, kaca, dan sebagainya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 33pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:85%;"  &gt;Bagi orang yang suka berpikir, memahami al-Quran merupakan kegiatan yang sangat menyenangkan, karena kata-katanya penuh makna dan bernas. Ketika hati sedang gundah gulana bukalah al-Quran secara acak dan temukan poin-poin tertentu kemudin lihat konteks turun dan hadits-hadits Nabi SAW yang berkenaan dengan ayat-ayat itu maka kita dapat merasakan kesenangan tersebut dan sejenak melupakan kerepotan-kerepotan hidup yang sering tidak memberi kesempatan bagi jiwa kita untuk istirahat. Banyak tema-tema yang menarik dan dapat menjadi sumber inspirasi dalam mengarungi kehidupan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 33pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:85%;"  &gt;Keasyikan, itulah yang saya rasakan ketika “membaca” al-Quran. Maka dari itu, kemanapun pergi di tas saya selalu ada kitab tafsir kecil &lt;i&gt;Sofwah al-Bayan li Ma’ani al-Quran al-Karim&lt;/i&gt; yang di dalamnya berisi tafsir, hadits-hadits yang berkaitan dengan ayat sekaligus asbab al-nuzulnya. Tak lupa juga terjemah al-Quran &lt;i&gt;Al-‘Alim&lt;/i&gt; Edisi Ilmu Pengetahuan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 33pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:85%;"  &gt;Untuk sampai dalam kondisi seperti itu, pertama kali saya berusaha membebaskan al-Quran dari berbagai kesan yang profan seperti identiknya al-Quran dengan tradisi tertentu, budaya tertentu atau klaim otoritas golongan tertentu, seolah al-Quran adalah milik saya sendiri. Karena kalau kita mengidentikkan al-Quran dengan kesan tertentu maka jarak kita dengan al-Quran akan terasa jauh, kita tidak merasa ikut memiliki. Seterusnya, interaksi kita dengan al-Quran hanya sebatas ritualitas semata.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 33pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:85%;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 33pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:85%;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;" &gt;Kesulitan dalam “Membaca” al-Quran&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 33pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:85%;"  &gt;Membaca, atau lebih dalamnya lagi mengkaji al-Quran pada dasarnya tidak serta merta bisa dilakukan oleh semua orang. Tidak otomatis seseorang yang membeli al-Quran di toko buku bisa segera membacanya di rumah dan mengambil pelajaran darinya. Karena banyak yang harus dipersiapkan oleh seseorang yang ingin “membaca” al-Quran. Menurut Jalaluddin al-Suyuti dalam kitabnya &lt;i&gt;Al-Itqan&lt;/i&gt; ada 80 kategori ilmu pendukung apabila seseorang ingin “membaca” al-Quran. Di mana masing-masing kategori tersebut untuk mempelajarinya dibutuhkan pengamatan-pengamatan yang mendalam.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 33pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:85%;"  &gt;Selain itu seorang pembaca juga dihadapkan dengan berbagai macam model dan system penafsiran dari berbagai aliran keagamaan yang berkembang di dunia Islam, sebagaimana bisa dibaca dalam kitab &lt;i&gt;Madzahib al-Tafsir al-Islami&lt;/i&gt; karangan Ignas Goldziher. Belum lagi bila dihadapkan dengan karya kontemporer tentang kajian al-Quran semisal tulisan Mohammed Arkoun dengan “Berbagai Pembacaan Al-Quran” nya, Fazlur Rahman dengan “&lt;i&gt;Double Movement&lt;/i&gt;” nya, Nasr Hamid Abu Zaid dengan “Tekstualitas Al-Quran” nya, Muhammad Shahrur dengan “Hermeneutika Al-Quran Kontemporer” nya serta masih banyak lagi yang lainnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 33pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:85%;"  &gt;Keluasan isi al-Quran, kadang juga dibatasi oleh kajian secara parsial. Umat Islam disibukkan oleh satu tema al-Quran sedangkan tema-tema yang lain cenderung terlupakan. Contohnya, hampir semua energi ulama dan umat Islam dipergunakan untuk mengkaji ayat-ayat hukum yang jumlahnya seperlima. Sebaliknya, ayat-ayat kauniyah meskipun berjumlah sangat banyak, terabaikan. Sains sebagai perwujudan normative dari ayat-ayat kauniyah seolah-olah tidak terkait dan tidak mengantar orang Islam ke surga atau neraka sehingga tidak dibahas, baik di wilayah keilmuan maupun pengajian-pengajian.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 33pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:85%;"  &gt;Atau mungkin tentang pelestarian alam. Al-Quran sangat menganjurkan pemeluknya untuk menjaga dan melestarikan alam. Menurut al-Quran, alam dan segala isinya diciptakan Tuhan agar dipergunakan manusia secara bertanggung jawab. Al-Quran mengajarkan bahwa manusia wajib menjaga keseimbangan alam. Semua makhluk ciptaann Tuhan termasuk hewan, tumbuhan dan benda-benda mati berdzikir, memuja-muji Allah, Tuhan Semesta Alam. Tetapi faktanya umat Islam kurang &lt;i&gt;greget &lt;/i&gt;(bersemangat) dalam usaha melestarikan alam.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 33pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:85%;"  &gt;Di sisi lain, banyak kalangan yang membenci al-Quran tidak memahami kondisi ini. Mereka hanya membaca terjemahan al-Quran dan menemukan ayat-ayat yang dianggap saling berlawanan atau mungkin bertentangan dengan akal sehat. Padahal persoalannya tidaklah sesederhana itu. Dengan berbekal pembacaan seperti itu mereka menambah rumitnya permasalahan dengan mengaburkan pemahaman umat Islam awam dengan menunjukkan bahwa di dalam al-Quran banyak sekali terdapat kekeliruan dan hal-hal yang tidak masuk akal. Sebagaimana yang sekarang marak dalam situs-situs jahat mereka.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 33pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:85%;"  &gt;Bagi orang awam tentu saja kondisi-kondisi di atas sangat menyulitkan untuk membuka akses mereka terhadap al-Quran. Bagi mereka membaca al-Quran dengan benar sesuai dengan tajwidnya saja sudah membutuhkan usaha yang ekstra keras. Berbagai metode sudah diciptakan hanya untuk bisa membacanya dengan benar.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 33pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:85%;"  &gt;Dari sini bisa diambil pengertian bahwa bagi umat Islam yang masih awam, pemahaman terhadap al-Quran sangat tergantung kepada pengajaran ulama. Jika tidak karena inisiatif ulama untuk mengajar umatnya yang awam mengenai al-Quran selama itu pula akses al-Quran terhadap mereka terputus. Umat hanya mampu membaca dalam pengertian yang sederhana. Selanjutnya, kondisi ini menyebabkan mereka kesulitan untuk menemukan persoalan-persoalan yang masih tak terpikir dan luasnya hal yang tak dipikirkan. Yang berkaitan dengan kebahagiaan mereka di dunia lebih-lebih di akhirat. Yang memberitahukan mereka tentang proyek jangka panjang, visi misi yang jelas dan kongkrit yang bisa dijadikan pedoman dalam mengarungi kerasnya kehidupan. &lt;i&gt;Wallahu a’lam&lt;/i&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1886692434588734437-3803884388707228396?l=matahati-hatibermata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://matahati-hatibermata.blogspot.com/feeds/3803884388707228396/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://matahati-hatibermata.blogspot.com/2010/01/pembacaan-al-quran.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1886692434588734437/posts/default/3803884388707228396'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1886692434588734437/posts/default/3803884388707228396'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://matahati-hatibermata.blogspot.com/2010/01/pembacaan-al-quran.html' title='Pembacaan al-Quran'/><author><name>Ahmad Junaidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00999491777416961806</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/_QuLB7CyCzAw/TGeKqw22b2I/AAAAAAAAAJk/z6-mhpqIZ8U/S220/IMG000020.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_QuLB7CyCzAw/S0_aCgo2_MI/AAAAAAAAAG8/gOiHU2ajZSU/s72-c/al-quran.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1886692434588734437.post-5037408294458120765</id><published>2010-01-10T14:52:00.000-08:00</published><updated>2010-01-10T15:02:13.932-08:00</updated><title type='text'>Waktu Senggang</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_QuLB7CyCzAw/S0pbIinWh6I/AAAAAAAAAG0/rJPa0VbRQ1o/s1600-h/Plato-raphael.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 246px; height: 262px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_QuLB7CyCzAw/S0pbIinWh6I/AAAAAAAAAG0/rJPa0VbRQ1o/s320/Plato-raphael.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5425248903410124706" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;                    Waktu senggang hari-hari ini tak banyak berkaitan dengan reflektifitas atau kontemplasi. Waktu senggang kini lebih berkaitan dengan rekreasi. Dan dalam rekreasi itu orang pergi, ke luar dari diri, menuju dunia luar yang menyenangkan, seperti: tempat-tempat wisata, mall, club, negeri-negeri yang asing, wisata umroh, dan seterusnya.&lt;br /&gt;                   Sekarang, pada abad postmodern ini dunia dikelola oleh dunia yang semu, maya, dunia informasi, terlebih lagi, dunia imaji dan sensasi. Manusia makin jarang dan sulit untuk sungguh bersentuhan dengan totalitas dirinya sendiri. Perenungan diri hanya tampil sebagai implikasi, atau lebih buruk lagi, ekses atau pelarian dari medan dunia semu yang mengepungnya.&lt;br /&gt;                    Dahulu, pada masa Yunani Kuno, masyarakat polis terorganisir dan terstruktur rapi, terbagi menjadi dua lapisan, orang bebas dan para budak. Orang bebas mempunyai kesempatan luas berkecimpung dalam tataran filosofis, dalam bidang akademis, dalam mengapresiasikan seni, dalam bidang politik, berorganisasi dan berdebat. Ini dimungkinkan karena mereka memelihara dan menghidupi waktu senggang. Itu pula yang akhirnya memunculkan para pemikir avant garde kala itu seperti Anaxagoras, Parmenides, Heraklitos, Zeno, Socrates, Plato dan Aristoteles.&lt;br /&gt;                    Waktu senggang bagi orang bebas dalam masyarakat Yunani Kuno terisi kegiatan berdiskusi tentang kebenaran dan upaya-upaya menjunjungnya, berrefleksi tentang berbagai gelagat peristiwa kehidupan yang telah, sedang, dan akan ada, berdistansi dan berabstraksi dengan realitas, dan seterusnya. Tak heran bila berbagai bentuk masterpiece dalam bidang seni, filsafat dan spiritualitas lahir dan berkembang di sana, lantas diwariskan dan dipelihara dari generasi ke generasi.&lt;br /&gt;                    Pada abad pertengahan di Eropa, kaum bangsawan yang kaya raya mengisi masa mudanya dengan belajar ilmu pengetahuan di pusat-pusat kebudayaan, semisal di Andalusia Spanyol yang pada waktu itu menjadi pusat peradaban umat Islam. Menerjemahkan buku-buku filsafat berbahasa Arab ke dalam bahasa mereka. Sebagian yang lain membangun bangunan-bangunan yang megah, menciptakan karya seni, mengadakan diskusi-diskusi ilmiah dan melakukan eksperimen-eksperimen. Hal-hal tersebut mungkin dilakukan karena harta dan waktu senggang mereka. Kondisi inilah yang kemudian memunculkan Renaissance (abad Pencerahan).&lt;br /&gt;                    Di kalangan umat Islam khazanah keilmuan dan keagamaan juga dihasilkan dari waktu senggang. Penguasa-penguasa zaman dahulu banyak mendirikan museum, perpustakaan, akademi, observatorium, pusat kajian ilmu pengetahuan. Para anggota dari tempat-tempat itu diberi tempat tinggal cuma-cuma, mendapat gaji, dan dibantu dalam riset mereka. Di semua akademi, perpustakaan, madrasah, rumah sakit dan observatorium yang disebutkan di atas, kebutuhan financial selalu dipenuhi agar para ilmuwan dapat mempunyai banyak waktu senggang dan dapat mencurahkan waktu sepenuhnya pada kegiatan belajar dan riset. Negara menciptakan waktu senggang bagi para ilmuwan dan insinyur untuk menghabiskan waktu mereka sepenuhnya dalam kegiatan riset, penemuan dan penulisan.&lt;br /&gt;                    Kontemplasi dan pemikiran-pemikiran yang dilakukan di waktu senggang mungkin saja dapat memunculkan ide-ide yang tak terduga, menghasilkan karya yang luar biasa, atau inspirasi-inspirasi yang mengalir. Ini, terjadi ketika waktu senggang bukan hanya bermakna pengisi waktu untuk lebih banyak mengkonsumsi ilusi yang tak real. Banyak mengkonsumsi gaya hidup pop (generasi MTV), banyak menikmati hiburan media yang absurd dan irrasional. Bagaimana dengan waktu senggang Anda..?&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1886692434588734437-5037408294458120765?l=matahati-hatibermata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://matahati-hatibermata.blogspot.com/feeds/5037408294458120765/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://matahati-hatibermata.blogspot.com/2010/01/waktu-senggang.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1886692434588734437/posts/default/5037408294458120765'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1886692434588734437/posts/default/5037408294458120765'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://matahati-hatibermata.blogspot.com/2010/01/waktu-senggang.html' title='Waktu Senggang'/><author><name>Ahmad Junaidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00999491777416961806</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/_QuLB7CyCzAw/TGeKqw22b2I/AAAAAAAAAJk/z6-mhpqIZ8U/S220/IMG000020.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_QuLB7CyCzAw/S0pbIinWh6I/AAAAAAAAAG0/rJPa0VbRQ1o/s72-c/Plato-raphael.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1886692434588734437.post-6455640353684883176</id><published>2010-01-03T06:07:00.000-08:00</published><updated>2010-01-03T06:21:51.826-08:00</updated><title type='text'>PERTARUNGAN TAK KUNJUNG SELESAI</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_QuLB7CyCzAw/S0CntQhiZJI/AAAAAAAAAGs/eaUr2pxMAmU/s1600-h/03.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 216px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_QuLB7CyCzAw/S0CntQhiZJI/AAAAAAAAAGs/eaUr2pxMAmU/s320/03.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5422518347325662354" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CXPMINI%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="City"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="place"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !mso]&gt;&lt;object classid="clsid:38481807-CA0E-42D2-BF39-B33AF135CC4D" id="ieooui"&gt;&lt;/object&gt; &lt;style&gt; st1\:*{behavior:url(#ieooui) } &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:Calibri; 	panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:swiss; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	text-align:justify; 	text-indent:36.0pt; 	line-height:150%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:Calibri; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-bidi-font-family:Arial;} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0cm;"&gt;&lt;b&gt;MODERNISME: Kemajuan yang berdampak&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Pandangan dunia a la Descartes yang mekanistik sebagai titik tolak modernisme telah berpengaruh kuat pada semua ilmu dan pada cara berpikir Barat pada umumnya. Metode mereduksi fenomena yang kompleks menjadi balok-balok bangunan dasar dan metode mekanisme yang dipakai untuk berinteraksi telah mendarah daging di dalam kebudayaan kita, sesuatu yang sering diidentifikasikan dengan metode ilmiah. Pandangan, konsep, atau pikiran yang tidak sesuai dengan metode ilmiah tidak akan dibicarakan secara serius dan biasanya dikesampingkan, jika tidak dijadikan cemoohan. Sebagai konsekuensi dari penekanan pada ilmu reduksionis ini kebudayaan manusia telah menjadi sangat terpecah-pecah dan telah mengembangkan teknologi, institusi, dan &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;gaya&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; hidup yang benar-benar tidak sehat&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Pertumbuhan teknologi yang berlebihan telah menciptakan suatu lingkungan di mana kehidupan menjadi tidak sehat baik secara fisik maupun secara mental. Udara yang tercemar, suara yang mengganggu, kemacetan lalu lintas, bahan pencemar kimia, bahaya radiasi, dan banyak sumber stress fisik dan psikologis yang telah menjadi bagian kehidupan sebagian besar dari kita sehari-hari. Bahaya kesehatan yang multisegi bukan hanya akibat samping kemajuan teknologi yang bersifat incidental; bahaya itu merupakan cirri integrasi system ekonomi yang tergoda oleh pertumbuhuan dan perluasan,, yang terus menerus meningkatkan teknologi tingginya dalam rangka meningkatkan produktifitas. Di sisi lain sosialisme modern mengakibatkan otoritarianisme dan totalitarianisme yang ternyata terbukti menyengsarakan rakyat.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 33pt;"&gt;Dinamika yang mendasari problem-problem utama zaman kita, aids -kriminalitas, perlombaan senjata nuklir, polusi, inflasi, krisis energi- adalah satu dan sama. Semuanya merupakan residu peradaban yang tidak terreduksi oleh system yang kita kenal dengan modernisme. Jika&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kita melanjutkan pola-pola pertumbuhan yang terdifferensiasikan dewasa ini, kita akan segera kehabisan cadangan logam, makanan, oksigen, dan ozone yang menentukan kelangsungan hidup kita.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Hal ini diperparah dengan munculnya institusi korporasi yang menjadi cirri khas modernisme. Manusia, yang termasuk di dalam institusi itu dan orang-orang yang harus berhadapan dengan institusi itu merasa terasing dan kehilangan kepribadian, sedangkan keluarga, lingkungan tetangga, dan organisasi social skala kecil terancam dan seringkali dirusak oleh dominasi dan eksploitasi institusional.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Jika konsekuensi-konsekuensi kekuatan korporasi berbahaya di negara-negara industri, maka di Negara Dunia Ketiga konsekuensi-konsekuensi itu merupakan malapetaka. Di Negara-negara itu, di mana pembatasan resmi sering tidak ada atau tidak mungkin diberlakukan, eksploitasi manusia dan tanah mereka telah mencapai perbandingan yang ekstrem. Dengan bantuan manipulasi media yang terampil, yang menekankan pada sifat dasar perusahaan yang “ilmiah”, dan seringkali dengan dukungan penuh dari pemerintah Amerika Serikat korporasi-korporasi multinasional itu dengan kejam menyedot sumber daya alam Dunia Ketiga. Untuk itu, mereka sering menggunakan teknologi yang menimbulkan polusi dan ganguan social, dan oleh karena itu menyebabkan bencana lingkungan dan kekacauan politik. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Mereka menyalahgunakan sumber daya tanah dan belantara Negara-negara Dunia Ketiga untuk menghasilkan tanaman pangan untuk yang menguntungkan ekspor dan bukannya tanaman pangan untuk penduduk local, dan mereka juga mendukung pola-pola konsumsi yang tidak sehat, termasuk penjualan produk-produk yang sangat berbahaya yang telah dilarang di Amerika Serikat. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Banyak cerita mengerikan tentang perilaku korporasi di Dunia Ketiga yang telah muncul pada tahun-tahun terakhir menunjukkan dengan meyakinkan bahwa penghormatan pada manusia, alam, dan pada kehidupan bukan menjadi bagian dari mentalitas korporasi. Sebaliknya, kejahatan-kejahatan korporasi dalam skala besar kini merupakan aktifitas yang paling meluas dan paling sedikit diajukan ke pengadilan. Kebutuhan-kebutuhan mendasar masyarakat diubah menjadi suatu komoditi yang dapat dijual kepada konsumen menurut aturan-aturan ekonomi “pasar bebas”. Sedangkan bantuan ekonomi adalah mengambil uang dari orang-orang miskin di Negara-negara kaya dan memberikannya pada orang-orang kaya di Negara miskin. Mereka memberitahu kita tentang berkilaunya masakan dan pakaian, tetapi lupa menyebutkan hilangnya sungai dan danau yang berkilau.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0cm;"&gt;&lt;b&gt;POST MODERNISME: Gerakan Ketidakpuasan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 33pt;"&gt;Kebudayaan baru yang sedang bangkit ini mempunyai suatu visi realitas yang masih sedang dibicarakan dan dieksplorasi pada saat ini tetapi lambat laun akan muncul sebagai sebuah paradigma yang baru, yang dipersiapkan untuk mengalahkan pandangan dunia a la Descartes di dalam masyarakat kita yang terbukti membawa dampak buruk bagi kemanusiaan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 33pt;"&gt;Maka dari itu postmodern percaya bahwa narasi besar telah kehilangan kredibilitas dan tidak lagi memadai untuk memahami dunia kontemporer. Mereka yakin bagian fragmen tidak dapat digunakan untuk memahami keseluruhan, dan demikian pula sebaliknya. Menurut mereka, masing-masing fragmen atau konstruksi fragmen yang lebih kecil menduduki&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;wilayah filosofisnya sendiri, memiliki makna yang dapat ditafsirkan tanpa harus merujuk pada gambaran yang lebih besar. Dengan demikian, mereka mengklaim bahwa narasi besar telah mati dan sekarang yang ada adalah, Jean Baudrillard, “permainan fragmen-fragmen”. Apakah memang benar demikian? Bila benar demikian, apa criteria untuk menentukan apakah suatu tindakan benar atau salah?&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 33pt;"&gt;Sampai juga kita pada sebuah masa di mana segala sesuatunya membutuhkan penerjemahan baru. Apa yang disebut oleh orang-orang sebelumnya sebagai modern ternyata mesti segera dibuang ke tempat sampah karena keusangannya. Abad kegemilangan rasio digugat, realitas meluruh hingga tak lagi kita dapat dibedakan antara yang nyata dan tak nyata, segala totalitas menyebar, pusat runtuh, berbagai peristiwa mencuat mengganggu pada tahun 1968, serangkaian transformasi sosio ekonomi dan kebudayaan pada tahun 1970 dan 1980 menunjukkan bahwa kerusakan masyarakat sebelumnya telah muncul.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 33pt;"&gt;Hingga ada yang merindukan kembali pada masa keemasan Yunani dan Romawi, sementara lainnya kelabakan merancang tata social-politik baru di tengah ledakan-ledakan media, computer dan teknologi-teknologi baru, restrukturisasi kapitalise, perubahan politik, bentuk-bentuk kebudayaan baru, dan pengalaman-pengalaman ruang dan waktu baru menghasilkan suatu kondisi dimana perkembangan dramatis telah terjadi dalam budaya dan masyarakat. Post modernisme adalah filsafat yang tidak menyukai totalitas dan gerakan besar untuk mengahadapi persoalan besar, yang disebutnya sebagai “Narasi Agung” (&lt;i&gt;Grand Narrative&lt;/i&gt;). Post modernisme menentang pendidikan ideologis dan gerakan politis. Serta menolak objektifitas dan metode mencari objektifitas yang disebutnya sebagai positivisme.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0cm;"&gt;&lt;b&gt;NEO MODERNISME: Kemarahan Kaum Ideolog&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 33pt;"&gt;Dengan kemunculan Post Modernisme ternyata tidak serta merta persoalan selesai. Banyak di kalangan pemuja modernisme yang tidak terima mengenai keberadaannya. Alex Callinicos dalam bukunya yang berjudul &lt;i&gt;Against Postmodernisme&lt;/i&gt; menggambarkan bagaiman postmodernisme meluas akan tetapi tidak mencari sumber ilmu pengetahuan, di mana realitas material yang akan dijelaskan menjadi acuannya,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;tetapi justru sibuk pada makna manusia dalam memersepsikan realitas. Dikatakan, bahwa bagi kaum post modernist, filsafat dan pengetahuan bukan lagi persoalan bagaimana memahami objek, tetapi telah beralih menuju persoalan bahasa, struktur pikiran, ilusi, makna, dan lain sebagainya. Dikatakan pula filsafat ini menjadi cara berpikir orang yang acuh terhadap realitas, karena realitas seakan tak ada gunanya dipahami, tetapi hanya dimaknai. Pemikiran yang sangat subjektif dan tidak serius.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 33pt;"&gt;Gunnar Myrdal, Ernest Gellner dan Andre Gorz dan kaum ideology yang lain kebakaran jenggot dan menggugat keberadaan filsafat post modernisme karena dianggap mengancam totalitas ideology mereka.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Post modernisme adalah suatu gerakan yang –sebagai tambahan dari cacat lain: ketidakjelasan, kepura-puraan, ikut-ikutan, berlagak- melakukan kesalahan-kesalahan besar dalam metode yang direkomendasikannya. Kesukaannya akan relativisme dan perhatian berlebihan terhadap keanehan semantic membuatnya tidak dapat melihat aspek non-semantik yang ada dalam masyarakat dan, yang paling penting, asimetri yang mutlak meluas dalam kekuasaan kognitif dan ekonomi di dunia ini. Berkompromi dengan kekacauan global, yang diakibatkan oleh suatu kekuatan kognitif serta teknologi tertentu (teknologi informasi). Relatifisme yang menjadi sumber post modernisme tidak memiliki, dan tidak bakal memiliki, satu programpun, apakah itu politik atau bahkan dalam metode penelitian, usaha untuk membawa objeknya sendiri yaitu makna dari &lt;i&gt;The Other&lt;/i&gt;. Terlalu memaksa objek untuk berbicara mewakili dirinya sendiri.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0cm;"&gt;&lt;b&gt;Pertarungan Yang Tak Kunjung Selesai&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 33pt;"&gt;Filsafat adalah suatu ketidaktuntasan, yang tidak tuntas bukan hanya pencarian kebijaksanaan itu, melainkan juga upaya untuk menyatakan obyeknya itu sendiri, yaitu dunia atau realitas, tidak pernah mencapai maksudnya. Tugas filsafat adalah menemukan hakikat segala sesuatu, namun apa yang disebut hakikat tidak pernah dapat dideskripsikan sebagaimana adanya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 33pt;"&gt;Filsafat adalah sebuah ketidaktuntasan. Filsafat tidak berhenti pada postmodernisme yang menghancurkan segala stagnasi dan dogmatisme, namun sekaligus menyudahi upaya untuk menciptakan dunia baru dengan pemaknaan baru. Tidak ada kata selesai, jika sebuah pemikiran filsafat dianggap selesai maka serta merta berubah menjadi ideologi. Dan itu berarti menjadi suatu masalah. Selamat bertarung..! &lt;/p&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1886692434588734437-6455640353684883176?l=matahati-hatibermata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://matahati-hatibermata.blogspot.com/feeds/6455640353684883176/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://matahati-hatibermata.blogspot.com/2010/01/pertarungan-tak-kunjung-selesai.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1886692434588734437/posts/default/6455640353684883176'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1886692434588734437/posts/default/6455640353684883176'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://matahati-hatibermata.blogspot.com/2010/01/pertarungan-tak-kunjung-selesai.html' title='PERTARUNGAN TAK KUNJUNG SELESAI'/><author><name>Ahmad Junaidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00999491777416961806</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/_QuLB7CyCzAw/TGeKqw22b2I/AAAAAAAAAJk/z6-mhpqIZ8U/S220/IMG000020.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_QuLB7CyCzAw/S0CntQhiZJI/AAAAAAAAAGs/eaUr2pxMAmU/s72-c/03.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1886692434588734437.post-4571970841756218294</id><published>2010-01-03T05:31:00.001-08:00</published><updated>2010-01-03T06:00:44.659-08:00</updated><title type='text'>BUKU: Mempengaruhi Kehidupan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_QuLB7CyCzAw/S0CgalFGSaI/AAAAAAAAAGk/m8VUZT8Gtek/s1600-h/1451.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 314px; height: 320px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_QuLB7CyCzAw/S0CgalFGSaI/AAAAAAAAAGk/m8VUZT8Gtek/s320/1451.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5422510329844615586" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CXPMINI%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="City"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="place"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !mso]&gt;&lt;object classid="clsid:38481807-CA0E-42D2-BF39-B33AF135CC4D" id="ieooui"&gt;&lt;/object&gt; &lt;style&gt; st1\:*{behavior:url(#ieooui) } &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:Calibri; 	panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:swiss; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	text-align:justify; 	text-indent:36.0pt; 	line-height:150%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:Calibri; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-bidi-font-family:Arial;} a:link, span.MsoHyperlink 	{font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	color:blue; 	text-decoration:underline; 	text-underline:single;} a:visited, span.MsoHyperlinkFollowed 	{color:purple; 	text-decoration:underline; 	text-underline:single;} @page Section1 	{size:21.0cm 841.95pt; 	margin:36.0pt 36.0pt 36.0pt 36.0pt; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 33pt;"&gt;Membaca buku memang mengasyikkan, bisa lupa waktu dan bisa bikin lupa daratan. Seperti masuk ke dunia lain. Membuka lembar demi lembar, diiringi rasa penasaran untuk menemukan apa yang ada di balik lembar berikutnya. Ketika lembar halaman yang dibaca akan habis, hati menjadi resah karena kegiatan membaca akan terhenti, dan itu berarti akan kembali ke dunia nyata yang penuh dengan hal-hal yang tidak menyenangkan. Atau berarti harus membeli buku baru lagi untuk dibaca yang tentunya harus ada anggaran untuk itu. Mungkin seperti iklan rokok, Perhatian….membaca buku bisa menimbulkan kecanduan. Dampak lain, kalau tidak membaca tubuh akan mengalami &lt;i&gt;sakaw&lt;/i&gt; karena ketagihan yang tidak terpenuhi. Atau, ketika asyik meringkuk dalam kamar tahu-tahu isteri marah-marah karena banyak pekerjaan rumah yang tidak tersentuh. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 33pt;"&gt;Semua orang pasti membaca, entah itu membaca resep masakan, petunjuk konsumsi obat pada bungkus, membaca sms atau juga membaca buku pelajaran atau diktat kuliah, tapi tidak semua bisa menikmati membaca seperti yang saya sebutkan di atas. Karena mungkin saja seseorang rajin membaca karena tuntutan tugas kuliah, tuntutan profesi atau membaca supaya bisa berbicara dengan kosakata yang populer dan keren di hadapan audience.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 33pt;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Hobi membaca saya, kalau dirunut ke belakang, diimulai sekitar kelas dua SD.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Dimulai dengan membaca majalah anak-anak bekas yang dibelikan oleh Bapak di pasar buku bekas di &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Malang&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;, tepatnya dulu di baratnya pasar Boldy. Disamping membaca buku-buku di perpustakaan SD di mana bapak mengajar. Ketika Bapak pergi ke Malang, oleh-oleh yang paling saya tunggu adalah majalah anak-anak bekas seperti Bobo, Kawanku, Ananda, Si Kuncung, Hai, Tom Tom dan majalah Donald Bebek. Semuanya bekas, pernah juga sekali dibelikan buku baru tipis di Toko Buku Paling Lengkap, toko buku yang terletak di sebelah utara Kayu Tangan setelah merengek beberapa lama.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 33pt;"&gt;Ketika SMP, paling sering baca komik silat seperti Jaka Tuak, Panji Tengkorak, Si Buta, Mandala, Golok Setan dan lain-lain, super hero seperti Gundala, Godam, Maza dan kawan-kawannya serta novel seperti Agatha Christie, Wiro Sableng Pendekar Kapak Naga Geni 212, Kho Phing Ho, Petualangan Old Shaterhand dan Winnetou kepala suku Apache juga Lima Sekawan yang kupinjam dari dua persewaan di desaku. Atau sekali-sekali nyolong untuk membaca novel Nick Carter yang pada masa itu dikenal sebagai novel orang dewasa.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Karena keseringan mengunjungi penyewaan buku dan komik, pada waktu itu yang nyantol di otak adalah nama tokoh-tokoh dan alur cerita, bukannya rumus-rumus kimia atau fisika dari sekolah.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 33pt;"&gt;Semasa SMA, kegiatan membaca sempat terhenti karena waktu banyak tercurahkan untuk mempelajari mata pelajaran sekolah yang sudah mulai sulit, di samping itu juga karena aktif dalam kegiatan organisasi. Tetapi pada suatu ketika, waktu kelas 3, saya menemukan buku bekas terjemahan al-Hikam karya Syaikh Atho’illah al-Sakandari. Sebuah buku yang mengkaji tentang ilmu tasawuf atau ajaran-ajaran asketik dalam Islam. Buku itulah kemudian yang mempengaruhi jalan pikiran saya pada waktu itu. Dari yang setiap hari mengkaji ilmu-ilmu eksak di sekolah, kemudian muncul ketertarikan untuk mempelajari kajian-kajian keIslaman. Berawal dari situ, saya kemudian mempelajari bahasa Arab supaya bisa lebih bisa membaca dan memahami literatur-literatur Arab. Sampai kemudian ketika semester akhir kuliah S1, saya menemukan buku milik kakak saya yang berjudul Ideologi Kaum Intelektual karya Dr. Ali Syariati seorang pemikir dari Iran yang bercerita tentang peran penting seorang intelektual di dalam membangun masyarakatnya. Buku ini yang kemudian membangkitkan minat saya untuk membaca buku-buku yang bertemakan sosial, sastra, filsafat atau buku-buku humaniora lainnya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 33pt;"&gt;Pada waktu kuliah itu juga saya membeli sebuah buku yang berjudul Pergolakan Pemikiran Islam: Catatan Harian Ahmad Wahib. Yang merupakan catatan harian berupa pemikiran Ahmad Wahib terhadap fenomena atau peristiwa yang ada disekitarnya. Buku inilah yang akhirnya menyemangati saya untuk menuliskan apa-apa yang ada dipikiran-pikiran saya. Sampai sekarang pikiran-pikiran saya itu sudah tertulis di dua buku agenda tebal, yang sebagian kecil di antaranya saya tulis diblog &lt;a href="http://www.matahati-hatibermata.blogspot.com/"&gt;&lt;span style=""&gt;www.matahati-hatibermata.blogspot.com&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; . Yah, cuma tulisan-tulisan tentang apa yang terlintas di dalam pikiran, bukan tulisan bermutu atau yang memenuhi syarat-syarat kepenulisan yang baik. Keinginan menulis itupun terwujud akhir-akhir ini saja. Karena memang secara faktual, lingkungan sekitar saya kurang mendukung untuk itu disamping disibukkan oleh hal-hal yang berkaitan dengan usaha untuk bisa bertahan hidup atau untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sekarangpun keinginan untuk menulis itu tetap ada, walaupun&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;lebih banyak disibukkan oleh kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan pekerjaan. Ingin sekali menulis sebuah buku yang tidak berkaitan dengan hal-hal yang terlalu berbau akademis (yang disibukkan dengan kutip &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;sana&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; kutip sini, &lt;i&gt;foot note&lt;/i&gt;, &lt;i&gt;end note&lt;/i&gt; dan sebagainya) tapi murni karena inspirasi dan hasil memberi makna pada kehidupan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 33pt;"&gt;Kembali mengenai membaca buku, kegiatan ini memang terbukti mempengaruhi kehidupan. Dengan membaca buku saya akhirnya dapat menemukan atau melakukan hal-hal yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan. Walaupun toh buku tersebut merupakan buku bekas, yang kalau dilihat harganya mungkin tidak seberapa. Dari perjalanan membaca buku di ataslah yang kemudian berperan besar dalam membentuk model kehidupan yang saya jalani sekarang ini. Setiap keputusan yang saya ambil dalam menghadapi masa-masa sulit berasal dari inspirasi yang saya peroleh dari membaca buku. Hal inilah yang kemudian selalu mendorong saya untuk selalu dekat dengan buku dan membacanya…&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 33pt;"&gt;Setiap ada buku baru, sebenarnya hati ini selalu penasaran tentang isinya. Apalagi ketika berjalan-jalan di toko buku menimang buku-buku yang masih terbungkus plastic. Tetapi apa daya &lt;i&gt;ati karep tenogo seret&lt;/i&gt;, ingin membeli tapi kantong tipis. Solusi terbaik akhirnya dengan banyak membaca resensi-resensi buku yang bertebaran di media &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;massa&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; maupun internet, sehingga bertemu dengan para resensor seperti M Iqbal Dawami, Sidik Nugroho Wrekso Wikromo dan yang lain-lain . Dari blog-blog mereka, saya mendapat banyak inspirasi. Di antaranya adalah &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;tulisan M Iqbal Dawami di blognya www.penulispinggiran.blogspot.com yang berjudul “Mereka yang Tercerahkan dengan Menulis”.