04 June 2010

Pencarian Makna melalui Persepsi


Makna

Ada orang yang mendengar tetapi tidak memperhatikan, melihat tetapi tidak menangkap makna yang dilihat, dan merasakan tetapi tidak menghayati. Maka, aku menyadari bahwa orang yang buta adalah buta mata hatinya, bukan buta penglihatannya”. (Helen Keller).

Makna, sebuah kata yang sering kita dengar. Tetapi mungkin kita tidak mendefinisikannya dengan jelas. Menurut Elaine B. Johnson, Ph. D., dibukunya yang sangat saya sukai. Contextual Teaching and Learning. Elaine memaknai kata “makna” dengan merujuk ke Webster’s New World Dictionary: sesuatu itu memiliki makna jika sesuatu itu penting dan berarti bagi diri pribadi seseorang. Makna, dalam upaya memahaminya, sesungguhnya merupakan salah satu masalah filsafat yang tertua dalam umur manusia. Menurut De Vito, makna tidak terletak pada kata-kata, melainkan pada diri manusia. Wittgenstein menegaskan, arti kata bergantung pada penggunaannya dalam kalimat sedangkan arti kalimat bergantung pada penggunaannya dalam bahasa. Artinya, makna suatu kata tidak bisa dilepaskan dari konteks historisnya di mana kata itu diucapkan.

Makna dalam Budaya

Kebudayaan, adalah perkembangan penalaran imajinatif manusia melihatnya sebagai bagian dari evolusi strategi manusia dalam memahami siapa dirinya, komunitasnya, dunianya dan realitasnya yang begitu kompleks.

Kata budaya terdiri dari dua suku kata yaitu budi dan daya. Budi adalah makna akal, pikiran, pengertian, paham, pendapat, perasaan. Sedangkan daya mengandung kompleksitas makna dari yang tersurat dalam budi, juga sebagai himpunan kemampuan dan segala usaha yang dikerjakan dengan menggunakan hasil pendapat budi untuk memperbaiki sesuatu dengan tujuan mencapai kesempurnaan.

Kebudayaan bukanlah “gambar” dan individu tinggal “mengamatinya”. Kebudayaan adalah aliran pertautan interaksi, kreasi, korelasi dan keterhubungan yang mengadopsi, membuang, mengkritisi, meredefinisi makna, demi menemukan makna baru yang lebih relevan.

Kebudayaan adalah medan yang sarat dengan pertarungan makna. Kebudayaan adalah suatu proses dan hasil dari pemberian bentuk atau makna atas realitas yang kerap tak berbentuk. Transaksi kultural dan pembentukan makna, di mana segala hal menjadi mungkin.

Memahami, memetakan, dan menarikan realitas pergumulan manusia dalam memberi bentuk dan makna atas realitas yang tak berbentuk (amorphous). Dengan kata lain, kita tak hanya menggumuli tataran refleksi filosofis, tetapi juga memahami kebudayaan melalui pergumulan dengan pelbagai bentuk pengalaman empiris.

Makna dalam Bahasa

Kemampuan utama khas manusia adalah bahasa, maka makna-makna hubungan komunikasi itu umumnya diartikulasikan dalam konseptualisasi diskursif, alias dalam wacana. Dalam dan melalui wacana inilah kita merumuskan diri, mengevaluasi diri, dan mengubah cara melihat, merasa dan memahami. Melalui wacana kita membentuk dan memahami identitas diri. Wacana adalah layar di mana kita diimajinasikan dan direpresentasikan (diinterpretasikan) bagi diri sendiri. Masalahnya adalah bahwa dalam kenyataannya pelbagai pihak lain juga, yang diwarnai pelbagai kepentingan: kepentingan politis, komersial, filosofis, religius, artistik, atau gender, kelas sosial, pendapatan, dan orientasi politis. Pelbagai kepentingan itu mengakibatkan representasi tentang kita tidak selalu autentik dan fair.