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 33pt;"&gt;Solusi lain, karena kurangnya finansial untuk membeli buku adalah dengan membaca buku dari perpustakaan, baik yang ada di kampus atau di tempat lain. Bahkan pernah juga terbetik dalam pikiran untuk menyewakan tanah pemberian orang tua untuk membeli buku (he..he..he..). Dari pada menahan diri dan ngiler melihat buku-buku bagus yang seperti menggoda saya dan melambai-lambaikan tangan untuk dibaca.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0cm;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1886692434588734437-4571970841756218294?l=matahati-hatibermata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://matahati-hatibermata.blogspot.com/feeds/4571970841756218294/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://matahati-hatibermata.blogspot.com/2010/01/buku-mempengaruhi-kehidupan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1886692434588734437/posts/default/4571970841756218294'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1886692434588734437/posts/default/4571970841756218294'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://matahati-hatibermata.blogspot.com/2010/01/buku-mempengaruhi-kehidupan.html' title='BUKU: Mempengaruhi Kehidupan'/><author><name>Ahmad Junaidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00999491777416961806</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/_QuLB7CyCzAw/TGeKqw22b2I/AAAAAAAAAJk/z6-mhpqIZ8U/S220/IMG000020.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_QuLB7CyCzAw/S0CgalFGSaI/AAAAAAAAAGk/m8VUZT8Gtek/s72-c/1451.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1886692434588734437.post-8539368615691842081</id><published>2009-12-07T10:07:00.000-08:00</published><updated>2009-12-07T10:35:42.188-08:00</updated><title type='text'>Bakat Alam</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_QuLB7CyCzAw/Sx1K1ooHmWI/AAAAAAAAAGU/w5RWORsnc4I/s1600-h/131.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 256px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_QuLB7CyCzAw/Sx1K1ooHmWI/AAAAAAAAAGU/w5RWORsnc4I/s320/131.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5412564612468414818" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Menurut beberapa ahli, manusia mempunyai beberapa macam pembawaan atau nurani tertentu seperti pembawaan falsafiah, ilmiah, keteknikan, artistik, sosial-politik, nurani-teosofis maupun religius. Tetapi saya tidak akan membahas topik-topik tersebut, yang akan saya bicarakan adalah sesuatu yang lebih berkembang melampaui batas-batas semua kesadaran lain seperti tersebut di atas.&lt;br /&gt;Tegasnya, ada figur-figur yang memiliki kesadaran politis, sosial, keteknikan dan kesadaran artistik tanpa mempunyai kecenderungan terhadap kesadaran diri manusia, begitupun sebaliknya. Sehingga hal itu bukanlah manifestasi dari tipe-tipe kesadaran di atas, maupun produk dari semua itu, melainkan sama sekali independent..!&lt;br /&gt;Bagi figur-figur yang menyadari hal itu, akan mempunyai daya mental untuk menangkap sendiri term-term tengah dari suatu silogisme, baik yang ada di sekelilingnya maupun yang berjauhan, tentunya yang masih ada getaran dengan dirinya. Mungkin...inilah yang dinamakan dengan Intelegensi Natural. Ini adalah pembawaan sejak dia mulai bisa berpikir, yang tentunya sebelum itu didahului oleh getaran-getaran pribadi yang bersangkutan.&lt;br /&gt;Untuk meraih hal itu, merupakan sesuatu yang tidak mungkin. Sedangkan untuk memunculkannya adalah dengan jalan menempanya dan memberinya sentuhan-sentuhan teologis, dan setelah itu perlu disodorkan dengan motif-motif teologis pula, supaya logika-logika yang ada di dalamnya bisa diterima sehingga dapat menimbulkan minat sejati kepadanya dan dapat menyingkirkan perasaan marginal pada diri seseorang.&lt;br /&gt;Tentunya untuk menerima semua itu perlu intuisi yang tajam, sehingga dapat memberi tekanan pada hal-hal yang dapat dipahamkan. Sebaliknya, tanpa intuisi yang mencukupi akan membingungkan dan menyebabkan keluarnya pernyataan-pernyataan yang keliru.&lt;br /&gt;Pun pula, tidak mungkin yang bersangkutan diberi nada-nada apriori karena semuanya merupakan tabula rasa dari dirinya (dari pandangan-pandangan sosial, pengalaman-pengalaman batin dan pemikiran-pemikirannya). Dan serendah-rendah kebenaran bagi pihak lain adalah membenarkan dan menyerahkan kepada ahlinya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1886692434588734437-8539368615691842081?l=matahati-hatibermata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://matahati-hatibermata.blogspot.com/feeds/8539368615691842081/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://matahati-hatibermata.blogspot.com/2009/12/bakat-alam.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1886692434588734437/posts/default/8539368615691842081'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1886692434588734437/posts/default/8539368615691842081'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://matahati-hatibermata.blogspot.com/2009/12/bakat-alam.html' title='Bakat Alam'/><author><name>Ahmad Junaidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00999491777416961806</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/_QuLB7CyCzAw/TGeKqw22b2I/AAAAAAAAAJk/z6-mhpqIZ8U/S220/IMG000020.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_QuLB7CyCzAw/Sx1K1ooHmWI/AAAAAAAAAGU/w5RWORsnc4I/s72-c/131.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1886692434588734437.post-2128374173511880623</id><published>2009-11-28T18:48:00.001-08:00</published><updated>2009-11-28T19:17:18.852-08:00</updated><title type='text'>Akhlak</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_QuLB7CyCzAw/SxHnWugbbgI/AAAAAAAAAGM/JBDdJ31bebE/s1600/02.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 217px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_QuLB7CyCzAw/SxHnWugbbgI/AAAAAAAAAGM/JBDdJ31bebE/s320/02.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5409359005075860994" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sudah jelas bahwa seseorang yang selalu berusaha menghindari kebaikan, di hatinya banyak noda-noda kotor yang disebabkan dan menyebabkan perilaku-perilaku yang kurang baik. Sehingga kalau tidak diperhatikan kebersihannya sesegera mungkin, hatinya akan tertutup sama sekali.&lt;br /&gt;Sedangkan seseorang yang selalu berusaha menuju kebaikan dan memperjuangkannya adalah orang-orang yang mempunyai hati bersih dan sibuk dengan usaha-usaha untuk kebersihan hatinya. Sehingga hatinya lapang dan memantulkan cahaya yang terbias pada ucapan dan perilakunya.&lt;br /&gt;Dan tentunya, kesemuanya itu ditentukan oleh faktor hidayah dan taufiq. karena dengan kedua hal tersebut manusia dapat membedakan tentang hal-hal mana yang mengotori hati dan mana yang dapat membersihkannya. Walaupun dalam kenyataan manusia banyak kelemahan-kelemahan sehingga sering lalai dan terjerumus, tetapi masih harus tetap diupayakan untuk berdo'a memohon hidayah dan taufiq, serta berusaha dalam amal perbuatan.&lt;br /&gt;Dalam lapangan pergaulan, akan terdapat perbedaan yang mencolok antara yang memahami karakteristik manusia dan yang tidak. Di dalam ruang lingkup "yang berusaha memahami karakteristik manusia" pun masih terdapat perbedaan lagi, yaitu antara yang bijaksana dan berpikir matang dengan yang tidak. Yang tidak mempunyai kebijaksanaan dan kematangan dalam berpikir akan sering bertindak ekstrim (mudah dikuasai emosi).&lt;br /&gt;Karakteristik-karakteristik tersebut sulit dipahami oleh sebagian manusia, karena memang mudah tersamar oleh adanya penampilan-penampilan dan ucapan-ucapan yang ditimbulkan oleh pengaruh-pengaruh eksternal, bukan dari internal manusia itu sendiri.&lt;br /&gt;Ada kalanya, dalam menutupi kelemahan-kelemahan yang ada pada dirinya, manusia berusaha menceritakan kelebihan-kelebihannya dari sisi lain. Sehingga dengan tidak dirasanya semakin memperlihatkan kelemahan-kelemahan dirinya.&lt;br /&gt;Memang, manusia diciptakan dalam banyak kelemahan-kelemahan, untuk itu, perlu manusia memperhatikan sesuatu di luar dirinya demi menjaga dan memelihara keseluruhan pribadinya. Dalam pengertian sublimnya "manusia meneliti manusia". Apabila seseorang dibutakan oleh sesuatu, dia akan cenderung berbicara lepas dari "rel kenyataan" dan "kebenaran". Walaupun yang dibicarakan itu sesuatu yang dianggapnya benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1886692434588734437-2128374173511880623?l=matahati-hatibermata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://matahati-hatibermata.blogspot.com/feeds/2128374173511880623/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://matahati-hatibermata.blogspot.com/2009/11/akhlak.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1886692434588734437/posts/default/2128374173511880623'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1886692434588734437/posts/default/2128374173511880623'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://matahati-hatibermata.blogspot.com/2009/11/akhlak.html' title='Akhlak'/><author><name>Ahmad Junaidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00999491777416961806</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/_QuLB7CyCzAw/TGeKqw22b2I/AAAAAAAAAJk/z6-mhpqIZ8U/S220/IMG000020.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_QuLB7CyCzAw/SxHnWugbbgI/AAAAAAAAAGM/JBDdJ31bebE/s72-c/02.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1886692434588734437.post-8509855222951663440</id><published>2009-11-28T05:39:00.000-08:00</published><updated>2009-11-28T06:58:18.000-08:00</updated><title type='text'>Perintah Harian al-Quran</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_QuLB7CyCzAw/SxE52iIY1LI/AAAAAAAAAGE/huxWExxK41M/s1600/WALL1BIG.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 240px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_QuLB7CyCzAw/SxE52iIY1LI/AAAAAAAAAGE/huxWExxK41M/s320/WALL1BIG.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5409168236486382770" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Faktor lain yang mendukung keberhasilan Risalah dalam membangun generasi sahabat ialah, bahwa mereka memandang al-Quran sebagai perintah harian yang harus segera dilaksanakan. Mereka memahami al-Quran bukan untuk tujuan menambah pengetahuan dan memperluas wawasan semata. Bukan sekedar menikmati keindahan sastranya dan mengagumi isi serta gaya bahasanya. Dan bukan pula untuk tujuan-tujuan rendah demi memperoleh keuntungan duniawi, atau kedudukan sosial yang lebih baik dan sebagainya.&lt;br /&gt;Akan tetapi mereka mempelajari al-Quran adalah semata-mata untuk menerima perintah Allah guna dilaksanakannya. Baik yang berkaitan dengan kehidupan pribadi, jama'ah maupun persoalan-persoalan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1886692434588734437-8509855222951663440?l=matahati-hatibermata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://matahati-hatibermata.blogspot.com/feeds/8509855222951663440/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://matahati-hatibermata.blogspot.com/2009/11/perintah-harian-al-quran.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1886692434588734437/posts/default/8509855222951663440'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1886692434588734437/posts/default/8509855222951663440'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://matahati-hatibermata.blogspot.com/2009/11/perintah-harian-al-quran.html' title='Perintah Harian al-Quran'/><author><name>Ahmad Junaidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00999491777416961806</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/_QuLB7CyCzAw/TGeKqw22b2I/AAAAAAAAAJk/z6-mhpqIZ8U/S220/IMG000020.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_QuLB7CyCzAw/SxE52iIY1LI/AAAAAAAAAGE/huxWExxK41M/s72-c/WALL1BIG.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1886692434588734437.post-5954439782103254764</id><published>2009-09-08T20:58:00.002-07:00</published><updated>2009-09-08T22:03:49.097-07:00</updated><title type='text'>Termangu</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_QuLB7CyCzAw/Sqc2qFK9QKI/AAAAAAAAAF8/MyLH9v3a-j8/s1600-h/057.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 240px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_QuLB7CyCzAw/Sqc2qFK9QKI/AAAAAAAAAF8/MyLH9v3a-j8/s320/057.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5379328376487887010" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Termangu...&lt;br /&gt;menatap kepergian bayang-bayangku sendiri&lt;br /&gt;Semua memaksakan kehendaknya&lt;br /&gt;Sehingga bayang-bayangku memutuskan pergi...&lt;br /&gt;Kini aku bukan diriku lagi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tolong...&lt;br /&gt;panggil kembali bayangku&lt;br /&gt;karena akan kuajak serta...&lt;br /&gt;untuk mendekat pada diriMu&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1886692434588734437-5954439782103254764?l=matahati-hatibermata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://matahati-hatibermata.blogspot.com/feeds/5954439782103254764/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://matahati-hatibermata.blogspot.com/2009/09/termangu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1886692434588734437/posts/default/5954439782103254764'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1886692434588734437/posts/default/5954439782103254764'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://matahati-hatibermata.blogspot.com/2009/09/termangu.html' title='Termangu'/><author><name>Ahmad Junaidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00999491777416961806</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/_QuLB7CyCzAw/TGeKqw22b2I/AAAAAAAAAJk/z6-mhpqIZ8U/S220/IMG000020.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_QuLB7CyCzAw/Sqc2qFK9QKI/AAAAAAAAAF8/MyLH9v3a-j8/s72-c/057.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1886692434588734437.post-3768108243011121720</id><published>2009-09-05T17:58:00.002-07:00</published><updated>2009-09-05T18:25:56.914-07:00</updated><title type='text'>Jalan Pulang</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_QuLB7CyCzAw/SqMPCjWDtbI/AAAAAAAAAF0/ZyegK-QXVa0/s1600-h/Forest.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 240px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_QuLB7CyCzAw/SqMPCjWDtbI/AAAAAAAAAF0/ZyegK-QXVa0/s320/Forest.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5378158916532417970" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;                    Kesuksesan tidak selalu berarti kita menjadi apa pada saat ini. Setelah lulus perguruan tinggi kependidikan tidak selalu berarti kita menjadi guru atau PNS. Hanya karena seseorang sukses secara profesional -sebagai PNS, pengacara atau dokter- tidak berarti kita melakukan sesuatu yang telah digariskan bagi kita. Hanya karena kita kaya tidak berarti kita berhasil menjadi orang yang telah digariskan bagi kita.&lt;br /&gt;                    Menjadi apa yang telah digariskan bagi diri kita merupakan pelampauan atas kesuksesan dan pencapaian. Menjadi orang yang digariskan bagi diri kita adalah menemukan kembali jalan kita dan kembali ke jalan itu. Hasrat menemukanlah yang akan menuntun kita ke jalan itu..Jalan Pulang.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1886692434588734437-3768108243011121720?l=matahati-hatibermata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://matahati-hatibermata.blogspot.com/feeds/3768108243011121720/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://matahati-hatibermata.blogspot.com/2009/09/jalan-pulang.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1886692434588734437/posts/default/3768108243011121720'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1886692434588734437/posts/default/3768108243011121720'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://matahati-hatibermata.blogspot.com/2009/09/jalan-pulang.html' title='Jalan Pulang'/><author><name>Ahmad Junaidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00999491777416961806</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/_QuLB7CyCzAw/TGeKqw22b2I/AAAAAAAAAJk/z6-mhpqIZ8U/S220/IMG000020.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_QuLB7CyCzAw/SqMPCjWDtbI/AAAAAAAAAF0/ZyegK-QXVa0/s72-c/Forest.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1886692434588734437.post-7975733642657534323</id><published>2009-07-31T20:58:00.003-07:00</published><updated>2009-08-01T05:57:10.853-07:00</updated><title type='text'>Absurditas Kehidupan</title><content type='html'>&lt;span style=";font-family:arial;font-size:85%;"  &gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_QuLB7CyCzAw/SnO_qyJA4TI/AAAAAAAAAFk/UVWQCt4usAM/s1600-h/3D-sunset.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 240px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_QuLB7CyCzAw/SnO_qyJA4TI/AAAAAAAAAFk/UVWQCt4usAM/s320/3D-sunset.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5364842322863382834" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CUsers%5Ctoshiba%5CAppData%5CLocal%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;o:officedocumentsettings&gt;   &lt;o:relyonvml/&gt;   &lt;o:allowpng/&gt;  &lt;/o:OfficeDocumentSettings&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;link rel="themeData" href="file:///C:%5CUsers%5Ctoshiba%5CAppData%5CLocal%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_themedata.thmx"&gt;&lt;link rel="colorSchemeMapping" href="file:///C:%5CUsers%5Ctoshiba%5CAppData%5CLocal%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_colorschememapping.