Bahasa sebagai suatu sistem simbol ternyata tidak bisa mengungkap seluruh realitas yang ada di dunia ini. Simbol atau lambang memperoleh fungsi khususnya dari konsensus atau mufakat kelompok atau konvensi sosial, dan tidak mempuyai efek apapun bagi setiap orang yang tidak mengenal konsensus tersebut. Hal ini karena bahasa pada hakikatnya merupakan sistem simbol-simbol. Sedangkan tugas dari filsafat yang utama adalah mencari jawab atau makna dari seluruh simbol yang menampakkan diri di alam semesta ini. Bahasa juga adalah alat untuk membongkar seluruh rahasia simbol-simbol tersebut.

Kemampuan utama khas manusia adalah bahasa, maka makna-makna hubungan komunikasi itu umumnya diartikulasikan dalam konseptualisasi diskursif, alias dalam wacana. Dalam dan melalui wacana inilah kita merumuskan diri, mengevaluasi diri, dan mengubah cara melihat, merasa dan memahami. Melalui wacana kita membentuk dan memahami identitas diri. Wacana adalah layar di mana kita diimajinasikan dan direpresentasikan (diinterpretasikan) bagi diri sendiri. Masalahnya adalah bahwa dalam kenyataannya ada berbagai pihak lain yang ikut bermain, yang diwarnai berbagai kepentingan juga: kepentingan politis, komersial, filosofis, religius, artistic, atau gender, kelas social, pendapatan, dan orientasi politis. Berbagai kepentingan itu mengakibatkan representasi tentang kita tidak selalu autentik dan fair.

Dalam dunia filsafat, persoalan makna ini telah menjadi perhatian utama para tokoh filsafat dari aliran analisa atau yang lebih terkenal dengan sebutan aliran filsafat bahasa. Bagi Wittgenstein bahwa bahasa menggambarkan realitas dan makna yang terkandung di dalamnya tiada lain merupakan penggambaran suatu keadaan factual dalam dunia realitas melalui bahasa. Yang mengandung makna hanyalah hal-hal yang dapat diverifikasi secara empirik. Fakta ialah suatu Sachverhalt (bahasa Jerman), yaitu hubungan-hubungan yang dipunyai oleh objek-objek.

Bahasa meliputi tautology (seperti dalam matematika) atau fakta-fakta yang dapat dicek. Di dalam lingkungan bahasa yang bermakna, jadi di dalam lingkungan dunia ini, segala sesuatu seperti adanya. Nilai terletak di luar dunia dan tak pernah dapat diungkap oleh bahasa, karena bahasa tak dapat mengatasi lingkungan fakta (apa yang ada, das Sein), sedangkan nilai menyangkut apa yang seharusnya ada (das Solen). Karena itulah etika tak dapat dituturkan, alias dibahasakan.

Pikiran adalah kalimat (proposisi) yang bermakna. Proposisi itu merupakan suatu gambaran realitas, Sebuah proposisi harus dapat menunjukkan pengertian tertentu tentang realitas, sehingga seseorang yang dihadapkan pada proposisi seperti itu hanya perlu mengatakan “ya” atau “tidak” untuk menyetujui realitas yang dikandung oleh proposisi tersebut. Hanya proposisi yang memiliki makna. Proposisi-proposisi atau kalimat-kalimat yang logis memperlihatkan struktur dunia. Logika bukan suatu ajaran, melainkan cerminan dunia. Penyelidikan logis merupakan penyelidikan mengenai segala bentuk keajegan. Namun, ketidakbermaknaannya itu bukan pada dirinya, sebab metafisika tidak bermakna atas nama bahasa logika.

Makna dalam Filsafat

Fungsi filsafat adalah menunjukkan makna sesuatu yang tidak dapat dikatakan (atau dipikirkan) dengan menghadirkan secara jelas sesuatu yang dapat dikatakan. Hanya sebatas itu, Merleau Ponty, seorang filosof postmodern mengatakan, Makna realitas tentang dunia itu berliku-liku dan mempunyai banyak dimensi. Menurut Merleau Ponty, pengetahuan manusia selalu fragmenter dan tempat-tempat terang dipisahkan dari tempat-tempat gelap. Jika filsafat memfokuskan pada satu dimensi dari banyak dimensi tentang realitas, maka yang lainnya berada dalam kegelapan. Karena itu, Merleau Ponty merasa curiga terhadap filosof yang berbicara dengan terang dan jelas. Jalan filsafat itu selalu penuh dengan risiko.