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:trackmoves/&gt;   &lt;w:trackformatting/&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:donotpromoteqf/&gt;   &lt;w:lidthemeother&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:lidthemeasian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:lidthemecomplexscript&gt;AR-SA&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;    &lt;w:splitpgbreakandparamark/&gt;    &lt;w:dontvertaligncellwithsp/&gt;    &lt;w:dontbreakconstrainedforcedtables/&gt;    &lt;w:dontvertalignintxbx/&gt;    &lt;w:word11kerningpairs/&gt;    &lt;w:cachedcolbalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;m:mathpr&gt;    &lt;m:mathfont val="Cambria Math"&gt;    &lt;m:brkbin val="before"&gt;    &lt;m:brkbinsub val="--"&gt;    &lt;m:smallfrac val="off"&gt;    &lt;m:dispdef/&gt;    &lt;m:lmargin val="0"&gt;    &lt;m:rmargin val="0"&gt;    &lt;m:defjc val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent val="1440"&gt;    &lt;m:intlim val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim val="undOvr"&gt;   &lt;/m:mathPr&gt;&lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" defunhidewhenused="true" defsemihidden="true" defqformat="false" defpriority="99" latentstylecount="267"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Normal"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="heading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="35" qformat="true" name="caption"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="10" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" name="Default Paragraph Font"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="11" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtitle"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="22" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Strong"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="20" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="59" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Table Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Placeholder Text"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="No Spacing"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Revision"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="34" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="List Paragraph"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="29" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="30" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="19" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="21" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="31" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="32" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="33" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Book Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="37" name="Bibliography"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" qformat="true" name="TOC Heading"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:"Cambria Math"; 	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; 	mso-font-charset:1; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-format:other; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:0 0 0 0 0 0;} @font-face 	{font-family:Calibri; 	panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:swiss; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-unhide:no; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	text-align:justify; 	text-indent:36.0pt; 	line-height:150%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-bidi-font-family:Arial;} p 	{mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	mso-margin-top-alt:auto; 	margin-right:0cm; 	mso-margin-bottom-alt:auto; 	margin-left:0cm; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman","serif"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} .MsoChpDefault 	{mso-style-type:export-only; 	mso-default-props:yes; 	font-size:10.0pt; 	mso-ansi-font-size:10.0pt; 	mso-bidi-font-size:10.0pt; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-bidi-font-family:Arial;} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-theme-font:minor-fareast; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:Arial; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="text-indent: 1cm; text-align: justify; font-family: times new roman;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Manusia tidak pernah menciptakan dirinya sendiri. Ia hanya menemukan dirinya terlempar di dunia ini tanpa alasan. Dia harus mencari alasan kenapa dia hidup. Bagi manusia, sekali terlempar ia harus bertanggung jawab atas apa pun yang ia buat di hadapan segala umat manusia.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: times new roman;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="text-indent: 1cm; text-align: justify; font-family: times new roman;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Jika manusia melihat realitas disekelilingnya tidak sesuai dengan pandangan antropomorfistiknya (pandangan yang sesuai dengan kapasitasnya sebagai manusia) akan membuatnya tersudut dalam &lt;i&gt;apatisme nihilistic&lt;/i&gt;. Apatisme muncul karena orang berharap terlalu banyak atas ideal antropomorfistiknya sendiri. Setelah itu orang akan merasa loyo,  lelah, terserak, bingung dan akhirnya jatuh dalam ungkapan-ungkapan yang serba meratap. Manusia yang kehilangan pegangan adalah manusia yang limbung, resah, terperosok dalam kekosongan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: times new roman;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="text-indent: 1cm; text-align: justify; font-family: times new roman;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Akar masalah yang didiagnosis secara genealogis akan memperlihatkan bahwa dibalik itu semua ada kebutuhan akan pegangan. Pegangan adalah sangkar bagi perahu manusia yang terombang-ambing lautan realitas. Dunia dan hidup itu tidak jelas, buram, amorf dan absurd. Ia selalu mengalir, menjadi, campur aduk antara hitam dan putih, atau singkatnya berwarna abu-abu. Bisakah kita hidup dalam abu-abu terus menerus? Inilah titik pertanyaan yang paling krusial. Tidak semua orang mampu menghadapi dan mencari penjelasan atasnya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="text-indent: 1cm; text-align: justify; font-family: times new roman;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Orang membutuhkan pegangan untuk dijadikan orientasi dan patokan dalam hidup. Pegangan menjadi berguna karena membantu manusia memaknai kehidupan, dan dengan demikian membantunya hidup. Masalahnya, apakah hidup itu sendiri sesuai dengan parameter pegangan yang ia cengkeram? Itulah pertanyaan yang membongkar si manusia itu &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;sendiri. Seorang Nietzsche jelas mengatakan tidak: hidup, dunia, realitas tidak bisa dikotakkan dalam kesempitan pegangan antropomorfistik manusia. Karena tidak ada yang ideal dan kekal di dunia ini. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: times new roman;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p  style="margin: 0cm 13.6pt 0.0001pt 0cm; text-indent: 35.45pt; line-height: 150%; text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-size:85%;" &gt;&lt;span style="font-family: times new roman;font-family:georgia;font-size:100%;"  &gt;Sebuah pencarian tak berakhir untuk sesuatu yang baru dan lebih baik tidak memberikan nilai ketika ia telah dicapai, celaan terhadap sesuatu yang lama, dan meletakkan seluruh harapan pada yang baru. Ini adalah proses yang terus menerus dan merupakan lingkaran setan yang telah dialami manusia di mana pun sepanjang sejarah. &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p  style="margin: 0cm 13.6pt 0.0001pt 0cm; text-indent: 35.45pt; line-height: 150%; text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-size:85%;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p  style="margin: 0cm 13.6pt 0.0001pt 0cm; text-indent: 35.45pt; line-height: 150%; text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-size:85%;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p  style="margin: 0cm 13.6pt 0.0001pt 0cm; text-indent: 35.45pt; line-height: 150%; text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-size:85%;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1886692434588734437-7975733642657534323?l=matahati-hatibermata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://matahati-hatibermata.blogspot.com/feeds/7975733642657534323/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://matahati-hatibermata.blogspot.com/2009/07/absurditas-kehidupan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1886692434588734437/posts/default/7975733642657534323'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1886692434588734437/posts/default/7975733642657534323'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://matahati-hatibermata.blogspot.com/2009/07/absurditas-kehidupan.html' title='Absurditas Kehidupan'/><author><name>Ahmad Junaidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00999491777416961806</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/_QuLB7CyCzAw/TGeKqw22b2I/AAAAAAAAAJk/z6-mhpqIZ8U/S220/IMG000020.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_QuLB7CyCzAw/SnO_qyJA4TI/AAAAAAAAAFk/UVWQCt4usAM/s72-c/3D-sunset.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1886692434588734437.post-1641858498772360114</id><published>2009-07-25T06:07:00.000-07:00</published><updated>2009-07-26T05:10:41.250-07:00</updated><title type='text'>Hukum Islam dan Keadilan Sosial</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_QuLB7CyCzAw/SmsE-9z1IkI/AAAAAAAAAFc/OoH_ACbjqNs/s1600-h/alisword.gif"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 142px; height: 160px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_QuLB7CyCzAw/SmsE-9z1IkI/AAAAAAAAAFc/OoH_ACbjqNs/s320/alisword.gif" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5362385261105062466" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CUsers%5Ctoshiba%5CAppData%5CLocal%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;o:officedocumentsettings&gt;   &lt;o:relyonvml/&gt;   &lt;o:allowpng/&gt;  &lt;/o:OfficeDocumentSettings&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;link rel="themeData" href="file:///C:%5CUsers%5Ctoshiba%5CAppData%5CLocal%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_themedata.thmx"&gt;&lt;link rel="colorSchemeMapping" href="file:///C:%5CUsers%5Ctoshiba%5CAppData%5CLocal%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_colorschememapping.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:trackmoves/&gt;   &lt;w:trackformatting/&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:donotpromoteqf/&gt;   &lt;w:lidthemeother&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:lidthemeasian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:lidthemecomplexscript&gt;AR-SA&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;    &lt;w:splitpgbreakandparamark/&gt;    &lt;w:dontvertaligncellwithsp/&gt;    &lt;w:dontbreakconstrainedforcedtables/&gt;    &lt;w:dontvertalignintxbx/&gt;    &lt;w:word11kerningpairs/&gt;    &lt;w:cachedcolbalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;m:mathpr&gt;    &lt;m:mathfont val="Cambria Math"&gt;    &lt;m:brkbin val="before"&gt;    &lt;m:brkbinsub val="--"&gt;    &lt;m:smallfrac val="off"&gt;    &lt;m:dispdef/&gt;    &lt;m:lmargin val="0"&gt;    &lt;m:rmargin val="0"&gt;    &lt;m:defjc val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent val="1440"&gt;    &lt;m:intlim val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim val="undOvr"&gt;   &lt;/m:mathPr&gt;&lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" defunhidewhenused="true" defsemihidden="true" defqformat="false" defpriority="99" latentstylecount="267"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Normal"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="heading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="35" qformat="true" name="caption"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="10" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" name="Default Paragraph Font"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="11" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtitle"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="22" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Strong"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="20" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="59" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Table Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Placeholder Text"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="No Spacing"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Revision"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="34" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="List Paragraph"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="29" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="30" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="19" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="21" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="31" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="32" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="33" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Book Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="37" name="Bibliography"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" qformat="true" name="TOC Heading"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:"Cambria Math"; 	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; 	mso-font-charset:1; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-format:other; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:0 0 0 0 0 0;} @font-face 	{font-family:Calibri; 	panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:swiss; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-unhide:no; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	text-align:justify; 	text-indent:36.0pt; 	line-height:150%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-bidi-font-family:Arial;} .MsoChpDefault 	{mso-style-type:export-only; 	mso-default-props:yes; 	font-size:10.0pt; 	mso-ansi-font-size:10.0pt; 	mso-bidi-font-size:10.0pt; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-bidi-font-family:Arial;} @page Section1 	{size:21.0cm 841.95pt; 	margin:36.0pt 36.0pt 36.0pt 36.0pt; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-theme-font:minor-fareast; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:Arial; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 1cm;"&gt;Ada hubungan erat antara hukum Islam dan keadilan sosial. Yaitu bagaimana mewujudkan keadilan sosial dengan praktek hukum Islam. Apa betul sih hukum Islam itu sangat terikat dengan prinsip-prinsip fiqih, aksioma dan kerangka prosedur tertentu &lt;span style="font-style: italic;"&gt;an sich&lt;/span&gt;. Menurut saya hukum Islam itu penuh dengan hasrat kerinduan terhadap semangat Islam seperti kasih sayang, solidaritas, persaudaraan dan keadilan sosial. Semangat ini dikaitkan dengan “Zaman Keemasan” pemerintahan Nabi di Madinah. Kerinduan akan tatanan yang akan ditegakkan oleh orang-orang saleh awal yang menjunjung tinggi agama ini menjadi bermakna dalam konteks lingkungan sosio ekonomi yang mengalami transformasi radikal. Selaras dengan semangat itu, tugas kita adalah menyusun kembali, memperbarui atau mensintesis Islam agar relevan dengan kebutuhan, tuntutan dan keadaan sulit yang dihadapi orang-orang yang mereka anggap sebagai korban peradaban modern.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0cm;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1886692434588734437-1641858498772360114?l=matahati-hatibermata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://matahati-hatibermata.blogspot.com/feeds/1641858498772360114/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://matahati-hatibermata.blogspot.com/2009/07/hukum-islam-dan-keadilan-sosial.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1886692434588734437/posts/default/1641858498772360114'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1886692434588734437/posts/default/1641858498772360114'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://matahati-hatibermata.blogspot.com/2009/07/hukum-islam-dan-keadilan-sosial.html' title='Hukum Islam dan Keadilan Sosial'/><author><name>Ahmad Junaidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00999491777416961806</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/_QuLB7CyCzAw/TGeKqw22b2I/AAAAAAAAAJk/z6-mhpqIZ8U/S220/IMG000020.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_QuLB7CyCzAw/SmsE-9z1IkI/AAAAAAAAAFc/OoH_ACbjqNs/s72-c/alisword.gif' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1886692434588734437.post-1521249141294563109</id><published>2009-07-25T05:47:00.000-07:00</published><updated>2009-07-26T05:17:32.010-07:00</updated><title type='text'>Jalan Pencarian</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_QuLB7CyCzAw/SmsA3zvnTHI/AAAAAAAAAFU/XghB5pTZCRY/s1600-h/study.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 222px; height: 320px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_QuLB7CyCzAw/SmsA3zvnTHI/AAAAAAAAAFU/XghB5pTZCRY/s320/study.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5362380740097428594" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;   Jalan pencarian sebenarnya tidak akan pernah mantap oleh ikhtiyar manusia. Jadi perlu ada dua agenda antara menalar dan menerima dogma. Dengan menalar, hati dan pikiran mendapat pemuasan, karena hal ini melalui perjalanan intelektual yang mengasyikkan, walaupun kadang sangat melelahkan. Akan tetapi dengan cara ini posisi kebenaran belum menemukan kepastian. Dengan cara dogmatis terasa lebih aman, akan tetapi kadang-kadang hati dan pikiran mengalami kontradiksi.&lt;br /&gt;   Jadi yang perlu dicari adalah jalan yang tepat dalam rangka mencapai kebenaran dengan hati yang puas dan bahagia. Membaca, adalah salah satu caranya. Karakteristik penting dalam membaca adalah menghayati. Menghayati dipisahkan dari pengertian berpikir, menalar, menganalisis, meringkas, mencari pokok pikiran, gagasan dan lain-lain.&lt;br /&gt;   Penghayatan, disamping mempunyai pengertian yang mendalam, lebih mendorong seseorang untuk diam dalam diskusi, walaupun diam itu sendiri belum tentu menghayati. Penghayatan yang mendalam akan mengantarkan seseorang untuk melakukan konstruk teori. Konstruk teori dapat ditemukan oleh para penghayat sekaligus praktisi, bukan para pembaca buku atau pemikir (dalam tataran tertentu).&lt;br /&gt;Biasanya, orang yang dapat mengkonstruk teori berasal dari atau berangkat dari salah satu di antara berbagai macam disiplin ilmu (spesialisasi) atau proses pematangan pada satu pendekatan. Walaupun seseorang mengarah kepada pematangan satu pendekatan, dia tidak bisa mengabaikan nuansa pendekatan-pendekatan yang lain. Karena hal itu bertali kelindan antara yang satu dengan yang lain. Untuk memulainya, dia harus membaca semua ilmu (keasyikan membaca ilmu kadang menjadi terusik justru ketika mendengar eksplanasi ilmu itu dari orang lain) dalam rangka menemukan spesialisasi tersebut. Penemuan spesialisasi bisa diwujudkan karena adanya interest. Tanpa hal tersebut di atas, hanya akan terjebak dalam eksperimen-eksperimen tanpa hasil. Untuk visualisasinya, coba renungkan ini:&lt;br /&gt;“Lichtenberg menemukan identitas structural kualitatif dari berbagai domain disiplin ilmu. Ada pembiasan sinar karena gravitasi bumi. Setahun pada umumnya 365 hari, kecuali pada tahun kabisat. Ini bukan sekedar perhitungan hari dalam setahunnya, melainkan terkait pada rotasi bumi dan lainnya. Dua contoh tersebut menunjukkan adanya hubungan structural antar berbagai sesuatu yang konstan, yang berada pada domain disiplin ilmu yang mungkin beragam. Hubungan structural ini disebut oleh Lichtenberg sebagai paradigmata”&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1886692434588734437-1521249141294563109?l=matahati-hatibermata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://matahati-hatibermata.blogspot.com/feeds/1521249141294563109/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://matahati-hatibermata.blogspot.com/2009/07/jalan-pencarian.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1886692434588734437/posts/default/1521249141294563109'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1886692434588734437/posts/default/1521249141294563109'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://matahati-hatibermata.blogspot.com/2009/07/jalan-pencarian.html' title='Jalan Pencarian'/><author><name>Ahmad Junaidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00999491777416961806</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/_QuLB7CyCzAw/TGeKqw22b2I/AAAAAAAAAJk/z6-mhpqIZ8U/S220/IMG000020.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_QuLB7CyCzAw/SmsA3zvnTHI/AAAAAAAAAFU/XghB5pTZCRY/s72-c/study.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1886692434588734437.post-5223747985365387660</id><published>2009-07-18T16:51:00.000-07:00</published><updated>2009-07-18T17:05:22.142-07:00</updated><title type='text'>Keseimbangan</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_QuLB7CyCzAw/SmJigEUIuQI/AAAAAAAAAE0/Xi3_207ah00/s1600-h/tigers1.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 240px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_QuLB7CyCzAw/SmJigEUIuQI/AAAAAAAAAE0/Xi3_207ah00/s320/tigers1.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5359954809577847042" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Keseimbangan dapat ditengarai ketika kita sedang merasakan ketenangan dan kesenangan. Sedangkan kesenangan adalah suatu keadaan ketika unsur-unsur yang merusak dapat disingkirkan. Seseorang yang bekerja berdasarkan kewajiban dan bersumber dari pengetahuan, tentunya harus tidak lebih diperhatikan daripada seseorang yang bekerja berdasarkan rasa kesenangan, tanggung jawab yang penuh kepada Allah, umat dan dirinya sendiri. Untuk memperjelas pandangan terhadap individu perlu diketahuinya pengetahuan ketidakberesan dan kekurangan, sehingga dapat berkeputusan tanpa terganggu oleh pandangan yang memperdayai.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1886692434588734437-5223747985365387660?l=matahati-hatibermata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://matahati-hatibermata.blogspot.com/feeds/5223747985365387660/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://matahati-hatibermata.blogspot.com/2009/07/keseimbangan.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1886692434588734437/posts/default/5223747985365387660'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1886692434588734437/posts/default/5223747985365387660'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://matahati-hatibermata.blogspot.com/2009/07/keseimbangan.html' title='Keseimbangan'/><author><name>Ahmad Junaidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00999491777416961806</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/_QuLB7CyCzAw/TGeKqw22b2I/AAAAAAAAAJk/z6-mhpqIZ8U/S220/IMG000020.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_QuLB7CyCzAw/SmJigEUIuQI/AAAAAAAAAE0/Xi3_207ah00/s72-c/tigers1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1886692434588734437.post-8705111658198158618</id><published>2009-07-18T16:36:00.000-07:00</published><updated>2009-07-19T18:56:29.409-07:00</updated><title type='text'>Segenggam Mutiara</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_QuLB7CyCzAw/SmJfLd6zgoI/AAAAAAAAAEs/Fafgj5UoN84/s1600-h/0119.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 399px; height: 271px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_QuLB7CyCzAw/SmJfLd6zgoI/AAAAAAAAAEs/Fafgj5UoN84/s320/0119.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5359951157138784898" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Kuhargai pernyataan itu&lt;br /&gt;dengan segenggam mutiara,&lt;br /&gt;yang memisahkan diriku&lt;br /&gt;dari prinsip hidup menuju kemanusiaan.&lt;br /&gt;Tapi hidup adalah keputusan&lt;br /&gt;kebenaranpun suatu keputusan&lt;br /&gt;dan aku ada di dalamnya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1886692434588734437-8705111658198158618?l=matahati-hatibermata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://matahati-hatibermata.blogspot.com/feeds/8705111658198158618/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://matahati-hatibermata.blogspot.com/2009/07/segenggam-mutiara.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1886692434588734437/posts/default/8705111658198158618'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1886692434588734437/posts/default/8705111658198158618'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://matahati-hatibermata.blogspot.com/2009/07/segenggam-mutiara.html' title='Segenggam Mutiara'/><author><name>Ahmad Junaidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00999491777416961806</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/_QuLB7CyCzAw/TGeKqw22b2I/AAAAAAAAAJk/z6-mhpqIZ8U/S220/IMG000020.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_QuLB7CyCzAw/SmJfLd6zgoI/AAAAAAAAAEs/Fafgj5UoN84/s72-c/0119.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1886692434588734437.post-8137078782486049048</id><published>2009-07-05T08:15:00.000-07:00</published><updated>2009-07-05T08:33:22.851-07:00</updated><title type='text'>Indera Eksternal &gt;&lt; Indera Internal</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_QuLB7CyCzAw/SlDHQCJ_aWI/AAAAAAAAAEc/hg_SSaD7o_k/s1600-h/0755.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 320px; height: 266px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_QuLB7CyCzAw/SlDHQCJ_aWI/AAAAAAAAAEc/hg_SSaD7o_k/s320/0755.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5354999035214129506" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Indera-indera internal tidak akan berfungsi dengan baik, karena terhalangi oleh adanya fungsi indera eksternal. Oleh karena itu, berfungsinya indera-indera internal dapat terjadi pada masa atau waktu di mana indera-indera eksternal (mulai) tidak berfungsi.&lt;br /&gt;Dan di mana suatu kabar itu tidak begitu memerlukan penafsiran adalah, pada saat berfungsinya kedua jenis indera tersebut. Di sinilah, di samping gambaran-gambaran yang tampak terlihat jelas oleh penglihatan, juga suara-suara dapat terdengar jelas oleh pendengaran.&lt;br /&gt;Maka tidak heran jika ada seorang penyair dari Wajak Kabupaten Malang yang mengatakan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-family:courier new;" &gt;" Di mana letak rahasia-rahasia keberadaan dan kewujudan?&lt;/span&gt; &lt;span style="font-weight: bold;font-family:courier new;" &gt;bila engkau memakinya...&lt;/span&gt; &lt;span style="font-weight: bold;font-family:courier new;" &gt;di balik gunung hitam itukah &lt;/span&gt; &lt;span style="font-weight: bold;font-family:courier new;" &gt;atau di depan mata terbentang?&lt;/span&gt; &lt;span style="font-weight: bold;font-family:courier new;" &gt;Keberuntungan dan kesengsaraan&lt;/span&gt; &lt;span style="font-weight: bold;font-family:courier new;" &gt;adalah dua sisi yang berbeda,&lt;/span&gt; &lt;span style="font-weight: bold;font-family:courier new;" &gt;mengapa kau campuradukkan...?"&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1886692434588734437-8137078782486049048?l=matahati-hatibermata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://matahati-hatibermata.blogspot.com/feeds/8137078782486049048/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://matahati-hatibermata.blogspot.com/2009/07/indera-eksternal-indera-internal.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1886692434588734437/posts/default/8137078782486049048'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1886692434588734437/posts/default/8137078782486049048'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://matahati-hatibermata.blogspot.com/2009/07/indera-eksternal-indera-internal.html' title='Indera Eksternal &gt;&lt; Indera Internal'/><author><name>Ahmad Junaidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00999491777416961806</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/_QuLB7CyCzAw/TGeKqw22b2I/AAAAAAAAAJk/z6-mhpqIZ8U/S220/IMG000020.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_QuLB7CyCzAw/SlDHQCJ_aWI/AAAAAAAAAEc/hg_SSaD7o_k/s72-c/0755.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1886692434588734437.post-766192062547633844</id><published>2009-07-03T09:22:00.000-07:00</published><updated>2009-07-04T19:01:02.880-07:00</updated><title type='text'>Kebenaran = Keniscayaan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_QuLB7CyCzAw/Sk4ynK4Tl_I/AAAAAAAAAEU/kHI4x8uZ6tg/s1600-h/0683.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 233px; height: 320px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_QuLB7CyCzAw/Sk4ynK4Tl_I/AAAAAAAAAEU/kHI4x8uZ6tg/s320/0683.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5354272655506905074" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Kebenaran tidak hanya antara hitam dan putih, tetapi juga kelabu, berada di antara hitam dan putih. Tidak percaya? Coba pahami konsep rukhsoh dan darurat dalam ajaran hukum Islam. Hal ini menunjukkan kepada kita tentang eksistensi kebenaran kelabu. Maksudnya adalah kebenaran akan kehilangan eksistensinya apabila berada di ruang dan waktu yang tidak tepat. Sebaliknya suatu keniscayaan akan bernilai kebenaran jika berada pada ruang dan waktu yang tepat.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1886692434588734437-766192062547633844?l=matahati-hatibermata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://matahati-hatibermata.blogspot.com/feeds/766192062547633844/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://matahati-hatibermata.blogspot.com/2009/07/kebenaran-tidak-hanya-antara-hitam-dan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1886692434588734437/posts/default/766192062547633844'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1886692434588734437/posts/default/766192062547633844'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://matahati-hatibermata.blogspot.com/2009/07/kebenaran-tidak-hanya-antara-hitam-dan.html' title='Kebenaran = Keniscayaan'/><author><name>Ahmad Junaidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00999491777416961806</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/_QuLB7CyCzAw/TGeKqw22b2I/AAAAAAAAAJk/z6-mhpqIZ8U/S220/IMG000020.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_QuLB7CyCzAw/Sk4ynK4Tl_I/AAAAAAAAAEU/kHI4x8uZ6tg/s72-c/0683.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1886692434588734437.post-9099543853351922626</id><published>2009-05-09T17:31:00.000-07:00</published><updated>2009-05-09T17:48:43.515-07:00</updated><title type='text'>Jati Diri</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_QuLB7CyCzAw/SgYj9tZ0lYI/AAAAAAAAAEM/XUn61VT5PQM/s1600-h/0272.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 320px; height: 290px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_QuLB7CyCzAw/SgYj9tZ0lYI/AAAAAAAAAEM/XUn61VT5PQM/s320/0272.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5333990351733822850" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kita tidak pernah menjadi diri sendiri. Dalam hidup  kita hanya bisa menjadi orang menurut orang lain. Kita menjadi isteri yang sesuai dengan kemauan suami, menjadi karyawan yang sesuai dengan kemauan bos, menjadi warga yang sesuai dengan tradisi kampung, menjadi anak yang sesuai dengan keinginan orang tua, dan sebagainya. Untuk itu, kita harus banyak beradaptasi, menyesuaikan diri, banyak bertoleransi, menjaga perasaan. Ketika berpindah tempat, kita harus segera merubah kondisi kita supaya sesuai dengan lingkungan kita yang baru. Sesekali kita ingin menjadi diri sendiri, maka kita harus siap untuk diusir, dikucilkan, dimusuhi, difitnah dan di di yang lain, kita akan menjadi &lt;span style="font-style: italic;"&gt;the loser&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1886692434588734437-9099543853351922626?l=matahati-hatibermata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://matahati-hatibermata.blogspot.com/feeds/9099543853351922626/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://matahati-hatibermata.blogspot.com/2009/05/jati-diri.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1886692434588734437/posts/default/9099543853351922626'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1886692434588734437/posts/default/9099543853351922626'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://matahati-hatibermata.blogspot.com/2009/05/jati-diri.html' title='Jati Diri'/><author><name>Ahmad Junaidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00999491777416961806</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/_QuLB7CyCzAw/TGeKqw22b2I/AAAAAAAAAJk/z6-mhpqIZ8U/S220/IMG000020.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_QuLB7CyCzAw/SgYj9tZ0lYI/AAAAAAAAAEM/XUn61VT5PQM/s72-c/0272.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1886692434588734437.post-5234611739957422615</id><published>2009-02-27T20:37:00.000-08:00</published><updated>2009-02-27T20:46:05.500-08:00</updated><title type='text'>PNS: Jangan Hanya Mengandalkan Gaji</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_QuLB7CyCzAw/SajApKqr1AI/AAAAAAAAAD0/nkKk5L3kN2I/s1600-h/27022009365.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 320px; height: 240px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_QuLB7CyCzAw/SajApKqr1AI/AAAAAAAAAD0/nkKk5L3kN2I/s320/27022009365.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5307703974326686722" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt; &lt;div&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 35.45pt; text-align: justify;"&gt;Ketika menjadi PNS pada tahun 2003, pertama kali yang saya pikirkan adalah menutup angsuran untuk kebutuhan hidup sebelum menjadi PNS. Dengan waktu yang habis untuk rutinitas pekerjaan, otomatis yang terpikir pada waktu itu adalah bekerja keras untuk menutup angsuran. Ketika ada kenaikan gaji, merupakan kesempatan untuk memenuhi kebutuhan yang selama ini belum terpenuhi. Sehingga saya merasa dikejar-kejar angsuran yang tak kunjung selesai. Ketika dana tidak mencukupi sedangkan kebutuhan hidup menuntut untuk segera dipenuhi maka jalan satu-satunya adalah ngirit dan menahan diri.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 35.45pt; text-align: justify;"&gt;Hal seperti itu akhirnya mendorong saya untuk membuka pikiran. Pertama yang saya lakukan adalah mengamati pola berpikir para pedagang. Saya ingin tahu, kenapa para pedagang atau para &lt;i&gt;businessman&lt;/i&gt; itu begitu mudah memenuhi kebutuhan baik primer, sekunder maupun tersiernya. Yang kedua, saya masuk kedalam sebuah MLM dengan tujuan untuk mengikuti kegiatan-kegiatan edukasi maupun motivasinya. Ketiga, saya membeli buku-buku bisnis untuk membuka cakrawala pemikiran, mungkin banyak hal-hal yang selama ini tidak pernah saya pikirkan.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 35.45pt; text-align: justify;"&gt;Yang pertama adalah para pedagang selalu memegang uang yang terus berputar dan sebagian ditahan. Uang yang berputar untuk memperlancar sirkulasi barang dagangan, sedangkan uang yang ditahan ditujukan untuk membeli asset dan investasi. Kedua, di &lt;i&gt;Multi Level Marketing&lt;/i&gt; saya mempelajari tentang penjualan, membangun motivasi, bekerja dalam tim dan kerja keras. Sedangkan yang ketiga dari buku saya mendapatkan pemahaman bahwa bisnis yang sukses secara umum berasal dari minat yang besar terhadap bidang tertentu, fokus dan kerja keras. Kiyosaki dalam bukunya &lt;i&gt;The Cashflow Quadrant&lt;/i&gt; membagi penghasilan manusia menjadi dua, kuadran sebelah kiri adalah &lt;i&gt;employee&lt;/i&gt; (seseorang yang bekerja untuk orang lain) seperti karyawan perusahaan, PNS, atau buruh. Kemudian &lt;i&gt;self-employee&lt;/i&gt; (pekerja lepas) seperti pengacara, dokter, konsultan dan pengkhotbah/muballigh. Sedangkan sebelah kanan terdiri dari &lt;i&gt;business owner&lt;/i&gt; (pemilik usaha yang mendelegasikan aktifitasnya pada sebuah sistem) dan &lt;i&gt;investor&lt;/i&gt; (penanam modal). Kiyosaki menyarankan kita untuk berada di posisi kuadran kanan karena itu merupakan jalan menuju keamanan finansial atau bahkan kebebasan finansial.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 35.45pt; text-align: justify;"&gt;Bisa jadi seseorang berada sekaligus di kedua kuadran. Pegawai negeri sipil sebagai profesi sekaligus sebagai seorang pemilik usaha/bisnis atau investor. Karena menurut Kiyosaki, dalam bukunya, lebih baik berdiri dengan dua kaki daripada dengan satu kaki karena akan mudah terjatuh. Mungkin PNS adalah profesi kita, tetapi jangan lupa kita harus mempunyai bisnis yang dijalankan oleh orang yang kita gaji atau kita mendapat penghasilan yang kita peroleh dari investasi yang kita tanam di berbagai tempat. Hasil dari itu semua kita gunakan untuk semakin memperbesar aset dan investasi kita. Sehingga pada akhirnya kita akan sampai pada kebebasan finansial.