Makna dalam Filsafat Modernisme

Modernisme membawa erosi makna, konflik yang tak berkesudahan tentang nilai-nilai politis, dan ancaman tembok besi birokrasi. Rasionalitas yang dikembangkan modernisme, memang membuat dunia tertib dan dapat diandalkan, tetapi ia tak dapat membuat dunia menjadi bermakna. Robert Marcus (1898-1979) berpandangan bahwa masyarakat industri modern adalah masyarakat yang tidak sehat. Karena masyarakat tersebut merupakan masyarakat yang berdimensi satu (one dimensional man).

Pada masyarakat semacam ini, segala segi kehidupannya diarahkan pada satu tujuan, yaitu keberlangsungan dan peningkatan sistem yang telah ada yang tidak lain adalah sistem kapitalisme. Masyarakat tersebut juga bersifat represif dan totaliter, karena pengarahan pada satu tujuan itu berarti menyingkirkan dan menindas dimensi-dimensi yang lain yang tidak menyetujui atau tidak sesuai dengan sistem tersebut.

Hal itu bisa dilaksanakan dengan lancar dan efektif karena teknologi modern, yang berkat kemampuannya untuk menciptakan kemakmuran bagi manusia dan pengaturan masyarakat yang nampak serba rasional, dapat memuaskan kebutuhan-kebutuhan hidup yang pada tahap-tahap masyarakat sebelumnya menimbulkan protes dan konflik sosial. Manusia yang tinggal dalam masyarakat tersebut dibuat pasif dan representatif, tidak lagi menghendaki adanya suatu perubahan. Semua ini, kata Marcus, merupakan akibat dari krisis ilmu pengetahuan modern.

Makna dalam Filsafat Postmodernisme

Ernest Gellner, ia berpendapat bahwa gagasan utama posmodernisme terletak pada suatu keyakinan yang menyatakan bahwa semua yang ada adalah sebuah teks; bahwa bahan pokok semua teks; masyarakat dan hampir apapun adalah makna-makna yang perlu diurai atau didekonstruksi, dan bahwa pandangan mengenai realitas yang objektif harus dicurigai. Kebenaran bagi postmodernisme adalah sukar dipahami, multi bentuk, batiniah, dan subjektif.

Ini artinya, bahwa untuk menemukan postmodernisme, kata Akbar S. Ahmed, maka harus dicari kekayaan makna, bukan kejelasan makna, juga dihindari memilih antara hitam dan putih, memilih ini atau itu, dan terimalah keduanya. Selanjutnya buatlah tingkatan makna dan kombinasi fokus yang banyak dan berusaha menemukan sendiri dengan pengetahuan sendiri. Di mana tidak ada yang sakral, setiap keyakinan bisa direvisi.

Jacques Derrida, mengajukan logosentrisme, yaitu kehendak untuk sebuah pusat. Secara harfiah logosentrisme artinya keterpusatan pada logos (kata). Tradisi logosentris yang dimaksud Derrida adalah suatu tradisi pemikiran yang didasarkan pada anggapan tertentu mengenai “ada” . Logosentrisme berdasarkan anggapan bahwa “ada” adalah sama dengan kehadiran dan yang benar adalah yang riil atau yang hadir. Semua yang ada di dunia ini “ada” karena dihadirkan oleh “logos” (kata). Makna selalu tertenun dalam teks. Dengan kata lain, manusia tidak dapat berpikir atau menulis apa pun tanpa merujuk pada tradisi pemikiran tertentu yang mengendap dan dilestarikan dalam sekian banyak teks yang saling berkaitan.