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 35.45pt; text-align: justify;"&gt;Usaha yang saya lakukan, pertama kali saya menemukan bahwa saya senang dengan kegiatan keilmuan, maka hal itu harus ditekuni dengan mengikuti seminar, workshop atau mungkin dengan melanjutkan pendidikan atau dengan kata lain investasi pendidikan. Dengan jalan seperti itu, secara tidak terduga sering ada pemasukan finansial selain dari gaji sebagai PNS.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 35.45pt; text-align: justify;"&gt;Langkah kedua, dengan waktu mengajar yang dua hari berarti di luar itu banyak waktu untuk mengembangkan usaha sesuai dengan minat saya. Karena usaha yang optimal adalah yang sesuai dengan bakat dan minat kita, kalau kita bakat dagang seharusnya ke pasar, kalau bakat berkomunikasi mungkin mengembangkan usaha pemasaran atau &lt;i&gt;event organizer&lt;/i&gt;, pun jika kita berbakat dalam bidang pendidikan lebih baik mengembangkan sebuah lembaga pendidikan yang prospektif. Jangan sebaliknya, bakat jadi broker tetapi menangani sebuah pesantren, kemungkinan mudharatnya akan lebih besar. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 35.45pt; text-align: justify;"&gt;Ketiga, menginventarisir aset yang saya miliki dan menjadikannya lebih produktif. Misalnya tanah, segera disertifikatkan, supaya dalam keadaan tertentu bisa menjadi agunan. Disamping itu bisa ditanami tanaman yang menghasilkan dengan cara mempekerjakan orang lain. Sedangkan aset bangunan, sebaiknya dimodifikasi menjadi bentuk tempat usaha.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 35.45pt; text-align: justify;"&gt;Keempat, memberi pendidikan finansial sedini mungkin kepada anak-anak, supaya kelak dapat meneruskan apa yang sudah saya usahakan sekarang sekaligus dapat mengembangkan. Dengan langkah-langkah seperti itu, sekarang apabila ada kebutuhan hidup yang harus segera dipenuhi, pikiran yang terbersit pertama kali di benak saya bukanlah menahan diri, tetapi bagaimana caranya saya bisa memenuhi kebutuhan itu. Dengan demikian, lambat laun keluarga bisa lebih “terhidupi”, di samping ada hal lain yang juga perlu “dihidupi” yaitu masjid, TPQ, Diniyah dan SMP. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1886692434588734437-5234611739957422615?l=matahati-hatibermata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://matahati-hatibermata.blogspot.com/feeds/5234611739957422615/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://matahati-hatibermata.blogspot.com/2009/02/pns-jangan-hanya-mengandalkan-gaji.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1886692434588734437/posts/default/5234611739957422615'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1886692434588734437/posts/default/5234611739957422615'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://matahati-hatibermata.blogspot.com/2009/02/pns-jangan-hanya-mengandalkan-gaji.html' title='PNS: Jangan Hanya Mengandalkan Gaji'/><author><name>Ahmad Junaidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00999491777416961806</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/_QuLB7CyCzAw/TGeKqw22b2I/AAAAAAAAAJk/z6-mhpqIZ8U/S220/IMG000020.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_QuLB7CyCzAw/SajApKqr1AI/AAAAAAAAAD0/nkKk5L3kN2I/s72-c/27022009365.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1886692434588734437.post-6510105033274519885</id><published>2009-02-27T19:20:00.000-08:00</published><updated>2009-02-27T20:06:05.323-08:00</updated><title type='text'>LITERATUR KLASIK</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_QuLB7CyCzAw/Sai23FZAO-I/AAAAAAAAADs/09IJXbTxE4Y/s1600-h/kitab.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 320px; height: 240px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_QuLB7CyCzAw/Sai23FZAO-I/AAAAAAAAADs/09IJXbTxE4Y/s320/kitab.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5307693218312240098" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;    Kitab ini sekitar tahun 1997 saya temukan di &lt;span style="font-style: italic;"&gt;pogo&lt;/span&gt; (tempat untuk menyimpan barang yang sudah tidak terpakai) di atas dapur rumah Bude saya di desa Patokpicis, bersamaan dengan kitab-kitab lain yang dimasukkan ke dalam karung. Memang sebelumnya saya berniat mencari kitab-kitab peninggalan kakek saya, siapa tahu ada yang masih bisa saya baca. Dari sekian kitab-kitab yang ada, satu ini yang menarik perhatian saya. Kitab-kitab yang lain masih banyak yang bisa ditemukan di toko-toko kitab, tetapi yang satu ini saya yakin sudah tidak ada &lt;span style="font-style: italic;"&gt;stock&lt;/span&gt;nya di toko kitab manapun.&lt;br /&gt;      Kitab ini terdiri dari tiga bagian, bagian pertama berjudul &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Idhoh Asrari Ulum al-Muqarrabin&lt;/span&gt; (Penjelasan tentang Rahasia Ilmu Orang yang dekat kepada Allah) ditulis oleh Syekh Muhammad ibn Abdillah ibnu Syekh al-Idrus Ba Alwi. Isinya tentang ajaran tasawuf khususnya yang berkenaan dengan gerak-gerik hati sesuai dengan pengalaman spiritual penulisnya.&lt;br /&gt;   Yang kedua berjudul &lt;span style="font-style: italic;"&gt;al-Kibrit al-Ahmar&lt;/span&gt; (Belerang Merah) ditulis oleh al-Arif Billah Syekh al-Habib Abdullah ibnu Abi Bakr al-Idrus yang berisi tentang ajaran tasawuf khususnya yang berkenaan dengan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Maqamat&lt;/span&gt; dan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ahwal&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;   Sedangkan bagian yang ketiga berjudul &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ghayatul Qurab fi syarhi Nihayah al-Thalab&lt;/span&gt; (Tujuan Orang yang Dekat kepada Allah mengenai Akhir Pencarian) yang ditulis oleh Waliyyullah al-Syarif al-Habib Muhyiddin Abdul Qodir ibnu Syekh al-Idrus yang berisi tentang tata cara &lt;span style="font-style: italic;"&gt;wusul&lt;/span&gt; kepada Allah.&lt;br /&gt;   Dari ketiga bagian itu yang paling menarik bagi saya adalah yang pertama, karena terlihat dari paparannya betul-betul merupakan pengalaman spiritual dari penulisnya atau sering disebut dengan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;al-Ilmu fi al-Sudur &lt;/span&gt;(Ilmu adalah apa yang ada di dalam hati). Sedangkan dua bagian lainnya lebih merupakan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;al-Ilmu fi al-Sutur &lt;/span&gt;(Ilmu yang ada di dalam tulisan) yang bisa ditemukan di literatur kebanyakan. Lebih istimewa lagi, di bagian pertama itu banyak terdapat jawaban-jawaban dari apa yang menjadi pemikiran saya selama ini.&lt;br /&gt;       Kondisi dari kitab ini sudah parah, dipinggir halamannya sudah banyak yang remuk, sehingga beberapa hari yang lalu kitab ini saya fotokopi jadi empat kali dan saya beri cover hijau tua dan merah tua dengan tulisan judul berwarna emas. Bagi pembaca yang menginginkan bisa menghubungi saya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1886692434588734437-6510105033274519885?l=matahati-hatibermata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://matahati-hatibermata.blogspot.com/feeds/6510105033274519885/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://matahati-hatibermata.blogspot.com/2009/02/literatur-klasik.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1886692434588734437/posts/default/6510105033274519885'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1886692434588734437/posts/default/6510105033274519885'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://matahati-hatibermata.blogspot.com/2009/02/literatur-klasik.html' title='LITERATUR KLASIK'/><author><name>Ahmad Junaidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00999491777416961806</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/_QuLB7CyCzAw/TGeKqw22b2I/AAAAAAAAAJk/z6-mhpqIZ8U/S220/IMG000020.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_QuLB7CyCzAw/Sai23FZAO-I/AAAAAAAAADs/09IJXbTxE4Y/s72-c/kitab.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1886692434588734437.post-5431510240723400772</id><published>2009-01-20T07:34:00.000-08:00</published><updated>2009-01-20T07:47:25.313-08:00</updated><title type='text'>PERSAHABATAN</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Persahabatan secara umum, merupakan hal paling suci dan bermanfaat bagi manusia. Pengkhianat lebih jahat daripada pemalsu uang. Orang yang baik adalah sahabat bagi dirinya sendiri, dan yang lain juga merupakan teman baginya, ia tidak mempunyai musuh kecuali orang jahat. Orang yang bahagia adalah orang yang mempunyai sahabat dan berusaha agar dirinya bermanfaat bagi mereka. Manusia harus bekerja sebaik-baiknya untuk membahagiakan temannya dan selalu berbuat baik kepada mereka tanpa berbuat munafik dan mengambil muka.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1886692434588734437-5431510240723400772?l=matahati-hatibermata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://matahati-hatibermata.blogspot.com/feeds/5431510240723400772/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://matahati-hatibermata.blogspot.com/2009/01/persahabatan.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1886692434588734437/posts/default/5431510240723400772'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1886692434588734437/posts/default/5431510240723400772'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://matahati-hatibermata.blogspot.com/2009/01/persahabatan.html' title='PERSAHABATAN'/><author><name>Ahmad Junaidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00999491777416961806</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/_QuLB7CyCzAw/TGeKqw22b2I/AAAAAAAAAJk/z6-mhpqIZ8U/S220/IMG000020.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1886692434588734437.post-8535548722485643628</id><published>2009-01-20T07:27:00.001-08:00</published><updated>2009-01-20T07:34:09.340-08:00</updated><title type='text'>KEBAJIKAN</title><content type='html'>Alam semesta sebagai suatu keseluruhan adalah suatu sistem yang relevan dan organisme yang hidup. Anda jangan mengharapkan memperoleh ganjaran kebaikan yang telah Anda lakukan dari orang yang menerima kebaikan Anda itu. Kadang-kadang Anda melakukan sesuatu di sebuah tempat dan memperoleh ganjarannya di tempat lain secara tak terduga. Mengapa? Karena Allah adalah Pengatur Alam Semesta dan mencintai orang yang murah hati. Sa'di penyair Iran berkata: "Kerjakan kebajikan, dan lemparkanlah ke sungai Tigris, dan Tuhan akan memberimu pahala di gurun Sahara."&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1886692434588734437-8535548722485643628?l=matahati-hatibermata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://matahati-hatibermata.blogspot.com/feeds/8535548722485643628/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://matahati-hatibermata.blogspot.com/2009/01/kebajikan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1886692434588734437/posts/default/8535548722485643628'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1886692434588734437/posts/default/8535548722485643628'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://matahati-hatibermata.blogspot.com/2009/01/kebajikan.html' title='KEBAJIKAN'/><author><name>Ahmad Junaidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00999491777416961806</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/_QuLB7CyCzAw/TGeKqw22b2I/AAAAAAAAAJk/z6-mhpqIZ8U/S220/IMG000020.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1886692434588734437.post-1398551099682952690</id><published>2008-12-30T00:25:00.000-08:00</published><updated>2008-12-30T00:39:57.885-08:00</updated><title type='text'>HATI YANG SUNYI</title><content type='html'>Kita mengawali hidup dalam kesunyian (dalam kandungan ibu), kita juga akan mengakhiri hidup dalam kesunyian (liang lahat). Hidup, dalam carut marut keberadaan wujudnya akan menghilangkan unsur kesunyian dalam diri manusia, sehingga manusia akan semakin jauh dari hakekat hidupnya yang sebetulnya bisa dilihat dengan jernih jika manusia itu berada dalam kesunyian.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1886692434588734437-1398551099682952690?l=matahati-hatibermata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://matahati-hatibermata.blogspot.com/feeds/1398551099682952690/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://matahati-hatibermata.blogspot.com/2008/12/hati-yang-sunyi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1886692434588734437/posts/default/1398551099682952690'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1886692434588734437/posts/default/1398551099682952690'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://matahati-hatibermata.blogspot.com/2008/12/hati-yang-sunyi.html' title='HATI YANG SUNYI'/><author><name>Ahmad Junaidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00999491777416961806</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/_QuLB7CyCzAw/TGeKqw22b2I/AAAAAAAAAJk/z6-mhpqIZ8U/S220/IMG000020.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1886692434588734437.post-922172377984124702</id><published>2008-12-12T05:00:00.000-08:00</published><updated>2008-12-12T06:00:29.575-08:00</updated><title type='text'>PERPUSTAKAAN</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_QuLB7CyCzAw/SUJuUm-OHgI/AAAAAAAAADU/coIz8rLj8t0/s1600-h/0978.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 320px; height: 294px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_QuLB7CyCzAw/SUJuUm-OHgI/AAAAAAAAADU/coIz8rLj8t0/s320/0978.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5278903013569601026" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Setiap kali selesai mengajar atau kalau ada waktu di sela-sela mengajar, tempat pertama yang saya tuju adalah perpustakaan. Tempat yang paling tenang dan nyaman (menurut saya), tidak ada gangguan dari orang-orang yang membicarakan tetek bengek politik, baik politik  nasional, pilkada, ataupun politik kampus. Setelah melewati pintu, bagian yang paling dulu saya kunjungi adalah tempat koran untuk mengetahui berita tentang apa saja  yang  terjadi  di negeri ini. Kemudian ke bagian majalah, untuk lebih mengetahui berita-berita yang ada secara lebih detail. Setelah itu baru ke bagian tandon. Di bagian ini, saya biasanya bisa berlama-lama karena buku yang tersedia relatif bermutu dan serius serta agak langka. Hal ini selalu saya lakukan setiap ada di Jember, cuma sayang waktu yang disediakan di perpustakaan ini sangat terbatas, yaitu disesuaikan dengan jam kerja. Seandainya dibuka sampai malam hari tentu lebih asyik, itupun kadang-kadang waktu membaca terganggu dengan tidak adanya musholla untuk sholat, jadi harus pergi ke masjid kampus yang note bene jadi tempat tidur mahasiswa. Di perpustakaan ini saya jarang ketemu dengan teman dosen, sehingga menurut karyawan perpustakaan saya termasuk dosen yang paling sering berkunjung. Kalau di Malang selagi ada waktu saya menyempatkan diri untuk pergi ke perpustakaan umum kota Malang. Di sini ada Forum Penulis Kota Malang (FPKM) yang sering mengadakan acara -acara seputar perbukuan dan kepenulisan. Ingin sekali saya ikut acara-acara tersebut, cuma kadang-kadang waktu lebih banyak tersita untuk sesuatu yang terpaksa harus saya lakukan. Seperti hari ini, FPKM mengadakan acara Presiden Guyonan oleh Butet Kertaredjasa, saya tidak bisa hadir karena beberapa hal, sungguh sayang sekali. Tapi nggak apalah, mungkin lain kali saya bisa hadir. Mengenai perpustakaan, sebetulnya saya ingin sekali mendirikan di desa saya Patokpicis, karena di antara lembaga-lembaga pendidikan yang ada masih belum ada yang mempunyai perpustakaan. Padahal di sisi lain, para generasi mudanya banyak yang ingin maju dan  meningkatkan  potensi diri lewat bacaan. Setidak-tidaknya itulah  yang bisa saya simpulkan setelah terjun dalam masalah pendidikan di desa Patokpicis. Di perpustakaan saya menemukan banyak hal dan di perpustakaan saya bisa lebih menikmati hidup.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1886692434588734437-922172377984124702?l=matahati-hatibermata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://matahati-hatibermata.blogspot.com/feeds/922172377984124702/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://matahati-hatibermata.blogspot.com/2008/12/perpustakaan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1886692434588734437/posts/default/922172377984124702'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1886692434588734437/posts/default/922172377984124702'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://matahati-hatibermata.blogspot.com/2008/12/perpustakaan.html' title='PERPUSTAKAAN'/><author><name>Ahmad Junaidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00999491777416961806</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/_QuLB7CyCzAw/TGeKqw22b2I/AAAAAAAAAJk/z6-mhpqIZ8U/S220/IMG000020.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_QuLB7CyCzAw/SUJuUm-OHgI/AAAAAAAAADU/coIz8rLj8t0/s72-c/0978.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1886692434588734437.post-3372484845558775524</id><published>2008-11-09T00:10:00.000-08:00</published><updated>2008-11-09T00:46:35.626-08:00</updated><title type='text'>SMPI HIDAYATUL MUBTADIIN</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_QuLB7CyCzAw/SRai0n1NuOI/AAAAAAAAACs/jjjqOHbs_lU/s1600-h/08112008241.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 320px; height: 240px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_QuLB7CyCzAw/SRai0n1NuOI/AAAAAAAAACs/jjjqOHbs_lU/s320/08112008241.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5266575839185451234" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 35.45pt; text-align: justify;"&gt;Berawal dari perbincangan mengenai lulusan MI Hidayatul Mubtadiin yang kurang mendapat perhatian pendidikan yang serius pasca kelulusan MI di sekolah lanjutan menengah pertama tujuan para alumni, beberapa guru MI dan penulis berdiskusi mengenai kemungkinan mendirikan lembaga pendidikan menengah sendiri. Maka pada tahun 2007 berdirilah sekolah yang dimaksud. Nama SMPI Hidayatul Mubtadiin menjadi pilihan karena sebelumnya nama itu sudah menjadi nama TPQ, madrasah diniyah, TK Muslimat NU, MI dan masjid.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 35.45pt; text-align: justify;"&gt;Awal pendirian SMP ini mendapat tentangan yang hebat dari lembaga di tetangga desa. Sampai ada konvoi terror dari lembaga atau yayasan pendidikan tersebut. Tapi kami tidak merespon, program jalan terus karena memang tidak ada niatan untuk berbuat yang merugikan pihak lain. Konsentrasi kami adalah anak didik yang baru lulus MI mendapat pendidikan yang serius dan bermutu. Dengan harapan, para anak didik nanti dapat menjadi kader penerus atau bibit-bibit unggul di masyarakat.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 35.45pt; text-align: justify;"&gt;Tahun pertama murid yang terdaftar berjumlah 74 siswa. Adapun jumlah guru sebanyak 13 orang. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Jumlah ini menjadi modal untuk dimintakan surat ijin operasional dari kantor DIKNAS Kabupaten Malang. Bersamaan dengan turunnya surat ijin operasional, turun pula dana Bantuan Operasional Siswa (BOS). Padahal dana BOS bisa turun kalau sebuah sekolah sudah beroperasi minimal satu tahun. Hal ini dimungkinkan karena bantuan dari Bapak Paidi selaku Kasie SMP yang membantu kami. Beberapa saat SMPI membeli seperangkat alat drum band seharga Rp 11.000.000,- yang ditujukan sebagai pelengkap kegiatan siswa di sekolah.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 35.45pt; text-align: justify;"&gt;Pada tahun kedua sekarang ini (tahun 2008) perolehan jumlah siswa menurun menjadi 50 orang. Dengan bertambahnya jumlah siswa ini, pihak sekolah menambah dua orang guru lagi. Dari pihak pengurus kemudian ada tanah wakaf untuk SMPI seluas 1.600 m2 dan sudah diurus ke kantor DEPAG Kabupaten Malang. Disamping itu pada tahun ini juga SMPI mendapat bantuan alat laboratorium IPA dari DIKNAS Propinsi Jawa Timur.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1886692434588734437-3372484845558775524?l=matahati-hatibermata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://matahati-hatibermata.blogspot.com/feeds/3372484845558775524/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://matahati-hatibermata.blogspot.com/2008/11/smpi-hidayatul-mubtadiin.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1886692434588734437/posts/default/3372484845558775524'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1886692434588734437/posts/default/3372484845558775524'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://matahati-hatibermata.blogspot.com/2008/11/smpi-hidayatul-mubtadiin.html' title='SMPI HIDAYATUL MUBTADIIN'/><author><name>Ahmad Junaidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00999491777416961806</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/_QuLB7CyCzAw/TGeKqw22b2I/AAAAAAAAAJk/z6-mhpqIZ8U/S220/IMG000020.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_QuLB7CyCzAw/SRai0n1NuOI/AAAAAAAAACs/jjjqOHbs_lU/s72-c/08112008241.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1886692434588734437.post-5031138794626605409</id><published>2008-11-08T23:51:00.001-08:00</published><updated>2008-11-09T00:02:58.160-08:00</updated><title type='text'>TPQ dan Madrasah Diniyah</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_QuLB7CyCzAw/SRaYEr5gg3I/AAAAAAAAACk/I2O3IJEAGJc/s1600-h/09112008246.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 320px; height: 240px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_QuLB7CyCzAw/SRaYEr5gg3I/AAAAAAAAACk/I2O3IJEAGJc/s320/09112008246.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5266564020527203186" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 35.45pt; text-align: justify;"&gt;Sekitar tahun 2001 berawal dari pengamatan terhadap anak-anak disekitar masjid Hidayatul Mubtadiin yang pada sore hari bermain-main di halaman masjid padahal di sisi lain teman-teman mereka sedang mengaji, maka beberapa pengurus takmir masjid berinisiatif mengumpulkan anak-anak tersebut untuk diberi kegiatan mengaji. Pertama kali mengaji al-Quran dengan memakai metode al-Nahdiyah, setelah beberapa saat kemudian berganti dengan metode Qiro’aty. Perkembangan selanjutnya adalah dibentuknya Taman Pendidikan al-Quran (TPQ) dengan ketua TPQ isteri saya sendiri Wida Mazida, alumni PP Hidayatul Mubtadi-aat Lirboyo Kediri. TPQ ini sudah beberapa kali melakukan khataman.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 35.45pt; text-align: justify;"&gt;Semakin lama jumlah santri berkembang sehingga tempat mengaji yang pada waktu itu memakai suffah masjid menjadi tidak cukup. Sehingga dari seorang pengurus mengusulkan untuk membangun gedung khusus untuk TPQ. Bermodalkan uang pinjaman sejumlah Rp 3.000.000,- dan BPKB Honda Mega Pro saya yang laku Rp 3.000.000,- akhirnya dimulailah pembangunan tersebut. Ketika selesai dan ditotal dana yang dihabiskan ternyata ketemu Rp 21.000.000,-. Kemudian pada tahun 2003 gedung baru TPQ ini diresmikan oleh Bupati Malang Bapak H. Sujud Pribadi.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 35.45pt; text-align: justify;"&gt;Pada saat ini, dengan adanya perkembangan santri sebetulnya gedung yang mempunyai dua kelas ini sebetulnya tidak mencukupi. Karena di samping santri TPQ sendiri yang berjumlah cukup banyak. Alumni TPQ juga perlu ditampung dalam program madrasah diniyah. Dari pemikiran saya, berhubung para alumni ini kemudian banyak yang melanjutkan ke SMPI Hidayatul Mubtadiin yang juga baru satu tahun berdiri, maka akan lebih baik kalau kemudian perlu diprogramkan pembangunan gedung asrama Hidayatul Mubtadiin. Sekaligus di dalam asrama diberikan pelajaran kediniyahan sebagai pelengkap kurikulum di SMPI.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1886692434588734437-5031138794626605409?l=matahati-hatibermata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://matahati-hatibermata.blogspot.com/feeds/5031138794626605409/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://matahati-hatibermata.blogspot.com/2008/11/tpq-dan-madrasah-diniyah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1886692434588734437/posts/default/5031138794626605409'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1886692434588734437/posts/default/5031138794626605409'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://matahati-hatibermata.blogspot.com/2008/11/tpq-dan-madrasah-diniyah.html' title='TPQ dan Madrasah Diniyah'/><author><name>Ahmad Junaidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00999491777416961806</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/_QuLB7CyCzAw/TGeKqw22b2I/AAAAAAAAAJk/z6-mhpqIZ8U/S220/IMG000020.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_QuLB7CyCzAw/SRaYEr5gg3I/AAAAAAAAACk/I2O3IJEAGJc/s72-c/09112008246.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1886692434588734437.post-1667911665355410376</id><published>2008-11-08T23:44:00.001-08:00</published><updated>2008-11-09T00:04:29.437-08:00</updated><title type='text'>Masjid Hidayatul Mubtadiin</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_QuLB7CyCzAw/SRaV336EWNI/AAAAAAAAACc/XsNvnTCrAmI/s1600-h/09112008247.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 320px; height: 240px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_QuLB7CyCzAw/SRaV336EWNI/AAAAAAAAACc/XsNvnTCrAmI/s320/09112008247.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5266561601389222098" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;Selain hari rabu dan kamis kegiatan sehari-hari saya adalah di desa Patokpicis kecamatan Wajak kabupaten Malang. Mulai hari jum’at kegiatan rutin sholat jum’at di masjid Hidayatul Mubtadi-in, selaku ketua takmir mulai tahun 2001 sampai sekarang. Sebetulnya, inginnya sih segera pensiun, cuma dari beberapa pengurus masih merasa keberatan. Jadi sampai sekarang masih menjabat, walaupun sering ditinggal keluar kota. Alhamdulilah walaupun begitu setiap hari jum’at saya masih bisa melakukan sholat jum’at di masjid ini.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;Fondasi masjid ini didirikan sekitar tahun 1945 oleh Mbah H. Bisri. Disamping masjid, dulu juga ada bangunan berupa bilik-bilik bambu atau istilah kampung sini sering disebut dengan “guthekan”. Sebuah tempat berupa kamar-kamar yang digunakan untuk mengaji. Mbah H. Bisri mengajar ngaji didampingi isterinya Mbah Qibtiyah di tempat ini. Orang-orang yang mengaji biasanya datang dari dusun atau desa sekitar Patokpicis. Dari fondasi ini kemudian diteruskan menjadi sebuah bangunan utuh dan permanen oleh Mbah Ali. Untuk bagian ruang jama’ah wanita pada tahun 1997 dibangun oleh program ABRI Masuk Desa (AMD). Bangunan ini bertahan sampai sekarang, tanpa ada perubahan ataupun rehabilitasi.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;Pada tahun 2008 ini, seorang jama’ah dari masjid ini yaitu Bapak H. Amin seorang petani dan wiraswastawan sukses menyampaikan maksud hatinya untuk memugar masjid. Karena memang dari segi penampilan luarnya, masjid ini sepertinya kurang layak. Saya juga sepakat dengan pendapat beliau, Cuma saya masih mencari waktu luang di antara aktifitas yang menyita untuk membicarakan hal tersebut. Mudah-mudahan Allah SWT memberikan taufik dan hidayahNya, sehingga seluruh pengurus takmir dapat segera melaksanakan niat ini.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1886692434588734437-1667911665355410376?l=matahati-hatibermata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://matahati-hatibermata.blogspot.com/feeds/1667911665355410376/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://matahati-hatibermata.blogspot.com/2008/11/masjid-hidayatul-mubtadiin.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1886692434588734437/posts/default/1667911665355410376'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1886692434588734437/posts/default/1667911665355410376'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://matahati-hatibermata.blogspot.com/2008/11/masjid-hidayatul-mubtadiin.html' title='Masjid Hidayatul Mubtadiin'/><author><name>Ahmad Junaidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00999491777416961806</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/_QuLB7CyCzAw/TGeKqw22b2I/AAAAAAAAAJk/z6-mhpqIZ8U/S220/IMG000020.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_QuLB7CyCzAw/SRaV336EWNI/AAAAAAAAACc/XsNvnTCrAmI/s72-c/09112008247.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1886692434588734437.post-7123742616222413383</id><published>2008-10-13T06:30:00.000-07:00</published><updated>2008-11-09T00:06:29.034-08:00</updated><title type='text'>Sejarah...</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_QuLB7CyCzAw/SPNTZVt8bNI/AAAAAAAAABw/FJAp5lHHzRs/s1600-h/0568.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_QuLB7CyCzAw/SPNTZVt8bNI/AAAAAAAAABw/FJAp5lHHzRs/s320/0568.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5256636884863184082" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Tetapi sejarah adalah suatu cerminan hidup dari suatu generasi ke generasi lain, yang menuntut penyempurnaan terus menerus setelah pelajaran-pelajaran dan nilai-nilai kita ambil dari dalam sejarah tersebut. karena dengan begitu kita bisa menemukan baju identitas yang sesuai dengan jati diri kita sekarang, yang telah dirintis dengan susah payah oleh para pendahulu kita. Dengan keyakinan pula, kita akan mendapatkan sambung tali rasa di sela-sela hiruk pikuknya sejarah masa lalu yang kemudian kita teruskan di masa sekarang untuk generasi mendatang. Sebagaimana kata Nietzsche...Inilah pengalamanku tentang ilham, tak kusangsikan kalau orang harus pulang ke ribuan tahun lebih awal demi menemukan seseorang yang mampu berkata padaku "itu pengalamanku juga"....&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1886692434588734437-7123742616222413383?l=matahati-hatibermata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://matahati-hatibermata.blogspot.com/feeds/7123742616222413383/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://matahati-hatibermata.blogspot.com/2008/10/sejarah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1886692434588734437/posts/default/7123742616222413383'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1886692434588734437/posts/default/7123742616222413383'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://matahati-hatibermata.blogspot.com/2008/10/sejarah.html' title='Sejarah...'/><author><name>Ahmad Junaidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00999491777416961806</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/_QuLB7CyCzAw/TGeKqw22b2I/AAAAAAAAAJk/z6-mhpqIZ8U/S220/IMG000020.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_QuLB7CyCzAw/SPNTZVt8bNI/AAAAAAAAABw/FJAp5lHHzRs/s72-c/0568.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1886692434588734437.post-3579040497369917757</id><published>2008-09-24T19:43:00.001-07:00</published><updated>2008-09-25T19:06:54.405-07:00</updated><title type='text'>si pemurung</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_QuLB7CyCzAw/SNxDkT0OHOI/AAAAAAAAABo/5DbIbNmwf8k/s1600-h/IMG_0703.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_QuLB7CyCzAw/SNxDkT0OHOI/AAAAAAAAABo/5DbIbNmwf8k/s320/IMG_0703.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5250145556680809698" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;...mengenai rahmat Tuhan, yang lewat rahmat tersebut unsur rasional mengenali perbedaan-perbedaan, seorang manusia melebihi manusia yang lainnya, dan hal itu sesuai dengan kapasitas yang telah dikaruniakan Tuhan kepadanya. Tapi kedua rahmat ini merupakan pembawaan sejak lahir, bukan diupayakan. Kapasitas dan rahmat yang mesti diupayakan bukanlah pembawaan sejak lahir. Keduanya diperoleh dengan melakukan apa-apa yang dapat sesuai dengan kehendak Tuhan, di bawah bimbingan para Nabi. Oleh karena itu manusia harus menyambut seruan Nabi suci dan melaksanakan apa yang diperintahkannya. Dengan begitu dia dapat melihat lewat wawasan hatinya sifat setiap makhluk, asal mulanya dan ketentuan akhirnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bentuk apa...&lt;br /&gt;yang dapat menghibur hati&lt;br /&gt;kelalaian membuatku tak kuasa berpegang teguh&lt;br /&gt;dari kesejahteraan&lt;br /&gt;menjadi putus pengharapan&lt;br /&gt;Kalau tidaklah pandai menimbang-nimbang&lt;br /&gt;kata-kata berfaedah...&lt;br /&gt;hidup tidaklah&lt;br /&gt;terasa berharga&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1886692434588734437-3579040497369917757?l=matahati-hatibermata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://matahati-hatibermata.blogspot.com/feeds/3579040497369917757/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://matahati-hatibermata.blogspot.com/2008/09/si-pemurung.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1886692434588734437/posts/default/3579040497369917757'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1886692434588734437/posts/default/3579040497369917757'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://matahati-hatibermata.blogspot.com/2008/09/si-pemurung.html' title='si pemurung'/><author><name>Ahmad Junaidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00999491777416961806</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/_QuLB7CyCzAw/TGeKqw22b2I/AAAAAAAAAJk/z6-mhpqIZ8U/S220/IMG000020.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_QuLB7CyCzAw/SNxDkT0OHOI/AAAAAAAAABo/5DbIbNmwf8k/s72-c/IMG_0703.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1886692434588734437.post-1731866899043505561</id><published>2008-09-14T21:18:00.000-07:00</published><updated>2008-09-21T18:15:35.494-07:00</updated><title type='text'>SILA PERTAMA PANCASILA</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_QuLB7CyCzAw/SNbxF-2oOVI/AAAAAAAAABg/u_4NjtwGddE/s1600-h/012.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_QuLB7CyCzAw/SNbxF-2oOVI/AAAAAAAAABg/u_4NjtwGddE/s320/012.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5248647500820658514" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed; text-align: center;"&gt;&lt;span style=""&gt;KETUHANAN YANG MAHA ESA ATAU&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed; text-align: center;"&gt;&lt;span style=""&gt;KEUANGAN YANG MAHA KUASA&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed; text-align: center;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: left; text-indent: 36pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style=""&gt;Menurut Feuerbach. Inti kritik tersebut adalah bahwa bukan Tuhan yang menciptakan manusia, tetapi sebaliknya Tuhan adalah ciptaan angan-angan manusia. Agama hanyalah sebuah proyeksi manusia&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=1886692434588734437&amp;amp;postID=1731866899043505561#_ftn1" name="_ftnref1" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;. Allah, malaikat, surga, neraka tidak mempunyai kenyataan pada dirinya sendiri, melainkan hanya merupakan gambar-gambar yang dibentuk oleh manusia tentang dirinya sendiri. Agama hanyalah sebuah epiphenomenon; ia tidak mempunyai realitas dan arti pada dirinya sendiri, melainkan menunjuk pada sebuah basis yaitu manusia. Menurut Karl Marx dengan ajaran Historical Materialismenya, seseorang menjalankan agama bukan karena ia mengimaninya, melainkan karena ia membutuhkannya dalam kehidupan sehari-hari, karena fungsinya&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=1886692434588734437&amp;amp;postID=1731866899043505561#_ftn2" name="_ftnref2" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;. Niccolo Machiavelli, mengatakan bahwa pada zaman Romawi kuno, golongan bangsawan cepat sekali memanfaatkan agama untuk kepentingan sendiri&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=1886692434588734437&amp;amp;postID=1731866899043505561#_ftn3" name="_ftnref3" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: left; text-indent: 36pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;Banyak orang menyatakan diri beragama dan berTuhan. Nyatanya, garis-haluan politik yang menentukan nasib manusia secara langsung tidak berurusan dengan - atau apalagi mengacu pada - Tuhan. Acuannya yang nyata adalah Sang Kapital. Uang! "Tuhan" yang baru!