Adapun sisi positif dan menyegarkan dari gerakan ini, yang oleh Barthes disebut sebagai “jouissance” adalah pandangannya mengenai perlunya toleransi, pentingnya pluralisme, kebebasan meneliti, perlunya memahami orang lain, kesalehan, kasih sayang, memberikan perhatian pada orang tua dan orang yang tak beruntung, serta mengetahui dan memahami satu sama lain. Gerakan ini hanyalah merupakan fase historis sejarah manusia yang menawarkan kemungkinan yang belum ada sebelumnya. Postmodernisme sebagaimana telah diuraikan di atas, adalah suatu gerakan yang memayungi berbagai aliran pemikiran yang mencoba menggugat dan mengkritisi kemapanan dan sekaligus keangkuhan yang ditampilkan modernisme.

Perluasan dan Pengembangan Persepsi untuk Mencari Makna

Persepsi dibentuk oleh kehidupan, pengetahuan, nilai-nilai, dan keyakinan yang melahirkan sikap. Persepsi memiliki kekuatan luar biasa hingga menentukan perjalanan hidup manusia, baik dalam urusan rumah tangga, usaha, sosial, kesehatan dan spiritual. Jika Anda berpikir negatif terhadap pekerjaan dan pasangan Anda maka akal akan mengesampingkan sisi lain dari pasangan dan pekerjaan Anda.

Socrates mengatakan, kita tidak melihat segala sesuatu apa adanya, tetapi kita melihatnya sesuai dengan persepsi kita. Tetapi ketika akal manusia tidak terlatih berpersepsi dengan benar, maka ia tidak dapat membedakan antara sesuatu yang mengancam kehidupan dan sesuatu yang mendatangkan manfaat baginya. Segala sesuatu ada dalam persepsi. Jika saya tidak mengetahui saat ini, bukan berarti sesuatu itu tidak ada secara faktual, tapi ia tidak ada dalam persepsi saya saja.

Pada dasarnya kenyataan adalah persepsi yang telah diprogram oleh manusia. Setiap orang memiliki persepsi yang berbeda-beda tentang kenyataan hidup yang mereka jalani. Bahkan perbedaan itu terjadi antara satu suku dan suku yang lain, dan antara pemeluk satu agama dan pemeluk agama yang lain. Pemahaman Anda tentang sesuatu belum tentu sama dengan pemahaman orang lain. Dalam tataran intern sendiripun persepsi orang terhadap kebudayaan yang sama bisa beragam dan berubah.

Persepsi dan Krisis Eksistensial Manusia

Kehidupan manusia didominasi dengan sederet kisah tragis. Manusia terkondisi dengan persepsi untuk selalu mengejar kesenangan dan kebahagiaan yang semu, serba instant dan dangkal. Manusia terinfeksi penyakit nostalgia masa silam, sambil gamang menghadapi masa sekarang, dan gelisah akan masa depan. Selain itu, ia terus menerus hidup dalam aura panas persaingan produktifitas, prestasi, kepentingan politis dan ekonomi, yang memicu manusia mengambil jalan pintas, yang kerap brutal, illegal, immoral, dan berakibat fatal. Gempuran informasi yang mempesona serta tawaran pasar yang menjanjikan transformasi progresif kualitas hidup seringkali hanyalah ilusi dan simulasi. Karenanya manusia berhadapan dengan ambiguitas, dan ia sendiri akhirnya menjadi suatu yang ambigu. Itu sebabnya peradaban manusia pun rentan terjerembab ke dalam krisis eksistensial.

Krisis eksistensial peradaban muncul dalam simtom hilangnya nilai-nilai luhur dan mendasar dalam hidupnya. Manusia tak lagi mempunyai prioritas hidup; tak lagi mempunyai kriteria nilai serta tujuan; tak mempunyai harapan; dan tak berani mencari makna terdalam. Fenomena di atas antara lain disebabkan oleh “pendewaan” terhadap kerja. Dunia manusia menjadi begitu riuh, bising dan glamour dengan urusan bisnis dan kerja sehingga manusia pun terbelenggu secara eksistensial.

Sebagai sandera, individu digempur oleh kedangkalan epistemik, karikatur para elite politik berupa kebobrokan moral, gempuran media massa yang depthless, karnavalisasi praktik keagamaan, simulasi dan hipnotis televisi berupa peternakan artis, tontonan takhayul, infotainment kriminal, hiburan dangkal berupa gosip selebritis dan hiruk pikuk membunuh makna. Oleh karena itu individu terpojok ke kamar frigiditas empati dan terpasung oleh daya konsumen teatrikal.

Bahkan Josef Pieper seorang filosof dari Jerman, memakai mitos Sisifus, yaitu mitos yang mengilustrasikan realitas pergulatan eksistensial manusia dengan absurditas (Albert Camus), dengan kesia-siaan, sebagai analogi bahwa kerja merupakan rantai abadi yang mengikat manusia, tanpa manusia itu sendiri menkmati buah makna dari pekerjaannya.

Persepsi melawan Absurditas (nir Makna)

Pemahaman atau persepsi kita (disadari atau tidak, dikehendaki atau tidak) tidak lepas dari bentukan tradisi, sejarah, gambaran tentang identitas, pelbagai asumsi dan kepentingan tersembunyi serta tujuan tertentu.

Mencari esensi persepsi berarti menyatakan berarti menyatakan bahwa persepsi tidak diandaikan benar saja, tetapi merupakan jalan masuk kepada kebenaran. Berpersepsi atau mengamati sama dengan percaya pada dunia. Maksudnya, dunia adalah apa yang kita persepsi. Dunia, dalam pandangan Merleau Ponty, bukanlah dunia yang kita pikirkan, melainkan yang kita hayati. Kita senantiasa terbuka terhadap dunia, dan tidak dapat disangkal, kita berkomunikasi dengan dunia, tapi kita tidak memilikinya. Karena itu, dunia tidak dapat dikuasai sepenuhnya. Ada ‘Suatu Dunia’ atau lebih baik lagi ‘Dunia Ada’, bagi tesis tetap dalam hidup saya ini tak pernah dapat saya berikan alasan terdalam, tegas Merleau Ponty. Pikiran atau makna, menurut Merleau Ponty, tidak mendahului perkataan, tetapi terjelma dalam perkataan itu sendiri.

Peran Kesendirian dalam Pencarian Makna melalui Persepsi

Bahwa tak gampang memilah antara kenyataan dengan ilusi, kebenaran melebur dengan kenistaan, tirani menyatu dengan demokrasi, dan seterusnya. Waktu senggang adalah medan radikalisasi dan penajaman terhadap segala hal yang terpahami dan tak terpahami. Dalam waktu senggang, yang menjadi antenanya adalah sikap sunyi, sikap kontemplatif yang memungkinkan ketersingkapan Realitas (Being) bagi kita. Ia adalah sikap menerima, sikap kontemplatif, sikap yang tak hanya membiarkan segala peristiwa berlalu begitu saja, keberanian merogoh kedalaman di balik seluruh ciptaan. Waktu senggang adalah ranah yang membiarkan segala kesubtilan dan keganjilan realitas merenangi imajinasi atau membiarkan imajinasi bertualang mengumpulkan ide-ide, merumuskan penalaran, mengasah daya abstraksi, menajamkan intuisi. The Art of Silence.

Menurut Heidegger bahwa subjek membiarkan realitas Ada menjadi dirinya sendiri, tanpa mereduksinya ke dalam rumusan dan penalaran yang positif, agresif, posesif dan seringkali naïf. Dengan kata lain, pola berpikir demikian memperlihatkan keluasan kesadaran menggauli realitas, membiarkan pemikiran menampilkan pikiran itu sendiri (kesadaran baru ini penting dicermati oleh anggapan yang melihat kontemplasi sekadar sebagai pembacaan subjektif). Dengan itu, segala fenomena dan subjek masing-masing membuka diri, dan memberi peluang agar peristiwa tampil sendiri.

Individu mesti menyimak sekaligus bermain dengan tindakan, terhadap realitas yang biasanya merupakan riwayat kebencian, penderitaan, propaganda, tindakan licik, dan intrik politik yang keji dan serakah. Kesendirian yang mesti diisi dengan intuisi, imajinasi, emosi yang berbobot, kesunyian yang sarat makna dapat mengurai hal itu.