&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Sekularisme&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Keputusan-keputusan politik dengan acuan Sang Kapital merupakan akibat jelek sekularisme secara langsung, dampak buruk sekularisasi yang niscaya. Tapi, sekularisasi sendiri netral. Ia justru harus jadi pintu gerbang bagi peradaban, termasuk ilmu-ilmunya, semisal teologi, jika tak mau kehilangan peran. Dengan pintu gerbang ini, teologi akan bisa menjadi alat, ralat, atau penyeimbang peradaban. Dalam masyarakat yang makin sekularistik seperti semasa revolusi Industri dalam sejarah Barat itu, orang merasa dimerdekakan dari Yang Absolut. Merasa lega dan lepas dari aneka macam beban Yang Absolut.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: left; text-indent: 36pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;Kelegaan yang justru keliru! Sebab, peradaban zaman kapanpun, tetap butuh "Yang Absolut" - sebagai pengikat. Penalarannya: di zaman kapanpun tak ada orang bisa hidup di pulau tersendiri. Masyarakat yang nyata selalu terbingkai dalam negara dan pemerintahan tertentu. Dan tiap negara selalu menciptakan "ideologi" atau apapun, agar dipatuhi masyarakatnya. Di negara-negara tertentu -  sejatinya amat sedikit - agama dipandang cocok untuk ideologi negara. Tapi kebanyakan negara di bumi, tidak! "Ideologi" mereka adalah "agama" yang  lain. Nah, itulah asal-usul "Agama" Ekonomi dengan Uang sebagai "Tuhan".&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: left; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;Tempat ibadat "Agama" Ekonomi adalah pasar - pasar bebas - dan ini menjadi mutlak. Dogma dan ajaran-ajaran ekonomis menjadi tak bisa diganggu gugat.  Pasar mewartakan keselamatan bagi yang percaya. "Agama" Ekonomi  menjanjikan pangan, sandang, papan, pekerjaan, kesejahteraan, kebebasan  dan keadilan bagi para pemeluknya. Iman pada pasar dan ekonomi adalah jalan keselamatan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: left; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;b&gt;Mengisi kekosongan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Jadi, yang terjadi selama ini -  secara kasar sejak revolusi Industri di Eropa sampai zaman internet dewasa ini - apa yang disebut mekanisme ekonomi dunia dengan ujung "kejayaan" globalisasi itu, adalah ketepatan waktu dan cara jitu yang dilakukan ekonomi dalam mengantisipasi  zaman. "Agama" Ekonomi telah mengisi kekosongan yang dibutuhkan zamannya. Begitu Tuhan dalam agama konvensional tak membawa dampak nyata, padahal masyarakat selalu butuh Yang Absolut untuk sarana pengikat, ia  masuk! Kebutuhan itu dengan lihai disuplai pasar bebas kapitalisme global. Ia mewartakan keselamatan berupa pangan, sandang dan seterusnya. Dinamika "Agama Ekonomi" itu mencipta akumulasi laba dan modal - ujungnya uang. Ini akhirnya menjadi dogma dasar yang mutlak menentukan sifat dan perilaku manusia secara meluas.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: left; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;Dengan tidak menafikan kekecualian di sana sini, pengaruh ini diwakili tiga gejala-dasar. Pertama, makin besar kelompok saudagar mereka menjadi kaum yang makin tamak. Kedua, oknum-oknum birokrasi negara makin kasar main serong dengan para cukong. Ketiga, frustrasi rakyat makin besar tanpa daya sebab tak bisa ikut beribadah dalam liturgi "Agama" Ekonomi.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: left; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;Dinamika di atas terjadi akibat tuntutan pasar. Nah, itulah Sang Sabda!  Ia jadi kekuatan mutlak yang baru (Sang Sabda lalu menjadi Sang Pasar). Faham "Agama" Ekonomi" itu bukan sekadar mimpi, wacana, proyeksi atau gagasan tetapi sudah langsung mewujud nyata  dalam produksi-distribusi-konsumsi sebagai hasil perilaku manusia sendiri.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: left; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;Rumusan di atas tidak sepenuhnya baru. Feuerbach dan Karl Marx pernah mewariskan hal senada. Menurut Feuerbach, manusia menciptakan Tuhannya dengan daya khayalnya sendiri. Dan menurut Karl Marx, agama masyarakat modern yang telah kehilangan Tuhan adalah Kapital. Memang dua acuan itu hanya dua dari jutaan jurus dalam rimba persilatan ekonomi  yang telah, sedang dan masih bergulir. Namun dengan tidak meninggalkan dua acuan tsb, peta ekonomi yang terkembang di dunia dewasa ini  - kini bergulir jadi mekanisme ekonomi (globalisasi) atau "Agama"  Ekonomi - bisa kita baca dengan jernih.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: left; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;b&gt;Sosok abstrak&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Kejernihan itu mengantar kita pada degradasi kemanusiaan, pendangkalan martabat manusia,  akibat kiprah dalam "agama" Ekonomi yang tak terkendali! Sebab, target mekanismenya adalah keuntungan - akumulasi uang dan modal - yang gilirannya akan  menguasai mayoritas manusia secara niscaya. Target itu menuntut persembahan-persembahan non manusiawi, dalam arti, tuntutan akumulasi uang akan jadi norma yang mengalahkan nilai-nilai kemanusiaan sendiri. "Agama" Ekonomi telah menggiring manusia, sebagai SDM, menjadi sosok-sosok abstrak. Ini amat mencolok dalam proses produksi. Sebagai berikut:&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: left; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;Pertama, dalam proses produksi,  manusia (pekerja yang nyata) diubah menjadi angka-angka laba, atau uang, yang abstrak. Pemerasan, pemanfaatan dan pemerasan terhadap manusia yang nyata, pada gilirannya menghasilkan keuntungan yang abstrak, terwujud dalam akumulasi uang dalam rekening-rekening bank. Ini terjadi akibat politik ekonomi rekayasa sejumlah raksasa bisnis, yang meski mungkin punya nama hebat, tapi hakikatnya mengabdi akumulasi uang dalam bentuk angka-angka yang abstrak di pasar bursa. Manipulasi nyata terhadap manusia nyata itu, dalam politik ekonomi, berubah bentuk menjadi aneka pelipur lara (yang nyata) seperti petuah, seminar, pidato-pidato dan sejenisnya yang bagus-bagus (tetapi hakikatnya adalah abstrak belaka).&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: left; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;Kedua, akumulasi laba alias uang telah jadi azas dan bertahta mengatasi martabat manusia. Jika atas nama laba sebuah pabrik harus tutup, tutuplah dia, tak peduli nasib para buruh. Sebaliknya jika arah dan sabda laba menyusun dogma perluasan proyek, diperluaslah dia, meski harus menggusur tanah sawah rumah rakyat. Itu semua terjadi karena permintaan atau tuntutan pasar. Dalam bahasa "Agama" Ekonomi, sebab mematuhi Sang Sabda!&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: left; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;Ketiga, pengabstrakan manusia terjadi akibat dialektika abstraksi dan konkretisasi dalam "Agama" Ekonomi. Uang adalah bentuk lain pekerja (nyata) yang diabstrakkan. Buruh adalah uang (abstrak, angka-angka) yang dikonkretkan. Dan, keuntungan (abstrak) adalah  pemerasan (nyata) yang telah diabstrakkan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: left; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;Abstraksi dan konkretisasi itu makin dahsyat sebab politik ekonomi (abstrak) masih acapkali culas. Padahal, tanpa keculasan dan saat politik berjalan lurus atau "biasa", abstraksi dan konkretisasi tetap berlangsung. Tingkat kedahsyatan itu makin canggih seiring dengan kecanggihan zaman. Makin modern-canggih zaman, makin kompleks politik ekonomi, makin kabur dan makin bertopeng praktek homo homini lopus.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: left; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;b&gt;Pencipta Abstrak&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Di era purba, segalanya lebih jelas dan lebih terbuka. Gejala atau wajah pemeras dan yang diperas, penindas dan sang tertindas, mewujud jelas dalam artikulasi dan pemaknaan. Sebab, dikotominya jelas. Yakni tuan tanah lawan petani, majikan-budak, ningrat-jelata. Pendeknya, lingkaran atas berhadapan dengan ligkaran bawah, si kuat berhadapan dengan si lemah. Seluruh kaum atas apapun sebutannya - tentu ada kekecualian - berdiri di satu kubu ialah kubu penindas, dan lingkaran rakyat jelata melata tersaruk-saruk di kubu lain sebagai alas kaki yang diperas-ditindas-dilecehkan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: left; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;Dalam dunia modern, keterbukaan artikulasi dan kejelasan makna itu memudar. Mutu pemerasan dan penindasan makin canggih, kabur, sampai pada gilirannya seolah-olah sudah bukan penindasan dan pemerasan. Sialnya di pihak tertindas, atau untungnya di pihak penindas, penindasan itu justru seolah-olah menjadi keniscayaan, bahkan kebutuhan di pihak si tertindas. Itulah yang terjadi dalam "Agama" Ekonomi tempat Sang Maharaja Uang bertahta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, dalam rangka di atas, uang juga menjadi Pencipta Abstrak. Ia menyulap ketidakadilan yang nyata menjadi kebutuhan yang abstrak. Kebutuhan yang abstrak itu menjadi kenyataan yang hidup! Mengapa? Sebab dalam proses produksi-distribusi-konsumsi dalam "agama" Ekonomi, pemerasan dan ketidakadilan yang niscaya itu, tak bisa dicegah para kurban. Manipulasi dan ketidakadilan itu menjadi keniscayaan. Dan bahkan seolah-olah menjadi perwujudan kehendak bebas para kurban!&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: left; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;Alhasil, iman atas "Agama" Ekonomi adalah peradaban insan yang kesasar. Menuju ke mana?&lt;/p&gt;  &lt;div style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;br /&gt;&lt;hr align="left" size="1" width="33%"&gt;  &lt;!--[endif]--&gt;  &lt;div style="" id="ftn1"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=1886692434588734437&amp;amp;postID=1731866899043505561#_ftnref1" name="_ftn1" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="" id="ftn3"&gt;&lt;p class="MsoFootnoteText" style="text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" style="" lang="AR-EG"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1886692434588734437-1731866899043505561?l=matahati-hatibermata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://matahati-hatibermata.blogspot.com/feeds/1731866899043505561/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://matahati-hatibermata.blogspot.com/2008/09/rumah-mungil-smaneta-inilah-smaneta.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1886692434588734437/posts/default/1731866899043505561'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1886692434588734437/posts/default/1731866899043505561'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://matahati-hatibermata.blogspot.com/2008/09/rumah-mungil-smaneta-inilah-smaneta.html' title='SILA PERTAMA PANCASILA'/><author><name>Ahmad Junaidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00999491777416961806</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/_QuLB7CyCzAw/TGeKqw22b2I/AAAAAAAAAJk/z6-mhpqIZ8U/S220/IMG000020.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_QuLB7CyCzAw/SNbxF-2oOVI/AAAAAAAAABg/u_4NjtwGddE/s72-c/012.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1886692434588734437.post-1025818185794336846</id><published>2008-09-12T20:28:00.001-07:00</published><updated>2008-09-12T20:43:29.512-07:00</updated><title type='text'>DESAHAN KALBU</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_QuLB7CyCzAw/SMs2gTQovzI/AAAAAAAAABE/n_eXk5zqPHM/s1600-h/0924.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 380px; height: 226px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_QuLB7CyCzAw/SMs2gTQovzI/AAAAAAAAABE/n_eXk5zqPHM/s320/0924.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5245346119556841266" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tuhan yang Maha Pengasih&lt;br /&gt;curahkan belas kasihMu&lt;br /&gt;lalu biar kutemukan yang terpilih&lt;br /&gt;yang pantas, dari ilmu dan hikmah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Curahkan kasih sayangMu dalam persoalanku,&lt;br /&gt;maka...Engkau lahirkan dalam diriku&lt;br /&gt;penyaksian kepada yang ghaib bagiku.&lt;br /&gt;Kasih sayang ini...&lt;br /&gt;hanya dapat dikenali&lt;br /&gt;dengan kelembutan dan perenungan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biarlah sesaat aku ke masa kecil&lt;br /&gt;mengingat sedikit kesusahan&lt;br /&gt;yang tidak pernah membuatku mati,&lt;br /&gt;dan tak pula ada urusan yang khawatir luput dariku&lt;br /&gt;walau firasat...&lt;br /&gt;sering memberiku takut dan harap&lt;br /&gt;dalam hiasan tauhid&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tunaikan segala kebutuhanku semasa itu&lt;br /&gt;yang memberikan ilmu bagiku&lt;br /&gt;bahwa tujuan nanti adalah&lt;br /&gt;pendiam dan penyendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Allah,&lt;br /&gt;sembunyikan diriku dalam cintaMu&lt;br /&gt;barangkali aku bisa memberi tahu jiwaku&lt;br /&gt;tentang keagunganMu dalam sepi dan rahasia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya saja, Tuhan yang Maha Rahman&lt;br /&gt;punya rahasia yang dijaganya,&lt;br /&gt;kepada yang berhak dalam rahasia ini&lt;br /&gt;yang akan diberikan,&lt;br /&gt;dan memelihara itu adalah lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiadalah sesuatu bagiku daripadanya&lt;br /&gt;selain dengan menyebut dalam desahan kalbu&lt;br /&gt;yang mengobarkan api cinta&lt;br /&gt;dan kerinduan dalam dada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun sebenarnya keinginanku&lt;br /&gt;hanya untuk kemuliaan dan akal pikiran&lt;br /&gt;akal cipta untuk mengurai segala wujud&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi maluku terhadapMu&lt;br /&gt;mencegah untuk menyatakan keinginanku,&lt;br /&gt;Engkau cukupkan aku dengan pengertian,&lt;br /&gt;agar aku tidak berterus terang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kerahasiaan ini...&lt;br /&gt;hatiku gembira bersama manusia&lt;br /&gt;dengan sifat-sifat yang kutempatkan&lt;br /&gt;di sisi Dzat yang Maha Mulia&lt;br /&gt;lagi banyak karunia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1886692434588734437-1025818185794336846?l=matahati-hatibermata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://matahati-hatibermata.blogspot.com/feeds/1025818185794336846/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://matahati-hatibermata.blogspot.com/2008/09/desahan-kalbu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1886692434588734437/posts/default/1025818185794336846'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1886692434588734437/posts/default/1025818185794336846'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://matahati-hatibermata.blogspot.com/2008/09/desahan-kalbu.html' title='DESAHAN KALBU'/><author><name>Ahmad Junaidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00999491777416961806</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/_QuLB7CyCzAw/TGeKqw22b2I/AAAAAAAAAJk/z6-mhpqIZ8U/S220/IMG000020.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_QuLB7CyCzAw/SMs2gTQovzI/AAAAAAAAABE/n_eXk5zqPHM/s72-c/0924.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1886692434588734437.post-3860139514092860995</id><published>2008-09-11T19:00:00.000-07:00</published><updated>2008-09-14T19:46:24.318-07:00</updated><title type='text'>Blogku</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_QuLB7CyCzAw/SMst2ekhO9I/AAAAAAAAAAs/DhtOo81_EJo/s1600-h/khayamportraitsm.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_QuLB7CyCzAw/SMst2ekhO9I/AAAAAAAAAAs/DhtOo81_EJo/s320/khayamportraitsm.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5245336604945497042" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Blog ini tidak lain adalah media untuk mencurahkan pemikiran-pemikiran serta renungan-renungan yang menurut saya sulit untuk dikemukakan didepan khalayak. Kegelisahan-kegelisahan hidup yang menuntut untuk dikomunikasikan, tetapi tidak tahu kepada siapa harus dikomunikasikan, mungkin sebagaimana Jalaludin Rumi yang tidak tahu kemana gerangan gejolak batinnya itu disampaikan, sampai dia menemukan orang yang tepat untuk menerima desahan kalbunya semisal Syams Tabris.&lt;br /&gt;    Memang dunia ramai tidak menerima perenungan, kesendirian dan pengalaman spiritual. Dunia adalah formalitas, permukaan dan pesta pora. Dan saya sudah maklum akan hal itu, adapun segala atribut yang melekat pada diri saya adalah formalitas kehidupan. Tangan-tangan gaib yang berkenan menyentuhku untuk menempatkan diriku pada kondisi, ruang dan waktu yang tepat, akhirnya diri saya bukanlan siapa-siapa dan bukan apa-apa.&lt;br /&gt;    Bahwa tujuan nanti adalah pendiam dan penyendiri, sampai rahasia-rahasia ini samapai waktunya untuk disampaikan. Jikalaupun ada pembaca yang secara tidak sengaja membuka blog saya ini, dan terpaksa membacanya, dilupakan juga boleh..., seandainya diantara kata-kata saya ada yang mampir di relung hati Anda berarti inilah pertemuan antara Jalaludin Rumi dan Syams Tabriz setelah kehilangannya dari Konya. Wassalam&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1886692434588734437-3860139514092860995?l=matahati-hatibermata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://matahati-hatibermata.blogspot.com/feeds/3860139514092860995/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://matahati-hatibermata.blogspot.com/2008/09/blog-ini-tidak-lain-adalah-media-untuk.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1886692434588734437/posts/default/3860139514092860995'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1886692434588734437/posts/default/3860139514092860995'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://matahati-hatibermata.blogspot.com/2008/09/blog-ini-tidak-lain-adalah-media-untuk.html' title='Blogku'/><author><name>Ahmad Junaidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00999491777416961806</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/_QuLB7CyCzAw/TGeKqw22b2I/AAAAAAAAAJk/z6-mhpqIZ8U/S220/IMG000020.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_QuLB7CyCzAw/SMst2ekhO9I/AAAAAAAAAAs/DhtOo81_EJo/s72-c/khayamportraitsm.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