Pencarian Makna dalam Tradisi Islam

Kebenaran yang diakui dalam tradisi Islam merupakan kebenaran eksternal yang tidak mampu dipersepsi dengan posisi kita sebagai manusia. Maka dari itu tradisi berpikir dalam Islam adalah tradisi berpikir yang berpusat pada teks (logosentrisme), yaitu pengakuan teks al-Quran sebagai sumber kebenaran. Walaupun mempunyai satu kitab suci yang merupakan satu-satunya sumber kebenaran ternyata banyak perbedaan di kalangan umat Islam dalam rangka mencari makna tentang kebenaran itu.

Berkenaan dengan hal ini, Abid al-Jabiri mengklasifikasikannya menjadi tiga kelompok, yang masing-masing mengklaim metodenya sebagai yang paling benar dalam mencari makna kebenaran.

Kelompok pertama adalah kelompok yang berpola pikir model al-Bayani, menggunakan pola berpikir deduktif interpretatif. Didominasi oleh para ulama fiqih, ahli nahwu dan ahli kalam (teologi). Kelompok kedua menggunakan model al-Irfani, yaitu kelompok yang menggunakan asumsi bahwa yang ada (al-wujud) tidak hanya ada di alam manusia, terdapat yang ada (al-wujud) di luar tatanan rasional empirik. Untuk yang disebut terakhir ini hanya bisa ditempuh dengan epistemologi iman melalui latihan spiritual (riyadah). Kalangan ini merupakan representasi dari para ulama tasawuf. Kelompok terakhir adalah kelompok dengan model berpikir al-Burhani atau induktif empiris. Mereka adalah para filosof Muslim.

Nah, kalau kita ikuti paparan di atas ternyata ternyata untuk mencari hidup yang bermakna atau mencari kebenaran dalam hidup ternyata tidak sederhana. Dibutuhkan banyak cucuran keringat atau mungkin juga cucuran darah demi makna, sebagaimana yang bisa kita baca dalam literatur sejarah manusia. Tapi kita tidak boleh menyerah, karena walaupun singkat hidup adalah proses pencarian makna. Wallahu a’lam.

Kebebasan dan Kesadaran untuk “Hidup”


Claude Levi-Strauss (Filsuf Strukturalis) pernah melakukan perdebatan panas dengan Jean Paul Sartre (Filsuf Eksistensialis) seputar topik hakikat kebebasan dan kesadaran manusia. Berdasarkan teorinya, Levi-Strauss mengkritik filsafat eksistensialisme yang dibawa Sartre.
Dalam pandangan Sartre dan kaum eksistensialis lainnya, manusia dipandang sebagai subjek yang otonom, yang secara fundamental bebas berbuat dan menentukan pilihan. Manusia merupakan makhluk yang sadar akan dirinya sendiri. Dengan kata lain, ia sangat mengagungkan kebebasan dan pilihan individual.
Namun Levi-Strauss menegaskan bahwa manusia tidak sebebas dan seotonom seperti bayangan Sartre. Ia memang mengakui manusia sebagai individu yang sadar akan dirinya dan mampu membuat pilihan secara bebas. Tapi, dibalik itu, ada ‘struktur’ tertentu yang tanpa disadarinya menentukan pilihan tersebut.
Maka, menurut dia, tugas utama ilmu pengetahuan adalah menggali struktur terdalam di balik keputusan tersebut. Dengan demikian, Levi-Strauss seperti mau meniadakan posisi manusia sebagai subjek dan menempatkan ‘struktur terdalam’ sebagai sentral –pemikiran yang bertentangan sama sekali dengan Sartre. Menurut Levi-Strauss, dalam kehidupan pola pikir kita sebetulnya dikendalikan oleh sebuah struktur yang ada dalam diri kita. 
Kita beraktifitas dikendalikan oleh konsep agama, latarbelakang pendidikan, adat atau tradisi, atau mungkin identitas atau jabatan yang kita sandang. Kita hampir tidak pernah berpikir untuk melakukan apa yang sebetulnya ingin kita lakukan dan tidak melakukan apa yang sebetulnya tidak ingin kita lakukan. 
Takut dikatakan sebagai orang yang berdosa, khawatir dikatakan sebagai orang yang tidak berpendidikan, khawatir dikucilkan dari masyarakat, tidak berbudaya atau mungkin kita akan bertingkah laku sebagai sosok yang berkuasa, akan menderita kalau kekuasaan itu lepas dari diri kita. Kekaguman yang terpaksa pada seorang tokoh, karena kalau tidak, khawatir berdosa, kualat dan sebagainya. 
Hal-hal seperti itulah yang kemudian memberi bentuk pada kehidupan kita baik dalam tataran tingkah laku, pola pikir maupun perkataan. Atau kalau menurut istilah saya, orang yang tidak menemukan jati diri, belum mengetahui hakekat dirinya sendiri.
Orang yang sak karepe dewe, emoh diatur, itulah mungkin pernyataan-pernyataan yang bisa dialamatkan pada kaum eksistensialis. Ingin melakukan apa yang memang ingin dia lakukan, dan tidak ingin melakukan sesuatu yang memang tidak ingin dia lakukan. Memberi warna yang pekat pada ke’aku’annya. Tidak ingin terbebani oleh norma-norma atau aturan-aturan, pemberontak, anti kemapanan atau mungkin anti sosial. Seseorang yang hidup tanpa pretensi apapun.
Keinginan untuk bebas dan tidak diganggu atau terikat oleh orang lain pada akhirnya juga mencapai suatu titik ekstrem pada diri seorang Sartre ketika berusia 12 tahun. Dia secara sadar melepaskan diri dari adanya ‘liyan’ teragung, Tuhan sendiri. Bagi Sartre ABG, Tuhan adalah figur yang suka menghukum, mahatahu, dan ada di mana-mana, sehingga mampu melongok ke setiap sudut-sudut relung hatinya yang diliputi rasa bersalah. Ini jelas memuakkan. “Aku membutuhkan seorang Pencipta Semesta, namun orang memberikan daku seorang bos nomor wahid.” Sartre menyebut gaya Tuhan ‘sang polisi’ ini sebagai ‘kekurangajaran yang keterlaluan’. Ia bercerita,
Corak resignation (moving away from others) ini membuat Sartre menganggap Tuhan mengganggu kebebasan (freedom) dan kedamaian sempurnanya (perfect serenity). Tuhan adalah liyan yang ikut campur urusan pribadi, mengungkit kesalahan-kesalahannya hingga ia tidak punya tempat untuk melarikan diri. Merasa muak, Sartre pun menolak Tuhan pada usia semuda itu. Kelak, pemikirannya ini akan ia kembangkan dan formulasikan dalam filsafat eksistensialis-ateistiknya: manusia sungguh-sungguh bebas dan, atas nama kebebasan, Tuhan harus tidak ada karena adanya Tuhan menghambat kebebasan manusia!
Menyukai yang baik-baik dengan keadaan terpaksa kita akan terjerumus dalam strukturalisme. Jika bebas dan tak ada kendali kita akan memasuki pintu eksistensialisme. Pertarungan seperti di atas merupakan sesuatu yang jamak di kancah kajian filsafat.
Dalam realitas kehidupan, kita bertemu dengan banyak agama, ajaran filsafat maupun dengan ideologi yang ditujukan untuk memberikan tuntunan kepada kita dalam mengarungi kehidupan. Dalam pengarungan hidup itu kita tidak bisa melepaskan diri dari pertarungan nilai-nilai di atas.
Walaupun hal di atas menawarkan diri dan bertebaran, kita tetap tidak bisa mengetahui yang “sebenarnya” tentang diri kita dan dunia yang ada di sekeliling. Untuk itulah kita harus mengarusutamakan kesadaran dalam kehidupan, memahami sebanyak-banyaknya diri kita dan dunia. Agama, filsafat, ataupun ideologi tidak berperan banyak dalam hidup tanpa adanya kesadaran. Karena pengetahuan atau eksistensi tidak dapat benar-benar hadir. Semua disaring, semua ditafsir: kita tidak dapat melangkah keluar dari persepsi indra dan bahasa manusiawi. Jadi kalau ingin “hidup” kita harus memperluas kesadaran, memperluas persepsi indera dan bahasa manusiawi.